PROLOG. Akhir Desember di El Retiro
Akhir Desember di Madrid datang tanpa salju, tetapi dinginnya tetap terasa meresap hingga ke tulang. Udara kering, langit cepat gelap, dan cahaya senja seperti enggan bertahan lebih lama. Kota ini seolah memahami bahwa musim dingin bukan waktunya untuk tergesa.
Saya dan istri memasuki El Retiro Park pada sore hari, ketika matahari mulai condong dan bayangan pepohonan memanjang di atas tanah yang lembap. Jaket kami tertutup embun tipis. Nafas keluar pelan, membentuk asap kecil yang segera menghilang. Di taman itu, waktu seakan melambat—atau mungkin, kota sengaja memperlambatnya.
Kami duduk di sebuah bangku kayu menghadap danau. Airnya tenang, memantulkan warna langit Desember yang pucat kebiruan. Perahu-perahu kecil bergerak perlahan, dayungnya nyaris tak bersuara. Anak-anak berlarian dengan syal panjang berkibar, tertawa tanpa beban. Pasangan tua berjalan berdampingan, langkah mereka pendek namun pasti. Seorang musisi memainkan gitar klasik; nadanya rendah, hangat, dan terasa pas untuk sore yang dingin.
Saya memperhatikan kesibukan para pengunjung yang lalu lalang sejauh mata memandang. Banyak wajah, banyak cerita, banyak tujuan—tetapi tidak ada kegaduhan. Tidak ada kekacauan. Tidak ada ketegangan khas kota besar yang sedang kelelahan.
Yang paling mencolok justru adalah ketiadaan gangguan.
Di balik pepohonan taman, bus-bus kota melintas dengan ritme stabil. Lampu lalu lintas di kejauhan berubah warna tanpa terburu-buru. Tidak ada klakson bersahutan. Tidak ada suara mesin meraung. Kota ini jelas sibuk, tetapi seolah memilih untuk tidak berisik.
Saya menoleh ke istri, lalu kembali memandang danau. Sebuah pertanyaan muncul perlahan, nyaris seperti bisikan:
Bagaimana kota sebesar Madrid bisa bergerak dengan ketenangan seperti ini? Siapa yang mengatur ritme yang begitu rapi, begitu manusiawi?
Jawabannya tidak terlihat di Retiro. Ia tersembunyi di balik layar kota: pada sensor kecil yang tertanam di jalan, kamera yang tak pernah berkedip, pusat kendali lalu lintas yang bekerja tanpa henti, dan algoritma yang belajar dari setiap pergerakan manusia. Jawaban itu bernama ITS — Intelligent Transport System.
Sore itu, tanpa saya sadari, saya sedang duduk di sebuah kota yang mendengarkan.
Ketika Kota Kehabisan Nafas

Tidak selalu seperti ini. Madrid, seperti banyak kota besar lainnya, pernah berada di ambang kelelahan.
Sebagai kota tua dengan pusat sejarah yang padat, Madrid tidak memiliki ruang untuk memperlebar jalan seenaknya. Ketika jumlah kendaraan meningkat, kemacetan menjadi bagian dari keseharian. Lampu lalu lintas bekerja dengan waktu tetap, tanpa peduli hujan, kabut, atau lonjakan wisatawan. Polisi lalu lintas mengatur arus dengan intuisi dan pengalaman, tetapi manusia memiliki batas.
Musim dingin memperparah keadaan. Hari lebih pendek. Jarak pandang menurun. Orang bergerak lebih lambat, tetapi kendaraan tetap memaksa bergerak cepat. Kecelakaan meningkat. Waktu terbuang. Emosi menumpuk.
Di titik inilah kota mulai menyadari sesuatu yang mendasar:
Masalahnya bukan kekurangan infrastruktur, melainkan kurangnya pemahaman.
Kota tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya sendiri.
Kesadaran ini tidak hanya muncul di Madrid. Kota-kota besar dunia sampai pada kesimpulan yang sama. Studi global menunjukkan bahwa membangun jalan baru tidak otomatis mengurangi kemacetan; justru sering kali menambahnya. Kota membutuhkan kecerdasan, bukan sekadar beton.
Dari sinilah sebuah pendekatan baru lahir—bukan teknologi untuk pamer, tetapi teknologi untuk memahami.
ITS: Ketika Kota Memiliki Indera
ITS — Intelligent Transport System bukanlah satu alat, melainkan sebuah ekosistem. Ia adalah cara kota memperoleh indera—melihat, mendengar, dan merespons.
Di Madrid, ITS bekerja seperti tubuh manusia.
Sensor di jalan dan persimpangan menjadi mata kota. Mereka menghitung kendaraan, membaca kecepatan, dan mengenali kepadatan. Kamera cerdas menjadi penglihatan jarak jauh, mampu mendeteksi kecelakaan, kendaraan berhenti mendadak, atau pola pergerakan yang tidak biasa.
Semua data ini mengalir ke Traffic Management Center, pusat kendali lalu lintas yang berfungsi sebagai otak kota. Di ruangan ini, layar-layar besar menampilkan denyut Madrid secara real time. Algoritma mempelajari pola harian, mingguan, hingga musiman—termasuk lonjakan khas akhir Desember.
Lampu lalu lintas tidak lagi bekerja berdasarkan jam mati. Ia menjadi organ adaptif. Ketika arus kendaraan meningkat di satu arah, lampu hijau bertahan lebih lama. Ketika pejalan kaki membludak—terutama lansia di musim dingin—waktu menyeberang diperpanjang. Ketika bus mendekat, sistem memberi prioritas agar transportasi publik tidak terhambat.
Sore di El Retiro itu, saya melihat hasil akhirnya: kota yang teratur tanpa terasa kaku. ITS bekerja seperti dirigen orkestra, memastikan setiap elemen—mobil, bus, sepeda, pejalan kaki—masuk pada waktu yang tepat.
Incident Management: Kota yang Bertindak Sebelum Panik
Beberapa hari kemudian, saat kami berjalan menuju pusat kota, sebuah mobil berhenti mendadak di salah satu jalan utama. Di banyak kota, kejadian seperti ini cukup untuk memicu kekacauan kecil. Klakson bersahutan. Emosi naik. Kemacetan menjalar.
Namun di Madrid, semuanya berlangsung berbeda.
Dalam hitungan detik, kamera ITS mendeteksi anomali. Sistem Incident Management—manajemen insiden—langsung aktif. Informasi mengalir ke pusat kendali. Lampu lalu lintas di sekitar lokasi disesuaikan. Arus kendaraan dialihkan secara halus. Petugas lapangan dikirim sebelum kemacetan tumbuh.
Kami hampir tidak menyadari ada masalah.
Inilah kekuatan ITS yang sesungguhnya: bukan menghilangkan insiden, tetapi mencegah kepanikan.
Bagi warga, manfaatnya terasa nyata. Perjalanan tetap lancar. Stres tidak menumpuk. Bagi pemerintah kota, gangguan kecil tidak berkembang menjadi krisis. Bagi lingkungan, kendaraan tidak terjebak dalam kemacetan panjang yang menghasilkan emisi berlebih.
ERP: Mengatur dengan Adil, Bukan Menghukum
Di pusat Madrid, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, jumlah kendaraan melonjak tajam. Di sinilah ERP — Electronic Road Pricing memainkan perannya.
ERP adalah sistem penetapan tarif jalan elektronik yang bekerja otomatis melalui kamera dan sensor. Tarif disesuaikan dengan waktu dan zona, mendorong warga mempertimbangkan pilihan mobilitas mereka. Tujuannya bukan menghukum, melainkan mengelola ruang kota yang terbatas secara adil.
Sebagai pejalan kaki, saya merasakan dampaknya langsung. Udara lebih bersih. Jalan lebih lengang. Kota memberi ruang bagi manusia.
Di sini hubungan ITS dan ERP menjadi jelas. ITS membaca kondisi secara real time. ERP menerjemahkannya menjadi kebijakan. Satu mengamati, satu mengarahkan. Keduanya menjaga keseimbangan kota.
Smart City: Ketika Sistem Berbicara Satu Bahasa
Smart City bukan tentang gedung futuristik atau layar digital di setiap sudut. Smart City adalah integrasi.
Di Madrid, ITS terhubung dengan sistem energi, keamanan, lingkungan, dan layanan darurat. Ketika sensor kualitas udara mendeteksi peningkatan polusi, arus lalu lintas disesuaikan. Ketika ada acara besar, transportasi publik diperkuat. Ketika cuaca memburuk, kota bersiap.
Inilah perwujudan nyata dari ESG — Environmental, Social, Governance. Lingkungan dijaga karena emisi berkurang. Aspek sosial membaik karena keselamatan meningkat. Tata kelola menguat karena keputusan diambil berbasis data.
Teknologi di sini bukan tujuan, melainkan sarana untuk menjaga martabat hidup manusia.
Kota, Warga, dan Ritme yang Baru
Pada malam-malam akhir Desember, Madrid dipenuhi cahaya Natal. Jalan-jalan ramai, tetapi tetap tertib. Transportasi publik berjalan lancar. Polisi tidak sibuk mengurai kekacauan, melainkan mengawasi dengan tenang.
Saya dan istri berjalan pulang dari Retiro dengan langkah ringan. Kota ini tidak terasa seperti mesin raksasa yang dingin. Ia terasa seperti organisme hidup yang peka terhadap warganya.
Dan saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi penting:
ITS bukan tentang teknologi. ITS adalah tentang empati.
Ia adalah cara kota mendengarkan manusia—kelelahannya, kebutuhannya, dan harapannya.
Kota yang Mendengarkan, dan Sebuah Harapan
Malam itu, ketika kami meninggalkan El Retiro, udara semakin dingin, tetapi Madrid justru terasa hangat. Lampu kota menyala satu per satu, bukan dengan silau, melainkan dengan ketenangan yang terukur.
Di momen itu, sebuah harapan pelan muncul—bukan sebagai perbandingan, bukan sebagai tuntutan, melainkan sebagai kemungkinan.
Bagaimana jika suatu hari, pendekatan seperti ini juga bisa diterapkan di kota-kota lain, termasuk Jakarta? Bukan untuk menjadikannya Madrid, tetapi untuk membantunya menemukan ritme sendiri—ritme yang lebih aman, lebih adil, dan lebih manusiawi.
Madrid tidak memberi saya jawaban besar tentang masa depan kota-kota dunia. Ia hanya memberi contoh sederhana namun kuat:
bahwa kota yang paling maju bukanlah kota yang paling cepat, melainkan kota yang paling mampu mendengarkan.
REFERENSI
- European Commission (2023) Intelligent Transport Systems: European Deployment Plan – 2023 Update. Brussels: European Commission Directorate-General for Mobility and Transport.
- International Transport Forum (OECD) (2024) Global Status of Intelligent Transportation Systems. Paris: OECD Publishing.
- World Bank (2023) Urban Mobility Pricing: Road Charging and Smart Traffic Management. Washington, DC: World Bank Group.
- World Economic Forum (2023) Smart Cities and Inclusive Growth: Digital Mobility for Sustainable Urban Futures. Geneva: World Economic Forum.
- UN-Habitat and UNDP (2024) ESG and Urban Infrastructure: Building Smart and Sustainable Cities. Nairobi: United Nations Human Settlements Programme.