EV, Battery, dan Transformasi Ekonomi serta Digital Economy Global
Judul When Battery Becomes the New Oil lahir dari refleksi historis yang semakin mendapatkan pembenaran empiris. Pada abad ke-20, minyak bumi bukan sekadar sumber energi, melainkan fondasi utama kekuasaan ekonomi global. Ia menentukan arah industrialisasi, stabilitas geopolitik, serta struktur korporasi terbesar dunia. Memasuki abad ke-21, pusat gravitasi itu bergeser menuju battery (baterai)—teknologi penyimpanan energi yang menopang electric vehicle (EV/kendaraan listrik), energi terbarukan, dan digital economy (ekonomi berbasis data dan platform digital).
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Daniel Yergin, sejarawan energi terkemuka dan peraih Pulitzer Prize yang dikenal luas melalui karyanya tentang sejarah minyak dan energi global. Yergin menekankan bahwa setiap perubahan besar dalam teknologi energi selalu mengubah struktur kekuasaan ekonomi dunia. Kutipan dan kerangka berpikirnya penting karena memberikan konteks sejarah jangka panjang, sehingga transisi menuju baterai tidak dilihat sebagai tren teknologi sesaat, melainkan sebagai pergeseran rezim ekonomi.
Artikel ini mengulas transformasi tersebut secara analitis dan naratif, menempatkannya dalam lintasan sejarah, membedah dua studi kasus global—China melalui CATL dan Amerika Serikat melalui Tesla—serta menarik implikasi strategis bagi Indonesia yang saat ini berada pada momen krusial dalam rantai nilai EV dan battery global.
Oil Economy and Global Power Structures — Minyak dan Arsitektur Kekuasaan Abad ke-20

Selama lebih dari satu abad, minyak bumi menjadi mesin utama ekonomi global. Setelah Revolusi Industri tahap kedua, minyak menggantikan batu bara karena kepadatan energinya tinggi, fleksibel penggunaannya, dan efisien untuk transportasi massal. Industri otomotif, penerbangan, logistik global, hingga sistem pertahanan modern bergantung pada minyak. Negara dan korporasi yang menguasai cadangan minyak serta jalur distribusinya memperoleh pengaruh ekonomi dan geopolitik yang luar biasa.
Nilai pasar energi fosil global pada puncaknya mencapai lebih dari USD 4–5 triliun per tahun, dengan struktur rantai nilai yang linear: upstream (eksplorasi dan produksi), midstream (transportasi dan penyimpanan), serta downstream (pengolahan dan distribusi). Dalam sistem ini, keunggulan kompetitif ditentukan oleh kepemilikan sumber daya dan kontrol geografis, sementara data dan perangkat lunak hampir tidak berperan dalam penciptaan nilai.
Kerangka ini dikritisi oleh Jeremy Rifkin, seorang pemikir ekonomi dan teknologi yang banyak membahas hubungan antara energi, teknologi, dan struktur sosial. Rifkin melihat oil economy sebagai sistem yang terpusat dan hierarkis, sehingga sulit beradaptasi dengan dunia yang semakin terdesentralisasi dan digital. Pandangan Rifkin relevan untuk menjelaskan mengapa model ekonomi berbasis minyak mulai kehilangan daya jelajah strategisnya.
Battery as the New Strategic Commodity — Dari Minyak ke Battery–Energy–Data Economy
Baterai memiliki karakter ekonomi yang sangat berbeda dari minyak. Minyak adalah sumber energi yang dibakar sekali pakai, sedangkan baterai adalah teknologi penyimpanan dan pengelolaan energi. Nilai baterai tidak hanya berasal dari material seperti litium atau nikel, tetapi dari teknologi sel (battery cell technology), keamanan, umur pakai (cycle life, yaitu jumlah siklus isi–pakai baterai), dan integrasi dengan software (perangkat lunak).
Secara pasar, skala ekonomi EV dan baterai tumbuh sangat cepat.
Tabel 1. Nilai Pasar EV Car (Kendaraan Listrik)
Sebelum tabel ini, penting dipahami bahwa EV kini bergerak dari niche market menuju pasar utama industri otomotif global.
| Wilayah | Saat Ini (±2024/2025) | Proyeksi 2030 | Proyeksi 2045 |
| Dunia | ± USD 900 miliar | ± USD 2,5–3 triliun | ± USD 5–6 triliun |
| Asia | ± USD 500 miliar | ± USD 1,5 triliun | ± USD 3,5 triliun |
| ASEAN | ± USD 50 miliar | ± USD 220 miliar | ± USD 600 miliar |
| Indonesia | ± USD 5–7 miliar | ± USD 35–45 miliar | ± USD 120–150 miliar |
Tabel ini menunjukkan bahwa EV bukan sekadar pengganti mobil konvensional, melainkan pasar transportasi utama masa depan, terutama di Asia dan ASEAN yang memiliki pertumbuhan kelas menengah tinggi.
Namun nilai yang lebih strategis berada pada baterainya.
Tabel 2. Nilai Pasar EV Battery (Baterai Kendaraan Listrik)
Tabel ini menegaskan pergeseran pusat nilai dari kendaraan ke baterai sebagai “mesin ekonomi” baru.
| Wilayah | Saat Ini (±2024/2025) | Proyeksi 2030 | Proyeksi 2045 |
| Dunia | ± USD 180–200 miliar | ± USD 500–600 miliar | ± USD 1,2–1,5 triliun |
| Asia | ± USD 120 miliar | ± USD 350 miliar | ± USD 900 miliar |
| ASEAN | ± USD 15 miliar | ± USD 90 miliar | ± USD 250 miliar |
| Indonesia | ± USD 3–4 miliar | ± USD 25–30 miliar | ± USD 80–100 miliar |
Makna strategis tabel ini adalah bahwa nilai ekonomi jangka panjang lebih terkonsentrasi pada baterai dan sistem energi dibandingkan kendaraan itu sendiri.
Pergeseran ini sejalan dengan pandangan Azeem Azhar, seorang analis teknologi global yang menulis tentang exponential age. Azhar menekankan bahwa nilai ekonomi terbesar dalam era eksponensial berpindah ke lapisan teknologi inti dan platform, bukan sekadar produk akhir.
Case Study Global #1 — China & CATL: Industrial Policy, Scale, dan Learning Curve
China membaca peluang baterai lebih awal dibanding negara lain. Battery ditempatkan sebagai pilar industrial policy (kebijakan industri nasional). Dalam konteks ini, CATL berkembang sebagai pemain kunci global.
China menciptakan permintaan domestik EV melalui subsidi dan regulasi emisi. Skala pasar ini memungkinkan CATL menurunkan biaya dan meningkatkan teknologi melalui learning curve—konsep bahwa biaya produksi turun seiring meningkatnya volume dan pengalaman.
Tabel 3. Posisi China dan CATL dalam Ekonomi Battery Global
Tabel ini membantu memahami mengapa China menjadi pusat manufaktur baterai dunia.
| Indikator | China / CATL |
| Pangsa pasar EV battery global | >35% |
| Kapasitas produksi tahunan | >300 GWh |
| Fokus strategi | Skala, biaya, teknologi |
| Dukungan kebijakan | Sangat kuat & terintegrasi |
Tabel ini menegaskan bahwa dominasi CATL bukan kebetulan pasar, melainkan hasil orkestrasi kebijakan dan strategi industri jangka panjang.
Case Study Global #2 — United States & Tesla: EV, Software, dan Platform Economy
Amerika Serikat menempuh jalur berbeda. Tesla memandang EV sebagai platform teknologi, bukan sekadar produk otomotif. Kendaraan Tesla adalah software-defined vehicle, yaitu kendaraan yang kemampuannya dapat ditingkatkan melalui pembaruan perangkat lunak jarak jauh (over-the-air update).
Battery dalam ekosistem Tesla berfungsi sebagai node energi dan data, terintegrasi dengan layanan penyimpanan energi rumah tangga dan skala utilitas.
Tabel 4. Perbandingan Model Nilai CATL vs Tesla
Tabel ini menunjukkan dua pendekatan berbeda menuju dominasi ekonomi baterai.
| Dimensi | CATL (China) | Tesla (Amerika Serikat) |
| Fokus utama | Manufaktur & biaya | Software & platform |
| Peran battery | Produk inti industri | Infrastruktur energi & data |
| Sumber nilai | Skala & efisiensi | Ekosistem & network effect |
Makna utama tabel ini adalah bahwa tidak ada satu jalur tunggal untuk menang, tetapi keduanya menegaskan pentingnya penguasaan sistem.
Indonesia’s Market Opportunity — Peluang Indonesia dalam EV & Battery Economy
Indonesia memiliki modal awal besar berupa cadangan nikel terbesar di dunia. Nikel adalah material penting untuk baterai EV jarak jauh. Kebijakan hilirisasi (pengolahan sumber daya di dalam negeri) merupakan langkah awal yang tepat.
Namun sejarah oil economy memberikan peringatan bahwa negara kaya sumber daya sering terjebak di level bahan mentah.
Tabel 5. Skenario Posisi Indonesia dalam Rantai Nilai EV & Battery
Tabel ini memperjelas pilihan strategis Indonesia.
| Posisi | Nilai Ekonomi | Risiko | Implikasi |
| Upstream (tambang) | Rendah | Commodity trap | Tidak berkelanjutan |
| Midstream (olah) | Menengah | Margin terbatas | Transisi |
| Downstream (cell & EV) | Tinggi | Investasi besar | Lompat kelas |
| Circular battery economy (daur ulang & reuse) | Sangat tinggi | Teknologi kompleks | Ketahanan jangka panjang |
Battery sebagai Fondasi Ekonomi Global Berikutnya
Minyak membentuk abad ke-20. Baterai membentuk abad ke-21. Namun berbeda dari minyak, baterai membawa dimensi baru berupa digitalisasi, platform, dan data. China dan Amerika Serikat menunjukkan dua jalur berbeda, tetapi satu pesan yang sama: menguasai sistem lebih penting daripada sekadar memiliki sumber daya.
Bagi pemimpin korporasi, investor, dan pembuat kebijakan, EV dan baterai bukan sekadar pasar baru, melainkan fondasi ekonomi global berikutnya. Bagi Indonesia, momen ini adalah peluang historis yang jarang terjadi untuk melompat dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis nilai dan sistem.
Referensi
- The Prize, Daniel Yergin, Free Press, 1991. The Third Industrial Revolution, Jeremy Rifkin, Palgrave Macmillan, 2011.
- World Energy Outlook, International Energy Agency (IEA – International Energy Agency), IEA Publications, 2019.
- The Exponential Age, Azeem Azhar, PublicAffairs, 2021.
- Digital Economy Outlook, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD – Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), OECD Publishing, 2023.
- Battery Price Survey, BloombergNEF (Bloomberg New Energy Finance), Bloomberg Finance L.P., 2024. World Energy Outlook, International Energy Agency (IEA), IEA Publications, 2024.
- Peta Jalan Kendaraan Listrik Nasional, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2024.
- Indonesia Energy Transition Outlook, Institute for Essential Services Reform (IESR), 2025.