Martin Nababan – Como adalah sebuah kota kecil di utara Italia, sekitar satu jam dari Milan. Kota ini berdiri di tepi Danau Como, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu lanskap paling indah di Eropa. Banyak orang datang ke sini bukan untuk mencari keramaian, tetapi untuk menemukan jeda—tempat di mana waktu terasa berjalan lebih pelan.
Di pagi hari, permukaan danau terlihat seperti kaca yang hampir tidak bergerak. Perahu kecil melintas tanpa suara, kafe mulai membuka kursinya, dan orang-orang berjalan tanpa tergesa, seolah tidak ada yang perlu dikejar. Como tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tetapi justru karena itu ia terasa lengkap.
Namun tidak jauh dari keindahan itu, ada cerita lain yang sempat nyaris hilang. Stadio Giuseppe Sinigaglia berdiri di dekat danau, dan untuk waktu yang cukup lama, stadion itu lebih sering diingat karena kesunyiannya. Di sanalah Como 1907 bermain—dan di sanalah terlihat bahwa sebuah kota bisa tetap indah, meski klubnya sedang kehilangan arah.

Masalah Como tidak pernah hanya soal pertandingan. Dalam satu dekade, klub ini mengalami dua kali kebangkrutan dan terlempar hingga ke Serie D, level yang berada di luar struktur profesional utama sepak bola Italia. Ini bukan sekadar penurunan performa, tetapi kehilangan kepercayaan yang jauh lebih dalam.
Di kota kecil seperti Como, sepak bola bukan hanya olahraga. Ia adalah bagian dari identitas kota, menggerakkan restoran kecil di sekitar stadion, mengisi kamar hotel di akhir pekan, dan menjadi alasan orang berkumpul. Ketika klub melemah, yang ikut meredup bukan hanya permainan di lapangan, tetapi juga denyut sosial dan ekonomi kota.
Di titik itulah cerita mulai berubah.
Melihat Potensi di Tempat yang Hampir Ditinggalkan

Pada 2019, keluarga Hartono—pemilik Djarum Group dari Indonesia—mengambil alih Como melalui entitas yang terhubung dengan SENT Entertainment dan Mola. Nilai akuisisinya sekitar €850.000, atau setara Rp14–15 miliar. Dalam konteks sepak bola Eropa, angka ini sangat kecil, hampir tidak terlihat.
Namun justru angka itu mencerminkan sesuatu yang lebih penting. Como pada saat itu bukan lagi klub yang dilihat sebagai peluang oleh pasar. Ia adalah aset yang kehilangan momentum, dan dalam banyak kasus, akan dilewati begitu saja.
Pendekatan keluarga Hartono berbeda. Mereka tidak melihat Como dari kondisinya saat itu, tetapi dari apa yang bisa dibangun ke depan. Mereka tidak membeli kejayaan, tetapi membangun kemungkinan.
Menempatkan Orang yang Memahami Konteks, Bukan Hanya Sistem

Untuk menjalankan transformasi tersebut, mereka menunjuk Mirwan Suwarso. Ia bukan figur sepak bola klasik yang tumbuh dari sistem Eropa, melainkan eksekutif yang memiliki pengalaman panjang di dunia media dan olahraga. Ia terbiasa membangun audiens, mengelola cerita, dan memahami bagaimana sebuah entitas hidup di tengah masyarakat.
Mirwan melihat Como bukan hanya sebagai tim, tetapi sebagai ekosistem. Ia memahami bahwa klub ini harus kembali diterima oleh kota sebelum bisa berkembang secara bisnis. Dari sinilah pendekatan yang diambil menjadi lebih menyeluruh.
Kelebihan utamanya bukan hanya pada strategi, tetapi pada cara membaca situasi. Ia tidak memulai dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang perlu diperbaiki terlebih dahulu.
Memulai dari Hal yang Tidak Terlihat
Langkah awal Como tidak dimulai dari transfer besar atau perubahan yang mencolok. Yang dilakukan justru menyentuh hal-hal mendasar yang sering diabaikan. Kewajiban lama diselesaikan, hubungan dengan berbagai pihak diperbaiki, dan komunikasi dibangun kembali.
Pendekatan ini membutuhkan kesabaran. Dalam organisasi yang pernah gagal, kepercayaan tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Ia hanya bisa tumbuh melalui konsistensi.
Dalam konteks budaya, pendekatan ini memiliki kesamaan dengan konsep kulonuwun. Masuk dengan menghormati, bukan mendominasi. Dan justru dari pendekatan inilah, fondasi perubahan mulai terbentuk.
Strategi yang Dirancang, Bukan Sekadar Dijalankan

Setelah fondasi kepercayaan mulai terbentuk, Como tidak bergerak secara agresif. Mereka memilih ritme yang terjaga, memastikan setiap langkah memiliki arah yang jelas. Ini bukan sekadar proses alami, tetapi strategi yang sengaja dirancang.
Perjalanan mereka terlihat jelas. Dari Serie D pada 2019, Como naik ke Serie C, lalu Serie B, dan akhirnya mencapai Serie A pada 2024 setelah lebih dari dua dekade absen. Dalam konteks sepak bola Italia, ini adalah progres yang relatif cepat, tetapi tetap terasa stabil.
Yang membedakan bukan hanya hasilnya, tetapi cara mereka mencapainya. Tidak ada lonjakan yang dipaksakan, tetapi ada konsistensi yang dijaga.
Ketika Kepercayaan Kembali Terlihat dalam Angka

Perubahan mulai terlihat dari indikator yang sederhana. Stadion yang sebelumnya hanya diisi sekitar dua hingga tiga ribu penonton kini mulai penuh kembali. Pada musim 2024–2025, rata-rata kehadiran mencapai sekitar 10.000 hingga 10.500 penonton per pertandingan.
Angka ini bukan hanya statistik. Ia adalah refleksi dari kepercayaan yang kembali. Ketika orang kembali datang, itu berarti mereka kembali percaya.
Dampaknya langsung terasa pada kota. Aktivitas ekonomi meningkat, restoran dan hotel kembali ramai, dan klub kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Membangun Model Bisnis dari Identitas Lokal

Di luar lapangan, Como tidak hanya fokus pada performa tim. Mereka membangun model bisnis yang terhubung dengan identitas kota melalui program Como4Como, bekerja sama dengan industri sutra lokal yang sudah lama menjadi ciri khas Como.
Pendekatan ini membuat Como tidak sekadar menjual merchandise, tetapi membawa cerita dan karakter kota ke dalam setiap produk. Dampaknya, klub memiliki diferensiasi yang kuat, sementara ekonomi lokal ikut bergerak karena terhubung langsung dengan aktivitas sepak bola.
Bagi keluarga Hartono, ini memperluas makna investasi. Como bukan hanya klub, tetapi platform bisnis yang menghubungkan olahraga, budaya, dan pariwisata—menciptakan nilai yang tidak hanya bergantung pada hasil pertandingan.
Dari Klub ke Platform Pariwisata
Ketika Como kembali ke Serie A, eksposur klub meningkat drastis. Liga ini disiarkan ke lebih dari 100 negara, membawa nama Como ke audiens global. Klub yang sebelumnya hampir tidak terlihat kini mulai masuk dalam percakapan yang lebih luas.
Namun yang menarik, pertumbuhan ini tidak mengubah identitas mereka. Justru sebaliknya, identitas lokal menjadi daya tarik utama. Orang datang bukan hanya untuk menonton pertandingan, tetapi untuk merasakan kota.
Di titik ini, sepak bola menjadi pintu masuk bagi pariwisata. Como tidak hanya menjual pertandingan, tetapi pengalaman.
Leadership yang Tenang, Tapi Terarah
Di balik semua ini, ada gaya kepemimpinan yang tidak berisik. Tidak ada kebutuhan untuk terlihat hebat dalam waktu singkat. Keputusan diambil dengan tenang, tetapi konsisten.
Pendekatan ini terlihat sederhana, tetapi dibangun dengan disiplin yang tinggi. Dalam dunia yang sering mengejar kecepatan, memilih bergerak lebih tenang justru menjadi keputusan yang strategis—karena memberi ruang bagi kepercayaan untuk tumbuh
Dan justru di situlah kekuatannya. Karena perubahan yang dibangun dengan cara ini cenderung lebih bertahan.
Visi yang Lebih Besar dari Sepak Bola
Jika dilihat lebih dalam, Como tidak hanya dibangun sebagai klub. Ia sedang dibentuk sebagai platform yang menghubungkan olahraga, bisnis, budaya, dan pariwisata. Ini adalah visi yang jauh lebih luas dari sekadar promosi ke Serie A.
Setiap langkah yang diambil mengarah ke sana. Dari memperbaiki hubungan lokal hingga membangun eksposur global, semuanya terhubung dalam satu arah yang sama.
Dan dari sinilah terlihat bahwa Como bukan hanya proyek olahraga. Ia adalah proyek pembangunan ekosistem.
Penutup
Cerita Como pada akhirnya bukan tentang seberapa cepat sebuah klub bisa kembali ke puncak. Ini tentang bagaimana sebuah kepercayaan yang pernah hilang dibangun kembali, sedikit demi sedikit, tanpa perlu banyak suara.
Pendekatan yang diambil tidak selalu terlihat menarik di awal. Tidak ada lonjakan yang memaksa perhatian, tidak ada keputusan yang dibuat untuk terlihat spektakuler. Yang ada justru konsistensi dalam hal-hal kecil, yang dijaga cukup lama hingga mulai membentuk sesuatu yang lebih besar.
Mungkin di situlah makna “diplomasi sunyi dari Timur” benar-benar terasa. Bukan soal asalnya, tetapi tentang cara bekerja—tenang, bertahap, dan menghargai proses yang sering diabaikan.
Dalam dunia yang terbiasa mengukur keberhasilan dari kecepatan dan skala, Como menawarkan perspektif yang berbeda. Bahwa pertumbuhan tidak selalu harus terlihat cepat untuk menjadi berarti, dan tidak semua perubahan besar perlu dimulai dengan langkah yang besar.
Karena pada akhirnya, yang membuat sesuatu benar-benar bertahan bukanlah seberapa tinggi ia pernah naik. Tetapi seberapa dalam ia kembali dipercaya— dan seberapa konsisten ia menjaga kepercayaan itu, bahkan ketika tidak ada yang melihat.