Categories Culture

Everyone Falls in Love Here: Malioboro, Tempat Kita Belajar Mencintai Suasana

Martin Nababan – Tulisan ini menutup perjalanan yang dimulai dari Pause, Recharge, Move On dan berlanjut ke Slow Down, Pulang dengan Makna. Jika dua artikel sebelumnya berbicara tentang keberanian berhenti dan kesediaan melambat, maka kisah terakhir ini lahir dari kebiasaan yang paling sederhana: berjalan kaki di pagi hari, tanpa target, tanpa ambisi, hanya memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya.

Selama berada di Yogyakarta, saya dan istri menyempatkan diri berjalan pagi di sekitar Malioboro setiap Senin dan Selasa, sekitar pukul 05.30 hingga 07.30. Waktu yang terasa pas—ketika kota baru bangun, namun belum tergesa oleh ritme siang. Udara masih bersih, cahaya matahari jatuh pelan di trotoar, dan suara langkah kaki terdengar lebih jujur daripada deru kendaraan.

Kami berjalan santai, tanpa rute pasti. Dan justru di situlah Malioboro memperlihatkan dirinya yang paling manusiawi.

When the City Wakes Up: Malioboro Pagi dan Rasa Bebas yang Tertata

Malioboro pagi hari adalah ruang bersama yang hidup. Di sepanjang jalan, ada keluarga yang bersiap berfoto mengenakan busana khas Yogya—beberapa membawa koper kecil berisi berbagai set pakaian, berganti-ganti gaya dengan penuh semangat. Ada komunitas yang berkumpul untuk jalan pagi, berbincang ringan sambil melangkah. Ada pelari yang lewat cepat, ada pula yang memilih berjalan perlahan sambil mengatur napas.

Yang menarik, semua itu terjadi tanpa saling mengganggu. Setiap orang seolah paham batasnya sendiri. Di sela-sela itu, para jurufoto independen terlihat bertebaran. Mereka memotret siapa saja yang melintas—berjalan, berlari, tertawa—lalu menawarkan hasilnya dengan sopan. Foto-foto tersebut bisa diakses melalui aplikasi seperti Fotoyu dan layanan serupa. Tidak ada paksaan. Tidak ada kebisingan. Semua terasa alami.

Di momen seperti ini, saya teringat pemikiran John Urry, yang menjelaskan bahwa pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh tempat, tetapi oleh cara kita memandang dan dipandang dalam ruang sosial. Pagi di Malioboro membuat tourist gaze itu terasa setara. Tidak ada pusat perhatian tunggal. Semua orang adalah bagian dari pemandangan, dan pemandangan itu hidup karena kehadiran mereka.

Kebebasan yang terasa di sini bukan kebebasan tanpa aturan, melainkan kebebasan yang lahir dari kesepakatan sosial. Ruang publik ini memberi rasa aman, bukan karena dijaga secara ketat, tetapi karena dihuni dengan kesadaran bersama.

Coffee, Time, and Memory: Pagi yang Melambat di Bakery & Shop Djoen Lama

Setelah berjalan, kami hampir selalu mengakhiri pagi dengan mampir ke Bakery & Shop Djoen Lama, sebuah kedai kopi dan roti yang berdiri sejak 1935. Tempat ini tidak perlu menjelaskan dirinya. Aroma roti, kopi yang diseduh tanpa tergesa, dan interior yang seolah menolak berubah oleh waktu, membuat pagi melambat dengan sendirinya.

Duduk di sana terasa seperti kembali ke masa ketika pagi tidak diukur oleh agenda dan notifikasi, melainkan oleh percakapan dan jeda. Pengunjung datang dari berbagai generasi. Ada yang membawa kenangan masa kecil, ada yang baru pertama kali datang, ada pula yang kembali karena rindu rasa yang sama. Mereka sarapan, berfoto, bercerita, tertawa. Hampir semuanya tersenyum.

Di sini saya teringat pada gagasan Dean MacCannell, yang menulis bahwa wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari tempat, tetapi mencari authentic experience. Bakery & Shop Djoen Lama menghadirkan keaslian itu tanpa harus mengatakannya. Ia tidak menjual nostalgia secara agresif; ia membiarkan kenangan datang sendiri, lewat rasa dan suasana.

Di momen ini, saya merasakan bentuk healing yang paling jujur. Tidak ada ritual khusus, tidak ada klaim besar. Hanya kopi, roti, dan waktu yang tidak tergesa. Bahkan ketika kembali ke hotel, saya membeli beberapa roti dari sini untuk dibawa pulang. Setelah beberapa hari menikmati sarapan hotel yang menunya berganti namun rasanya terasa mirip, roti dari Djoen Lama justru memberi kejutan kecil yang menyenangkan. Agak lucu memang—kadang yang kita cari bukan kemewahan, melainkan kejujuran rasa.

Small Insights from a Long Walk: Kota, Inovasi, dan Napas yang Dijaga

Jalan pagi di Malioboro perlahan memberi saya berbagai insight. Salah satu yang paling kuat adalah soal pembaruan. Malioboro terasa selalu hidup dan update. Pengunjung bisa datang berkali-kali, namun tetap menemukan sesuatu yang baru. Bukan perubahan drastis, melainkan pembaruan kecil yang konsisten.

Hal ini tentu tidak terjadi secara kebetulan. Ia membutuhkan ide kreatif dari banyak pihak—pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga warga. Pembaruan yang baik tidak menghapus identitas lama, tetapi merawatnya sambil memberi ruang tumbuh. Malioboro tidak kehilangan jiwanya justru karena ia mau beradaptasi.

Refleksi ini terasa sangat dekat dengan dunia organisasi dan perusahaan. Setiap tahun kita jalani. Jika tidak ada hal baru yang memajukan perusahaan, karyawan, atau profesionalisme, maka stagnasi menjadi risiko nyata. Inovasi tidak selalu harus berupa lompatan besar. Sering kali, ia lahir dari perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan UN World Tourism Organization, yang menekankan pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas. Pengalaman terbaik muncul ketika pengunjung dan warga sama-sama diuntungkan dan merasa memiliki peran. Di Malioboro, peran itu sederhana: datang dengan hormat, menikmati fasilitas publik, membeli sesuatu di sana, dan bila perlu, memberi masukan.

Sebagai pengunjung, kita bukan hanya konsumen. Kita bagian dari ekosistem. Cara kita hadir ikut menentukan bagaimana sebuah tempat bernapas dan berkembang.

Coming Back with Love: Mengapa Semua Orang Selalu Ingin Kembali

Sebagai penutup, saya menyadari satu hal sederhana: hampir semua orang jatuh cinta pada Malioboro, dengan caranya masing-masing. Ada yang mencintainya lewat foto, ada yang lewat langkah kaki, ada yang lewat kopi pagi, ada pula yang lewat kenangan yang sulit dijelaskan.

Liburan, pada akhirnya, bukan tentang sejauh apa kita pergi, melainkan seberapa dalam kita hadir. Ketika kita melambat, detail mulai terlihat. Ketika detail terlihat, makna menyusul. Dan ketika makna hadir, rindu pun tumbuh—rindu untuk kembali berjalan di jam yang sama, duduk di tempat yang sama, dan menyapa suasana yang sama, meski selalu terasa baru.

Malioboro bukan sekadar destinasi. Ia adalah ruang hidup. Ruang di mana orang boleh menjadi diri sendiri, berekspresi, dan beraktivitas tanpa merasa asing. Mungkin itulah sebabnya, setiap kali meninggalkannya, saya tidak merasa selesai. Saya hanya merasa akan kembali.

“Tempat wisata yang diidamkan oleh berbagai latar belakang pengunjung adalah tempat yang membiarkan kita menikmati suasana aslinya, lalu memberi ruang bagi kita untuk ikut beraktivitas—secara mandiri maupun bersama.”Martin Nababan

Dan di sanalah Malioboro tinggal: sebagai suasana yang dicintai banyak orang, dan sebagai rindu yang selalu tahu jalan pulang.

Referensi

  1. The Tourist: A New Theory of the Leisure Class, Dean MacCannell, University of California Press, 2013
  2. The Tourist Gaze 3.0, John Urry & Jonas Larsen, Sage Publications, 2017
  3. Rethinking Tourism for Local Communities, UN World Tourism Organization, UNWTO, 2023
  4. Tourism Trends and Policies, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), OECD Publishing, 2024
  5. Future of Travel and Tourism, World Economic Forum, World Economic Forum, 2024
  6. Global Travel Trends: Experience-Led Destinations, McKinsey & Company, McKinsey Insights, 2025

Written By

My passion is to solve problems and develop organizations to reach their maximum potential. Decades involved in many industries has given me experiences on leadership, collaboration and communication. I’m well versed in transformation on following fields ; business models, human resources, management systems, digitalize business process, and corporate culture

More From Author

Bakat Over Competency: Unlocking the Essence of Productivity di Industri yang Terus Berubah

Bakat Over Competency: Unlocking the Essence of Productivity di Industri yang Terus Berubah

Saya memulai karier profesional pada 1996, di sebuah fase ketika dunia kerja Indonesia—khususnya di industri…

Building Organizational Endurance: Merancang Perusahaan yang Tangguh, Adaptif, dan Relevan Lintas Generasi

Building Organizational Endurance: Merancang Perusahaan yang Tangguh, Adaptif, dan Relevan Lintas Generasi

Ketika Waktu Menjadi Penguji Paling Jujur Ada satu fase dalam kehidupan organisasi yang jarang dibicarakan…

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

The Morning Question: Apa yang Benar-Benar Berubah Hari Ini? Transformasi digital hampir tidak pernah runtuh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

The Morning Question: Apa yang Benar-Benar Berubah Hari Ini? Transformasi digital hampir tidak pernah runtuh…

Work–Life Balance Sebagai Investasi Kepemimpinan: Ketika Keputusan Pimpinan Menentukan Apakah Profesionalisme Bertahan atau Perlahan Luruh

Pada artikel After the Commute: Ketika Pekerjaan Tak Lagi Berhenti di Pintu Rumah, kita melihat…

DIGITAL IS EVERYWHERE, BUT SYSTEMS ARE NOT: We’re Living Digital, Tapi Cara Kerja Masih Analog

Tools Udah Cloud & Data, Tapi System of Work Masih Cara Lama Everyone Uses Apps,…