Categories Culture

Pause, Recharge, Move On: Berhenti Sebentar, Refresh Bareng Keluarga, dan Pelan-Pelan Belajar dari Jalan

Start Slow Mode: Ketika Road Trip Bukan Soal Cepat Sampai

Perjalanan darat selalu punya ritmenya sendiri. Tidak secepat pesawat, tidak sesantai duduk di rumah. Ada momen-momen kecil yang justru membuat perjalanan terasa hidup—saat mobil melambat, sein menyala, dan kita sepakat untuk berhenti sebentar tanpa banyak pertimbangan.

Road trip Jakarta–Yogyakarta bersama keluarga kali ini terasa seperti itu. Mengalir, santai, tanpa ambisi selain sampai dengan selamat dan tetap menikmati prosesnya. Di perjalanan seperti ini, waktu seolah berjalan sedikit lebih pelan. Obrolan menjadi lebih utuh. Pikiran tidak lagi melompat-lompat.

Dan karena saya memang memiliki hobi membaca, mengamati, dan menganalisa—terutama hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, kehidupan sehari-hari, dan dunia layanan—kebiasaan itu ikut terbawa ke jalan. Setiap berhenti, pikiran otomatis mencatat. Bukan untuk mencari kekurangan, tetapi untuk memahami: mengapa sebuah tempat terasa nyaman, aman, dan membuat orang ingin berhenti sedikit lebih lama.

Cerita perjalanan ini juga tidak berjalan lurus. Kadang maju, kadang berhenti, lalu sesekali pikiran mundur ke pengalaman lain—ke Austria dan China (Shanghai) yang saya kunjungi pada tahun 2024—sebelum akhirnya kembali lagi ke Indonesia, ke jalan yang sedang kami lalui hari itu.

Coffee First, Baru Lanjut Jalan

Sekitar pukul 07.45, kami masuk ke Rest Area Travoy KM 207 A. Rest area ini berada di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat—sebuah titik transisi penting bagi perjalanan darat dari Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Udara pagi masih sejuk. Parkiran mulai ramai, tetapi tertata rapi. Kami mendapatkan tempat parkir yang dekat, dan itu saja sudah cukup mengubah suasana. Bagi keluarga yang bepergian bersama anak, jarak parkir bukan detail kecil—ia menentukan apakah berhenti terasa menyenangkan atau melelahkan.

Tujuan kami sederhana: kopi pagi.

Antrean Starbucks sudah ada sekitar tujuh atau delapan orang. Tidak lama, tidak membuat gelisah. Saya dan anak langsung memesan empat minuman dan beberapa roti. Sepuluh hingga lima belas menit kemudian, kopi datang dan kami duduk.

Di meja kecil itu, ritme keluarga berjalan tanpa perlu disepakati. Istri dan anak perempuan melakukan sentuhan kecil agar kembali segar. Saya dan anak laki-laki refleks mencari colokan untuk mengisi daya ponsel. Kami ngobrol santai, meregangkan kaki setelah dua jam duduk di mobil. Hampir empat puluh lima menit kami di sana, tanpa dorongan untuk berjalan ke mana-mana.

Tempat ini terasa pas sebagai quick stop. Tidak banyak distraksi. Tidak banyak drama. Fungsinya jelas: berhenti sebentar, isi energi, lalu lanjut jalan.

Dan di titik itulah, sambil memegang kopi hangat, pikiran saya mulai melayang ke pengalaman lain.

Smart Service, No Drama: Austria & Shanghai Edition

Pada tahun 2024, saya beberapa kali singgah di rest area yang dikelola ASFINAG di Austria. Yang paling membekas bukan soal kemewahan atau skala bangunan, tetapi rasa tenang yang konsisten. Segalanya terasa berada di tempat yang tepat.

Memesan kopi atau makanan dilakukan langsung melalui layar digital. Tidak ada kasir. Tidak ada petugas yang berdiri melayani. Semua berjalan mandiri, namun sama sekali tidak terasa dingin atau diabaikan. Interiornya modern, rapi, dan bersih. Pencahayaan pas. Toilet terasa aman. Di area parkir, titik pengisian kendaraan listrik tersedia banyak dan tertata rapi—menjadi bagian normal dari perjalanan, bukan fasilitas tambahan.

Yang menarik, kami tidak merasa kurang dilayani. Justru sebaliknya—kami merasa dipercaya. Sistem bekerja dengan baik, alurnya jelas, dan manusia tinggal mengikuti. Di sana saya menangkap satu pelajaran penting: pelayanan terbaik sering kali adalah pelayanan yang nyaris tidak terasa. Ia hadir melalui sistem yang konsisten, bukan melalui interaksi yang berlebihan.

Beberapa jam setelah meninggalkan KM 207 A, kami berhenti kembali di Rest Area KM 456 A Salatiga. Rest area ini berada di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebuah kawasan penyangga strategis sebelum masuk koridor Solo–Yogyakarta.

Suasananya langsung berbeda. Bangunannya besar, bertingkat, terbuka, dan ramai. Kami makan siang di lantai dua—soto ayam, rawon, dan nasi ayam—dengan ruang yang lega dan cahaya alami. Di sini, berhenti bukan sekadar jeda fisik, tetapi jeda sosial. Ada waktu untuk duduk lebih lama, berjalan santai, dan melihat aktivitas UMKM.

Keramaian di Salatiga mengingatkan saya pada rest area di sekitar Shanghai yang juga saya kunjungi pada tahun yang sama. Skalanya jauh lebih besar. Orangnya lebih banyak. Teknologinya hadir di mana-mana. Namun yang menarik, semua tetap terkendali. Informasi jelas. Pembayaran cepat. Alur orang mengalir. Kendaraan listrik dan titik pengisiannya menjadi pemandangan biasa.

Austria mengajarkan ketenangan dan kepercayaan pada sistem. Shanghai mengajarkan keberanian mengelola skala dan kompleksitas. Indonesia—lewat KM 207 A dan KM 456 A—sedang belajar meramu keduanya dengan gaya sendiri.

Real Takeaways: Dari Jalan ke Dunia Kerja

Ketika mobil kembali melaju dan anak-anak tertidur, refleksi itu datang pelan-pelan. Setiap tempat yang kami singgahi memberi nilai dengan caranya masing-masing.

KM 207 A memberi nilai berupa kepastian dan efisiensi—berhenti cepat, jelas, tanpa ribet. KM 456 A memberi nilai berupa ruang dan waktu—tempat untuk benar-benar beristirahat dan berinteraksi. ASFINAG memberi nilai berupa kepercayaan pada sistem dan kedewasaan layanan. Shanghai memberi nilai berupa keberanian mengelola keramaian tanpa kehilangan kendali.

Semua itu adalah bentuk layanan. Tidak selalu hadir dalam bentuk senyum atau sapaan, tetapi tercermin dalam desain, alur, kebersihan, keamanan, dan rasa percaya yang diberikan kepada pengguna.

Bagi saya, pelajaran ini tidak berhenti di jalan. Ia ikut terbawa ke dunia kerja—termasuk di perusahaan seperti HKA. Layanan yang baik bukan soal heroisme individu, tetapi soal sistem yang konsisten. Skala besar bukan alasan untuk kacau, selama ada orkestrasi. Dan teknologi seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan menjauhkan kita dari sisi manusiawi.

A Quiet Ending: Tentang Perjalanan dan Kemanusiaan

Di akhir perjalanan, ketika jalan mulai lengang dan pikiran lebih tenang, satu hal terasa semakin jelas: perjalanan seperti ini bukan sekadar perpindahan jarak. Ia adalah ruang untuk merapikan pikiran, menenangkan hati, dan menyambung kembali relasi—dengan keluarga, dengan sekitar, dan dengan diri sendiri.

“Perjalanan adalah jeda yang menjaga kita tetap manusia.”



Martin Nababan

Di tengah dunia yang semakin cepat dan semakin bergantung pada layar, berhenti sejenak justru menjadi hal yang paling berharga. Kita kembali merasakan detak perjalanan, bukan sekadar mengikuti navigasi.

Dan mungkin itulah esensi dari semuanya: pause sejenak, recharge diri, lalu move on—dengan pikiran yang lebih jernih, hati yang lebih ringan, dan kemanusiaan yang tetap utuh.

Written By

My passion is to solve problems and develop organizations to reach their maximum potential. Decades involved in many industries has given me experiences on leadership, collaboration and communication. I’m well versed in transformation on following fields ; business models, human resources, management systems, digitalize business process, and corporate culture

More From Author

When Battery Becomes the New Oil — Saat Baterai Menggantikan Minyak

EV, Battery, dan Transformasi Ekonomi serta Digital Economy Global Judul When Battery Becomes the New…

Digital Twin & Decision Authority, Saat Dunia Virtual Memimpin Keputusan

Digital Twin & Decision Authority, Saat Dunia Virtual Memimpin Keputusan

Artikel pertama dalam seri Industrial AI Revolution menegaskan bahwa autonomous industry bukan lagi sekadar aspirasi…

Runways Without Airports, Jalan Tol di Era AI, Drone, dan Precision Warfare (Highway of Defence — Part II)

Runways Without Airports, Jalan Tol di Era AI, Drone, dan Precision Warfare: (Highway of Defence — Part II)

Membaca Ulang Lanskap Ancaman: Wajah Baru Kekuatan Udara Modern Artikel pertama dalam seri Highway of…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

STRUCTURE BEFORE SOFTWARE, Ketika Digital Makin Canggih, Tapi Keputusan Harian Harus Naik Kelas

STRUCTURE BEFORE SOFTWARE, Ketika Digital Makin Canggih, Tapi Keputusan Harian Harus Naik Kelas

How Daily Decisions Become Organizational Standards Ada satu fase dalam perjalanan transformasi digital yang sering…

When History Comes Alive: Jalan Bareng Keluarga, Sejarah Ikut Hidup

Perjalanan ini bermula dari alasan yang sangat personal. Saya, istri, dan keluarga berangkat ke Eropa…

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

When Systems Start to Work — Digital Awareness Ketemu Real Daily Decisions

The Morning Question: Apa yang Benar-Benar Berubah Hari Ini? Transformasi digital hampir tidak pernah runtuh…