Perjalanan ini bermula dari alasan yang sangat personal. Saya, istri, dan keluarga berangkat ke Eropa di akhir tahun 2024 untuk mengunjungi anak kami yang sedang menempuh pendidikan di sana. Kerinduan menjadi titik awalnya. Kami ingin hadir dalam kesehariannya—melihat lingkungan tempat ia belajar, berjalan di kota yang kini menjadi bagian dari hidupnya, dan menghabiskan waktu bersama tanpa agenda yang kaku.
Kami tidak datang sebagai turis yang mengejar daftar destinasi. Ritme perjalanan kami sederhana dan membumi: mengunjungi anak, lalu berjalan santai, naik transportasi publik seperti warga lokal, makan ketika lapar, berhenti ketika lelah, dan pulang ketika malam tiba. Dari ritme inilah kota-kota yang kami lewati mulai memperlihatkan jati dirinya. Sejarah tidak tampil sebagai masa lalu yang beku, tetapi sebagai ruang hidup yang terus digunakan.
Rute perjalanan kami membentuk sebuah lingkar: masuk ke Madrid, terbang ke Milan dengan low cost carrier, melanjutkan perjalanan darat menuju Zurich, lalu terbang kembali ke Barcelona, sebelum akhirnya menutup perjalanan di Madrid. Setiap kota menghadirkan cara berbeda dalam menghidupkan sejarah—dan justru dari perbedaan itulah maknanya terasa utuh.
Madrid — Kota yang Mengajak Tinggal Lebih Lama


Kami memasuki Eropa melalui Madrid. Di tengah musim liburan yang padat, kesan pertama bukanlah hiruk-pikuk, melainkan ketenangan yang teratur. Metro bekerja rapi, petunjuk jelas, dan layanan publik terasa intuitif. Membawa keluarga tidak terasa merepotkan; kota ini seperti sudah terbiasa menerima orang dari mana pun.
Secara sosial, Madrid terasa sangat terbuka. Plaza-plaza tua dipenuhi keluarga, anak-anak bermain tanpa rasa canggung, orang-orang duduk lama berbincang. Sejarah tidak dijaga dengan jarak, tetapi dengan kehadiran. Bangunan tua berdiri bukan sebagai monumen kaku, melainkan sebagai latar kehidupan sehari-hari.
Museum-museum terasa inklusif. Anak-anak bebas bergerak dengan rasa ingin tahu, sementara orang dewasa menikmati cerita sejarah tanpa merasa diatur. Dari sisi desain kota, ruang publik jelas menjadi prioritas. Kehidupan sosial yang aktif menciptakan rasa aman yang alami—ruang kota tidak pernah benar-benar kosong.
Urbanis Jan Gehl pernah menulis bahwa kota yang baik adalah kota yang membuat orang ingin berlama-lama di ruang publiknya. Di Madrid, gagasan itu terasa nyata dan membumi.
Madrid ke Milan — Terbang Murah, Kota Tetap Ramah
Dari Madrid menuju Milan, kami memilih low cost carrier. Pilihan yang sadar dan realistis sebagai keluarga. Tidak ada kemewahan berlebihan, tetapi proses di bandara efisien dan jelas. Begitu mendarat, kami langsung terhubung kembali dengan metro dan moda publik lainnya tanpa kebingungan.
Di titik ini, kami merasakan bahwa kota dan sejarah yang matang tidak menuntut cara perjalanan yang mahal. Aksesibilitas adalah bagian dari layanan publik. Sejarah yang hidup adalah sejarah yang bisa dijangkau oleh siapa pun.
Milan — Elegan, Tertib, dan Penuh Martabat
Memasuki Milan, suasana kota langsung berubah. Secara sosial, ritmenya lebih formal. Sejarah di sini dijaga dengan martabat. Katedral megah berdiri sebagai pusat simbolik, membuat orang otomatis melambatkan langkah.
Museum-museum menghadirkan suasana reflektif. Ruang terasa hening, pengunjung melangkah perlahan. Sejarah tidak dirayakan dengan keramaian, tetapi dengan penghormatan. Namun Milan tetap praktis. Metro, bus, dan taksi online saling melengkapi. Ketika kaki lelah, solusi selalu ada.
Belanja di Milan terasa kuratif—etalase ditata dengan kesadaran desain tinggi. Kuliner di Italia terasa ritualistik. Ada waktu yang dihormati, ada detail yang dijaga. Makan menjadi momen kebersamaan, bukan sekadar kebutuhan.
Ahli warisan budaya Françoise Choay pernah menulis bahwa sejarah di Eropa kontinental sering dirawat melalui disiplin simbolik. Milan memperlihatkan itu dengan jelas: sejarah hidup, tetapi dijaga dengan tertib.
Como S. Giovanni — Jeda Kecil yang Menghangatkan


Perjalanan darat dari Milan menuju Swiss membawa kami singgah sejenak di Como S. Giovanni. Transit ini singkat, tetapi justru sangat membekas. Udara dingin langsung menyergap.
Di dalam stasiun, saya membeli secangkir kopi panas dan mi instan. Sederhana, tetapi di tengah dingin, rasanya sangat nikmat. Saya dan istri sempat keluar sejenak, mengambil foto danau yang tenang dengan latar bangunan tua dan pegunungan. Tangan kaku oleh dingin, napas terlihat di udara.
Di momen ini terasa bahwa sejarah tidak selalu hadir lewat bangunan besar. Kadang ia hadir dalam jeda kecil—stasiun, kopi panas, dan danau yang diam.
Zurich — Tenang, Presisi, dan Bisa Dipercaya

Kami tiba di Zurich dengan suasana yang jauh lebih hening. Kota ini terasa rapi dan terukur. Layanan publik bekerja dengan presisi tinggi. Tram, bus, dan kereta datang tepat waktu, seolah kota berjalan dengan ritme yang disepakati bersama.
Pagi hari kami berjalan menyusuri Sungai Limmat. Gereja, gedung, dan bangunan tua berdiri anggun di tepi sungai. Kota belum ramai. Ada ruang untuk berjalan pelan dan memperhatikan detail. Desain kota tidak memaksa orang bergerak cepat.
Kami makan siang di restoran sekitar sungai dan menemukan restoran Thailand. Di tengah kota Eropa yang dingin dan rapi, rasa Asia yang hangat terasa sangat pas. Zurich menunjukkan wajah kota global—tertib, tetapi terbuka pada keberagaman.
Penulis kota Charles Montgomery menulis bahwa kota yang baik membuat orang merasa aman untuk berjalan pelan. Zurich memenuhi itu, bahkan hingga malam hari.
Zurich ke Barcelona — Ritme Berubah, Kota Tetap Hidup



Dari Zurich menuju Barcelona, kami kembali menggunakan low cost carrier. Dari kota yang presisi ke kota yang ekspresif, peralihannya terasa kontras tetapi mulus.
Barcelona terasa hidup. Secara sosial, kota ini cair dan ekspresif. Lorong-lorong tua dipenuhi musisi jalanan, kafe kecil, dan percakapan lintas bahasa. Desain kota memberi ruang bagi spontanitas.
Belanja terasa membumi—toko kecil, pasar lokal, dan pusat perbelanjaan modern hidup berdampingan. Kuliner mudah ditemukan. Malam hari tetap ramai, tetapi tidak terasa mengancam. Sejarah di sini benar-benar dijalani, bukan dipajang.
Pakar pariwisata budaya Greg Richards menyebut kota seperti Barcelona sebagai living heritage city. Pernyataan itu terasa tepat ketika berjalan di kota ini.
Penutup — Sejarah yang Jalan Bareng Kehidupan
Perjalanan ini, yang berawal dari kerinduan untuk mengunjungi anak, perlahan berubah menjadi pelajaran tentang kota dan peradaban. Kami melihat Eropa bukan dari sudut pandang turis yang tergesa, tetapi dari kacamata keluarga yang ingin merasa nyaman, aman, dan diterima.
Di sanalah makna When History Comes Alive terasa utuh. Sejarah yang hidup adalah sejarah yang bisa diajak jalan bareng—mudah diakses, manusiawi, dan relevan dengan kehidupan hari ini. Dan dari sinilah, cerita menuju Seri 3 dan Seri 4 bisa mengalir dengan alami.
Referensi :
- The Death and Life of Great American Cities, Jane Jacobs, Random House, 1961
- The Invention of the Historic Monument, Françoise Choay, Cambridge University Press, 2001
- Cities for People, Jan Gehl, Island Press, 2010
- Happy City, Charles Montgomery, Farrar, Straus and Giroux, 2013
- Cultural Tourism: Global and Local Perspectives, Greg Richards, Routledge, 2018
- The Economics of Cultural Heritage, UNESCO, 2019
- How Cities Are Reinventing Heritage Districts, The Guardian, 2024
- New Life in Old Walls, Architectural Digest, 2025