Seorang Anak, Dua Dunia
Seorang anak lahir di Jakarta pada 2025. Di rumahnya, ibunya bekerja sebagai analis keuangan yang kini menggunakan Artificial Intelligence untuk menyusun laporan. Ayahnya mengelola bisnis kecil yang bergantung pada platform digital. Di ruang tamu, suara asisten virtual kadang lebih cepat menjawab daripada orang dewasa di sekitarnya.
Anak itu belum tahu bahwa menurut laporan Future of Jobs 2023 dari World Economic Forum, sekitar 23 % (persen) pekerjaan global akan berubah dalam lima tahun. Ia belum tahu bahwa 44 % (persen) keterampilan kerja akan memerlukan pembaruan. Tetapi hidupnya akan ditentukan oleh angka-angka itu.
Pertanyaannya bukan apakah Indonesia terdampak. Pertanyaannya: apakah Indonesia siap?
ERA I (2024–2029)
Fondasi: Ketika Akses Menentukan Arah
Di sebuah sekolah menengah di Sulawesi, guru matematika mulai menggunakan sistem pembelajaran adaptif. Sistem itu menunjukkan bahwa 30 persen siswanya tertinggal dalam aljabar dasar. Data menjadi cermin yang jujur.
Namun data juga memperlihatkan kenyataan lain. Akses internet belum merata. Berdasarkan berbagai laporan nasional dan internasional, kesenjangan digital masih signifikan antarwilayah. Tanpa akses yang setara, transformasi hanya menguntungkan sebagian.
World Bank dalam World Development Report 2025 menekankan bahwa kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto di banyak negara berkembang meningkat pesat, namun distribusinya tidak merata. Indonesia termasuk ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, tetapi belanja riset dan pengembangan sebagai persentase Produk Domestik Bruto masih tertinggal dibanding negara Asia Timur.
Bandingkan dengan Korea Selatan atau Jepang yang secara konsisten mengalokasikan lebih dari 2 % (dua persen) Produk Domestik Bruto untuk riset dan pengembangan. Indonesia masih berada jauh di bawah angka tersebut.
Artinya jelas: tanpa investasi pada manusia dan riset, Indonesia akan menjadi pasar, bukan produsen teknologi.
Era I adalah tentang fondasi. Literasi digital harus menjadi kompetensi universal. Reskilling harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan opsi.
ERA II (2029–2034)
Akselerasi dan Tata Kelola: Ketika Algoritma Menjadi Infrastruktur
Lima tahun berlalu. AI kini digunakan untuk seleksi karyawan, manajemen risiko, hingga personalisasi pembelajaran.
Organisation for Economic Co-operation and Development memperkirakan bahwa sekitar seperempat pekerjaan di negara anggotanya memiliki risiko otomatisasi tinggi. Jika dikontekstualkan ke Indonesia—dengan struktur ekonomi yang masih memiliki proporsi pekerjaan rutin cukup besar—risiko ini bisa signifikan.
Di sisi lain, LinkedIn Global Talent Trends menunjukkan lonjakan partisipasi pelatihan digital dan sertifikasi teknologi sejak pandemi. Reskilling menjadi arus utama.
Namun tekanan meningkat. Survei global menunjukkan burnout meningkat di kalangan tenaga kerja digital. Anxiety economy menjadi realitas—ekonomi penuh tekanan akibat perubahan cepat dan kompetisi global.
Di Eropa, AI Act mengatur risiko sistem AI. Amerika Serikat memilih pendekatan inovasi berbasis pasar. Asia Timur memadukan regulasi dan strategi industri. Indonesia tidak bisa hanya meniru; Indonesia harus memilih model yang seimbang.
Tanpa tata kelola yang jelas, bias algoritma bisa memperkuat ketidakadilan. Tanpa perhatian pada kesehatan mental, produktivitas jangka panjang menurun.
Era II adalah tentang mengelola kecepatan tanpa kehilangan keadilan.
ERA III (2034–2039)
Perebutan Talenta: Brain Drain atau Brain Circulation?
Seorang insinyur muda di Bandung bekerja untuk perusahaan teknologi di California tanpa meninggalkan Indonesia. Remote global workforce bukan lagi konsep, tetapi kenyataan.
Namun data menunjukkan tantangan. Proporsi lulusan STEM Indonesia masih lebih rendah dibanding banyak negara Asia Timur. Tanpa peningkatan signifikan pada kualitas dan kuantitas lulusan STEM, posisi Indonesia dalam rantai nilai global tetap terbatas.
Brain drain adalah risiko nyata. Tetapi brain circulation—talenta global yang tetap berkontribusi pada ekosistem domestik—adalah peluang.
Di era ini, belanja riset dan pengembangan menjadi indikator daya saing. Negara yang tidak berinvestasi akan tertinggal.
Budi, mantan staf administrasi yang beralih menjadi analis data setelah pelatihan ulang, menunjukkan bahwa mobilitas ke atas mungkin terjadi. Tetapi kasus individual harus menjadi sistem nasional.
Era III adalah tentang positioning. Apakah Indonesia hanya menyediakan tenaga kerja murah, atau membangun pusat inovasi?
ERA IV (2039–2044)
Masyarakat Inovasi: Dari Adaptasi ke Produksi Nilai
Memasuki akhir 2030-an, Indonesia menghadapi pertanyaan baru: apakah inovasi menjadi budaya atau hanya program?
Belanja riset harus meningkat secara bertahap. Tanpa itu, produktivitas stagnan. Tanpa kolaborasi kampus-industri, riset berhenti sebagai publikasi.
Kesenjangan akses digital harus turun signifikan agar transformasi tidak menciptakan dua kelas masyarakat: yang terkoneksi dan yang tertinggal.
Gotong royong digital menjadi penting. Komunitas teknologi, organisasi sosial, dan keluarga harus terlibat.
ERA IV (2039–2044) pada akhirnya adalah momen ketika inovasi berhenti menjadi agenda kebijakan dan berubah menjadi budaya kolektif bangsa—mengakar dalam cara belajar, bekerja, dan berkolaborasi di seluruh lapisan masyarakat.
ERA V (2044–2049)
Warisan: Ketahanan atau Ketergantungan?
Tahun 2045 datang. Indonesia berusia satu abad.
Namun risiko tetap ada. Overdependence pada AI dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis. Bias algoritma dapat memperkuat diskriminasi. Fragmentasi sosial akibat kerja jarak jauh dapat mengurangi kohesi masyarakat.
Di sinilah karakter dan basic mentality menjadi fondasi. Tanpa integritas, data dimanipulasi. Tanpa disiplin, inovasi rapuh.
Era V adalah tentang ketahanan sosial.
10-Year Curriculum Reform Model: Perjalanan Nyata
Bayangkan anak yang lahir 2025.
Di sekolah dasar, ia belajar literasi digital dan keamanan data. Di sekolah menengah, ia belajar pemecahan masalah berbasis proyek. Di sekolah atas, ia belajar menggunakan AI sebagai alat kolaborasi, bukan alat plagiarisme. Di universitas, ia belajar etika teknologi dan inovasi terapan.
Best practices global menunjukkan bahwa reformasi berhasil ketika guru dilatih ulang secara sistematis, asesmen menjadi formatif, dan kemitraan industri kuat.
KPI Implementasi Nasional: Kompas Transformasi
Belanja riset harus meningkat menuju standar negara inovatif. Partisipasi reskilling harus diukur berdasarkan transisi karier nyata. Literasi digital harus diukur melalui asesmen independen. Kesenjangan akses harus turun secara terukur.
KPI bukan sekadar angka; ia adalah arah.
Tiga Skenario Indonesia 2045
Masa depan tidak tunggal. Ia bergantung pada konsistensi dan keberanian mengambil keputusan hari ini.
Skenario pertama adalah Accelerated Transformation. Belanja riset naik konsisten, reskilling berjalan sistemik, kurikulum reform berhasil, dan talenta global tetap terhubung melalui brain circulation. Indonesia naik kelas dalam rantai nilai dan menjadi pusat inovasi regional. Produktivitas tumbuh, ketimpangan menurun, dan stabilitas sosial menguat.
Skenario kedua adalah Uneven Transition. Sebagian sektor dan kota melaju cepat, tetapi wilayah dan kelompok tertentu tertinggal. Reskilling ada, tetapi tidak merata. Indonesia tetap tumbuh, namun ketimpangan bertahan dan tekanan sosial meningkat.
Skenario ketiga adalah Stagnation Trap. Reformasi tidak konsisten, reskilling lemah, brain drain meningkat, dan Indonesia lebih banyak mengonsumsi teknologi daripada memproduksinya. Pertumbuhan ada, tetapi posisi strategis melemah.
Pilihan di antara ketiganya bukan ditentukan oleh AI, melainkan oleh kualitas kebijakan, investasi pada manusia, dan ketegasan arah pembangunan.
Penutup: Momentum Sejarah
Jika Indonesia salah membaca momentum, biaya historisnya besar: ketimpangan melebar, daya saing menurun, ketergantungan meningkat.
Jika Indonesia bergerak tepat, Generasi 2045 menjadi generasi adaptif, etis, dan inovatif.
Waktu tidak berhenti. Pertanyaannya hanya satu: apakah kita bergerak cukup cepat dengan arah yang benar?
Referensi
- The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab, World Economic Forum, 2016
- Machine, Platform, Crowd, Andrew McAfee dan Erik Brynjolfsson, W.W. Norton & Company, 2017
- AI Superpowers, Kai-Fu Lee, Houghton Mifflin Harcourt, 2018
- The Age of AI, Henry Kissinger, Eric Schmidt, Daniel Huttenlocher, Little, Brown and Company, 2021
- Future of Jobs Report 2023, World Economic Forum, World Economic Forum, 2023
- Global Employment Trends 2024, International Labour Organization, International Labour Organization, 2024
- World Development Report 2025: Digital Transformation, World Bank, World Bank Publications, 2025
- OECD Employment Outlook 2025, OECD, OECD Publishing, 2025
- Education at a Glance 2026, OECD, OECD Publishing, 2026
- Global Talent Trends Report 2026, LinkedIn Economic Graph, LinkedIn Corporation, 2026