(Highway of Defence — Part III, Integrated & Extended Edition)
Gagasan bahwa sebuah jalan tol dapat berfungsi sebagai landasan pesawat tempur kerap terdengar provokatif. Namun dalam sejarah pertahanan modern, ia justru merupakan ekspresi dari rasionalitas strategis. Jalan tol yang dirancang atau dipersiapkan sebagai highway runway bukan simbol improvisasi darurat, melainkan manifestasi dari satu prinsip dasar pertahanan udara: kekuatan udara yang terkonsentrasi selalu lebih rapuh dibandingkan kekuatan udara yang tersebar dan adaptif.
Bagi Indonesia, isu ini jauh melampaui soal teknis pendaratan pesawat. Ia menyentuh cara negara membaca ancaman, merancang infrastruktur, membagi risiko antara sipil dan militer, serta membangun legitimasi publik.
Karena itu, pembahasan harus ditempatkan dalam kerangka besar operasi udara terdistribusi (distributed air operations), yakni pendekatan pertahanan udara yang menyebarkan aset udara, logistik, dan komando ke banyak lokasi untuk meningkatkan survivability—kemampuan bertahan dari serangan awal musuh.
Indonesia dan Realitas Strategisnya
Sebagai negara kepulauan dengan kepadatan sipil tinggi dan pusat ekonomi yang terkonsentrasi, Indonesia menghadapi paradoks strategis.
Di satu sisi, ia membutuhkan pangkalan udara yang kuat dan efisien.
Di sisi lain, pangkalan yang bersifat permanen semakin transparan dan rentan di era intelligence, surveillance, and reconnaissance atau ISR, yaitu sistem pengintaian berbasis satelit, sensor, dan analitik data real-time.
Sementara itu, jaringan jalan tol Indonesia berkembang pesat sebagai tulang punggung logistik nasional. Jalan tol dirancang untuk ekonomi, bukan perang. Namun justru karena sifatnya yang tersebar, lurus, dan redundan, ia membuka peluang sebagai opsi cadangan strategis dalam situasi krisis.
Di sinilah konsep highway runway memperoleh relevansi—bukan sebagai pengganti pangkalan udara, tetapi sebagai lapisan ketahanan tambahan.
Dimensi Teknis: Kelayakan Tanpa Fantasi
Secara teknis, hanya sebagian kecil ruas jalan tol yang mungkin memenuhi syarat sebagai landasan darurat. Persyaratan utama mencakup geometri lurus, kekuatan perkerasan, serta kemampuan pemulihan cepat pasca-operasi.
Pengalaman internasional menunjukkan bahwa pendekatan yang berhasil bukanlah konversi masif, melainkan desain selektif dan modular.
Pengantar tabel berikut bertujuan menjelaskan bahwa kesiapan teknis bersifat spektrum, bukan keputusan biner “bisa atau tidak bisa”.
Tabel 1. Kesiapan Teknis Jalan Tol untuk Operasi Udara Terdistribusi
| Aspek Teknis | Standar Jalan Tol Sipil | Kebutuhan Highway Runway | Implikasi bagi Indonesia |
| Geometri | Optimal untuk lalu lintas | Ruas lurus panjang, kelandaian rendah | Seleksi koridor strategis |
| Perkerasan | Beban kendaraan berat | Tekanan roda pesawat tempur | Penguatan lokal & desain awal |
| Fasilitas | Permanen & sipil | Modular & mobile | Integrasi logistik TNI |
| Pemulihan | Tidak dirancang | Waktu pemulihan singkat | SOP sipil–militer |
Tabel ini menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu mengubah seluruh jaringan jalan tol.
Pendekatan selektif justru lebih rasional, ekonomis, dan aman secara politik. Kunci utamanya adalah desain sejak awal dan kejelasan tanggung jawab negara.
Dimensi Operasional: Doktrin sebagai Penentu Nilai
Tanpa doktrin, highway runway hanyalah eksperimen teknis. Doktrin pertahanan udara menentukan bagaimana aset digunakan, dilindungi, dan diintegrasikan.
Dalam konteks modern, doktrin ini harus berpijak pada operasi udara terdistribusi dan komando dan kendali (command and control), yakni sistem pengambilan keputusan terpusat yang adaptif dan tahan gangguan.
Pengantar tabel berikut dimaksudkan untuk memperjelas perbedaan mendasar antara pendekatan lama dan pendekatan terdistribusi.
Tabel 2. Dampak Operasional Operasi Udara Terdistribusi
| Dimensi | Pangkalan Terpusat | Operasi Terdistribusi |
| Kerentanan | Tinggi terhadap serangan presisi | Menurun melalui penyebaran |
| Fleksibilitas | Terbatas lokasi | Tinggi dan adaptif |
| Kebutuhan C2 | Terpusat kaku | Terpusat fleksibel |
| Ketergantungan infrastruktur | Sangat tinggi | Lebih resilien |
Tabel ini memperjelas bahwa nilai strategis jalan tol baru muncul jika ia menjadi bagian dari sistem operasi terdistribusi.
Tanpa perubahan doktrin, manfaatnya akan bersifat marginal bahkan berisiko.
Dimensi Non-Teknis: Negara, Hukum, dan Legitimasi
Justru pada aspek non-teknis, tantangan Indonesia paling besar. Jalan tol adalah infrastruktur sipil dengan kepentingan ekonomi, sosial, dan politik yang tinggi.
Penggunaannya untuk kepentingan militer menyentuh inti tata kelola sipil–militer dan legitimasi negara.
Pengantar tabel berikut bertujuan menegaskan bahwa kegagalan kebijakan sering kali bukan karena teknis, melainkan karena tata kelola.
Tabel 3. Faktor Non-Teknis Penentu Keberhasilan Highway Runway
| Faktor | Risiko Jika Diabaikan | Prasyarat Keberhasilan |
| Kerangka hukum | Sengketa & ketidakpastian | Status dual-use eksplisit |
| Tata kelola | Beban ke operator sipil | Negara menanggung risiko |
| Informasi publik | Kepanikan & politisasi | Komunikasi strategis |
| Konsistensi politik | Kebijakan tambal sulam | Konsensus lintas rezim |
Tabel ini menegaskan bahwa highway runway pada dasarnya adalah keputusan negara, bukan proyek teknis sektoral. Tanpa legitimasi hukum dan publik, keunggulan teknis tidak akan bertahan.
Case Study Swedia dan Finlandia
Swedia dan Finlandia menunjukkan bahwa keberhasilan highway runway lahir dari kebijakan jangka panjang.
Swedia mengintegrasikan konsep ini dalam total defence, di mana infrastruktur sipil sejak awal dirancang sebagai dual-use. Latihan rutin oleh Swedish Armed Forces dilakukan dengan prosedur sipil yang matang, dan negara mengambil alih seluruh risiko strategis.
Finlandia menempuh jalur berbeda namun sejalan. Melalui legitimasi sosial yang kuat dan latihan rutin oleh Finnish Defence Forces, kesiapan pertahanan dinormalisasi dalam kehidupan nasional. Jalan raya tetap jalan raya, tetapi dapat berubah fungsi secara cepat ketika dibutuhkan.
Pandangan Para Expert: Mengapa Infrastruktur Sipil Menjadi Kunci Ketahanan Udara
Untuk memperdalam analisis, penting mendengar pandangan para ahli yang selama dua dekade terakhir meneliti ketahanan kekuatan udara.
John Stillion, analis senior di RAND Corporation dan penulis Distributed Air Operations, menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi kekuatan udara modern bukan kekurangan teknologi, melainkan konsentrasi aset. Keahliannya berada pada analisis strategi udara dan survivability, dan karyanya menjadi rujukan utama banyak angkatan udara NATO. Menurut Stillion, operasi terdistribusi bukan pilihan tambahan, melainkan syarat bertahan hidup di era serangan presisi.
Justin Bronk, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), dikenal atas risetnya tentang kerentanan pangkalan udara dan perang udara modern. Dalam berbagai publikasinya, Bronk menekankan bahwa penggunaan infrastruktur sipil seperti jalan raya adalah cara murah namun efektif untuk memperumit perhitungan musuh, asalkan dilindungi oleh sistem pertahanan udara berlapis.
Gustav Lindstrom, mantan Direktur EU Institute for Security Studies, memfokuskan risetnya pada ketahanan infrastruktur pertahanan Eropa. Ia menekankan bahwa keberhasilan negara Nordik bukan pada keberanian teknis, tetapi pada konsistensi kebijakan dan kejelasan peran negara dalam menanggung risiko sipil–militer.
Pandangan ketiga expert ini memperkuat satu kesimpulan: highway runway bukan tentang teknologi canggih, melainkan tentang arsitektur kebijakan dan disiplin implementasi.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Pelajaran dari Swedia dan Finlandia sangat jelas. Indonesia tidak boleh memulai dari uji coba teknis tanpa kerangka kebijakan. Negara harus terlebih dahulu menetapkan status hukum dual-use infrastructure, memperbarui doktrin pertahanan udara nasional, dan menyiapkan mekanisme kompensasi serta komunikasi publik.
Pendekatan yang realistis adalah selektif, bertahap, dan berbasis koridor strategis. Jalan tol tidak kehilangan fungsi ekonominya; ia justru memperoleh lapisan makna baru sebagai cadangan strategis negara.
Kesimpulan: Highway Runway sebagai Ujian Kedewasaan Negara
Pada akhirnya, highway runway adalah ujian kedewasaan negara. Ia menuntut keberanian politik untuk berpikir lintas sektor, kesabaran institusional untuk membangun konsistensi, dan kejujuran publik dalam menjelaskan risiko serta manfaat.
Jika Indonesia memilih jalan ini dengan matang, jalan tol tidak akan berubah menjadi simbol militerisasi, melainkan menjadi bagian dari arsitektur ketahanan nasional yang sunyi namun menentukan. Sejarah menunjukkan bahwa ketahanan sejati tidak lahir dari improvisasi di tengah krisis, tetapi dari keputusan strategis yang diambil jauh sebelum krisis datang.
Referensi
- Distributed Air Operations, John Stillion, RAND Corporation, 2019.
- Agile Combat Employment, NATO Allied Air Command, NATO, 2022.
- Total Defence Concept in Sweden, Swedish Ministry of Defence, Government of Sweden, 2022.
- Air Base Vulnerability and Resilience, Heather Williams et al., Center for Strategic and International Studies, 2023.
- Resilience and Defence Infrastructure in Europe, Gustav Lindstrom, EU Institute for Security Studies, 2024.
- The Military Balance 2024, International Institute for Strategic Studies, 2024.
- Road Infrastructure and Security, World Road Association (PIARC), 2024.
- Infrastructure Lifecycle Risk Management, Organisation for Economic Co-operation and Development, 2025.