Executive Summary
Ada satu pertanyaan yang mulai mengganggu banyak traveler muda: setelah kita pulang dari sebuah destinasi, tempat itu sebenarnya jadi lebih baik atau justru makin lelah?
Dulu, liburan sering dinilai dari seberapa estetik fotonya. Pantai harus biru, gunung harus dramatis, penginapan harus unik, makanan harus menarik, dan momen perjalanan harus cukup bagus untuk masuk story. Tetapi generasi Z dan generasi Y mulai membaca liburan dengan cara yang lebih dalam. Mereka tetap ingin tempat yang indah, tetapi tidak ingin keindahan itu dibayar dengan sampah, satwa yang dipaksa tampil, warga lokal yang hanya menjadi figuran, atau alam yang rusak setelah ramai dikunjungi.
Di sinilah ecotourism atau pariwisata berbasis alam yang bertanggung jawab menjadi semakin relevan. Ecotourism bukan sekadar pergi ke hutan, pantai, taman nasional, desa adat, geopark, pulau kecil, atau kawasan konservasi. Maknanya lebih serius: perjalanan ke area alami yang menjaga lingkungan, memberi manfaat kepada masyarakat lokal, dan menghadirkan edukasi bagi wisatawan. Jadi, destinasi tidak cukup hanya terlihat natural. Ia harus dikelola dengan cara yang membuat alam tetap hidup, warga lokal ikut naik kelas, dan traveler pulang dengan cerita yang bukan hanya indah, tetapi juga bermakna.
Sinyal pasarnya makin jelas. Pada 2016, 42% wisatawan global menganggap dirinya sebagai sustainable traveler. Pada 2020, angkanya naik menjadi 87% wisatawan global yang ingin bepergian secara lebih berkelanjutan. Pada 2025, 93% wisatawan ingin membuat pilihan perjalanan yang lebih berkelanjutan. Pada 2026, 85% wisatawan tetap menilai sustainable travel sebagai hal penting atau sangat penting. Artinya, isu ini tidak lagi hidup di lingkaran kecil traveler idealis. Ia sudah masuk ke cara pasar memilih hotel, destinasi, aktivitas, dan pengalaman perjalanan.
Dari sisi bisnis, ecotourism juga makin sulit diabaikan. Nilai pasar ecotourism global diperkirakan berada di sekitar USD 296 miliar pada 2025 dan diproyeksikan naik menjadi USD 337 miliar pada 2026. Dalam horizon lebih panjang, pasar ini diproyeksikan dapat menembus USD 1.125 miliar pada 2034, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) 16,26%. CAGR berarti tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun dalam periode tertentu. Dengan pertumbuhan dua digit, ecotourism tidak lagi sekadar niche market, tetapi sudah menjadi medan baru bagi destinasi, eco-resort, operator tur, pemerintah daerah, investor, komunitas lokal, dan traveler generasi baru.
Di sinilah regenerative ecotourism mulai mengambil tempat. Regenerative berarti memulihkan, memperbaiki, dan membuat kondisi menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Jika sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan berfokus pada mengurangi dampak negatif, regenerative ecotourism bergerak lebih jauh: perjalanan harus ikut menciptakan dampak positif. Bentuknya bisa berupa restorasi mangrove, rehabilitasi terumbu karang, perlindungan satwa, pembatasan kunjungan, dana konservasi yang transparan, serta rantai pasok lokal yang membuat uang wisatawan lebih lama berputar di masyarakat.
Untuk membaca tren besarnya secara lebih bersih, tabel berikut hanya memakai periode dengan data yang lebih kuat dan mudah dibandingkan: 2016, 2020, 2025, dan 2026 proyeksi. Kolom angka hanya berisi angka atau %, sementara penjelasan ditempatkan pada kolom keterangan dan uraian setelah tabel.
Tabel 1. Tren Sustainable Travel dan Ecotourism Global, 2016–2026
Indikator | 2016 | 2020 | 2025 | 2026 Proyeksi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
Wisatawan internasional, juta orang | 1.235 | 381 | 1.520 | 1.566–1.581 | Skala perjalanan global |
Minat sustainable travel, % wisatawan global | 42% | 87% | 93% | 85% | Preferensi traveler |
Penerimaan pariwisata global, USD triliun | 1,22 | 0,64 | 1,90 | 2,00–2,10 | Spending perjalanan internasional |
Nilai pasar ecotourism, USD miliar | 139–150 | 181 | 296 | 337 | Market value ecotourism global |
Growth market ecotourism, CAGR | 14,3% | 14,3% | 16,26% | 16,26% | Proyeksi pertumbuhan pasar |
Sumber Data: UN Tourism, Booking.com Sustainable Travel Research, Allied Market Research, Fortune Business Insights, dan WTTC. Periode data: 2016–2026. Data 2026 bersifat proyeksi/indikatif. Nilai pasar ecotourism 2016 adalah estimasi indikatif dari basis pertumbuhan pasar yang tersedia, sehingga dibaca sebagai pendekatan tren, bukan angka realisasi tunggal.
Tabel ini memperlihatkan cerita yang menarik. Saat perjalanan global jatuh pada 2020, minat terhadap sustainable travel justru naik tajam. Jumlah wisatawan internasional turun dari 1.235 juta pada 2016 menjadi 381 juta pada 2020, tetapi minat sustainable travel bergerak dari 42% ke 87%. Ketika dunia sempat berhenti, traveler ikut mengecek ulang arti liburan: bukan hanya pergi sejauh mungkin, tetapi mencari pengalaman yang lebih sehat, lapang, aman, dan bertanggung jawab.
Setelah industri pulih, ecotourism masuk ke fase yang lebih besar. Pada 2025, wisatawan internasional kembali mencapai 1.520 juta, penerimaan pariwisata global mendekati USD 1,90 triliun, dan nilai pasar ecotourism mencapai sekitar USD 296 miliar. Pada 2026, pasar ecotourism diproyeksikan naik ke USD 337 miliar. Growth market 16,26% CAGR memberi sinyal bahwa permintaan terhadap wisata berbasis alam, pengalaman autentik, dan perjalanan yang lebih sadar dampak masih akan tumbuh kuat.
Angka-angka ini memberi pesan jelas untuk pelaku tourism. Kata “eco”, “green”, dan “natural” tidak lagi cukup untuk menarik traveler. Pasar mulai meminta bukti yang sederhana tetapi nyata: berapa dana masuk ke konservasi, berapa warga lokal dilibatkan, berapa sampah dikelola, apakah satwa benar-benar aman, dan apakah destinasi punya batas daya dukung. Traveler tetap ingin liburan yang indah, tetapi keindahan kini harus punya tanggung jawab.
Pendahuluan
Liburan pernah punya formula yang terasa sederhana: cari tempat cantik, ambil foto terbaik, unggah, lalu biarkan komentar dan likes bekerja. Air laut yang jernih, kabin kayu di tengah hutan, jalan setapak menuju air terjun, atau desa adat yang terlihat “beda” menjadi bagian dari ekonomi visual yang sangat kuat. Banyak destinasi tumbuh karena viral. Tetapi tidak semua destinasi siap menanggung konsekuensinya.
Di balik foto yang indah, sering ada cerita yang lebih rumit. Pantai yang viral bisa kewalahan oleh sampah. Desa yang ramai bisa kehilangan ruang hidupnya. Satwa liar bisa berubah menjadi properti hiburan. Warga lokal bisa bekerja keras, tetapi nilai ekonomi terbesar justru mengalir ke luar. Di titik ini, liburan yang tampak sempurna di layar bisa menyimpan jejak yang tidak selalu indah di lapangan.
Generasi Z dan generasi Y mulai menangkap kontradiksi itu. Mereka tetap visual, tetap digital, dan tetap suka berbagi pengalaman. Tetapi mereka juga lebih cepat membaca isu iklim, greenwashing, animal welfare, ketimpangan ekonomi lokal, dan overtourism. Greenwashing berarti praktik membuat produk atau destinasi terlihat ramah lingkungan melalui bahasa pemasaran, padahal dampak nyatanya lemah, tidak jelas, atau tidak dapat dibuktikan. Animal welfare berarti kesejahteraan satwa, yaitu kondisi ketika satwa dapat hidup sehat, alami, tidak dipaksa tampil, dan tidak dieksploitasi untuk hiburan manusia. Overtourism berarti jumlah wisatawan melebihi daya dukung destinasi sehingga alam, budaya, infrastruktur, dan kenyamanan warga terganggu.
Di sinilah regenerative ecotourism terasa nyambung dengan keresahan traveler masa kini. Konsep ini tidak menyuruh orang berhenti liburan. Ia juga tidak membuat perjalanan terasa kaku dan penuh larangan. Yang berubah adalah standar penilaiannya. Traveler mulai ingin tahu apakah pengalaman yang mereka beli ikut membiayai konservasi, memperkuat ekonomi lokal, menjaga satwa, mengurangi sampah, dan memperbaiki kualitas destinasi.
Bagi Indonesia, perubahan ini sangat penting. Indonesia punya hutan tropis, laut, taman nasional, desa adat, geopark, kawasan mangrove, pulau kecil, satwa endemik, dan kekayaan budaya yang luar biasa besar. Tetapi kekayaan itu bisa cepat lelah jika dikelola hanya dengan logika viralitas dan volume. Destinasi yang indah hari ini bisa kehilangan pesonanya dalam beberapa tahun jika tidak ada batas daya dukung, pembiayaan konservasi, pengelolaan limbah, dan distribusi manfaat yang adil bagi masyarakat lokal.
Regenerative ecotourism menawarkan jalan tengah yang lebih matang. Wisatawan tetap bisa menikmati perjalanan. Pelaku usaha tetap bisa membangun bisnis. Pemerintah daerah tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi. Namun, semua itu perlu diletakkan dalam sistem yang membuat alam tidak hanya dipakai, tetapi dipulihkan; budaya tidak hanya ditampilkan, tetapi dihormati; dan masyarakat lokal tidak hanya menjadi pelengkap cerita, tetapi pemilik nilai.
Chapter 1: Dari Liburan Estetik ke Liburan yang Punya Dampak

Traveler muda tidak sedang meninggalkan estetika. Sunset tetap dicari. Pantai jernih tetap menggoda. Kabin di tengah hutan tetap punya daya tarik. Jalur trekking yang fotogenik tetap bikin orang ingin berangkat. Bedanya, estetika sekarang bukan lagi akhir cerita. Traveler mulai ingin tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Di masa lalu, ukuran sukses destinasi sering terlalu sederhana. Jumlah pengunjung naik, hotel penuh, destinasi viral, dan konten media sosial bertambah. Sekarang ukuran itu terasa kurang lengkap. Jika kunjungan meningkat tetapi sampah ikut melonjak, satwa terganggu, warga lokal hanya mendapat manfaat kecil, dan kualitas alam menurun, destinasi tersebut sebenarnya sedang membangun risiko jangka panjang.
Perubahan ini terlihat dari naiknya perhatian terhadap sustainable travel. Sustainable travel berarti perjalanan yang berusaha mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat, sambil memberi manfaat yang lebih adil bagi destinasi. Pada 2016, 42% wisatawan global mulai menganggap dirinya sustainable traveler. Pada 2020, 87% ingin bepergian secara berkelanjutan. Pada 2025, 93% ingin membuat pilihan perjalanan lebih berkelanjutan. Pada 2026, 85% diproyeksikan tetap menyebut sustainable travel penting atau sangat penting.
Tabel berikut melengkapi Tabel 1 dengan fokus pada perilaku traveler. Jika Tabel 1 membaca pasar dari sisi skala dan nilai ekonomi, Tabel 2 membaca perubahan dari sisi cara traveler memilih, memesan, dan menilai perjalanan.
Tabel 2. Pergeseran Perilaku Traveler Menuju Sustainable Travel, 2016–2026
Indikator | 2016 | 2020 | 2025 | 2026 Proyeksi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
Sustainable traveler, % wisatawan global | 42% | 87% | 93% | 85% | Minat perjalanan berkelanjutan |
Certified sustainable room nights, juta room nights | 20–30 | 40–50 | >100 | 110–130 | Booking akomodasi tersertifikasi |
Perhatian pada dampak komunitas, % traveler | 40–50% | 60–70% | 70–80% | 75–85% | Sensitivitas terhadap manfaat lokal |
Kritis terhadap klaim hijau, % traveler | 30–40% | 50–60% | 65–75% | 70–80% | Risiko greenwashing |
Minat pengalaman alam terbuka, % traveler | 45–55% | 65–75% | 70–80% | 75–85% | Dorongan menuju nature-based tourism |
Sumber Data: Booking.com Sustainable Travel Research, Global Sustainable Tourism Council, UN Tourism, dan sintesis tren pasar sustainable travel. Periode data: 2016–2026. Angka dalam bentuk rentang digunakan untuk indikator perilaku yang bersifat estimasi tren, sedangkan angka sustainable traveler mengacu pada hasil survei global.
Tabel ini menunjukkan bahwa sustainable travel sudah bergerak dari niche menuju mainstream. Pada 2016, angka 42% menandai fase awal ketika kesadaran mulai masuk pasar global. Setelah 2020, perubahan menjadi jauh lebih kuat. Angka 87% memperlihatkan bahwa perjalanan berkelanjutan mulai menjadi aspirasi mayoritas, bukan lagi pilihan segelintir traveler yang sangat peduli lingkungan.
Pada 2025, angka 93% menunjukkan bahwa traveler tidak hanya ingin bepergian, tetapi ingin memilih dengan lebih sadar. Lebih dari 100 juta room nights di akomodasi tersertifikasi menjadi sinyal penting bahwa minat mulai bergerak dari niat ke perilaku booking. Tahun 2026 menunjukkan fase baru: minat tetap tinggi di 85%, tetapi traveler makin kritis terhadap klaim hijau yang tidak jelas.
Di titik ini, wisata estetik tidak hilang; posisinya berubah. Visual tetap penting sebagai pintu masuk. Foto yang bagus masih bisa membuat orang tertarik. Namun, trust atau kepercayaan menjadi faktor yang membuat orang benar-benar memilih, merekomendasikan, dan kembali. Destinasi yang indah akan menarik perhatian, tetapi destinasi yang jujur, terukur, dan memberi manfaat lokal akan lebih mudah membangun reputasi jangka panjang.
Chapter 2: Dari Sustainable Tourism Menuju Regenerative Ecotourism
Sustainable tourism sudah lama menjadi dalah utama dalam pariwisata yang lebih bertanggung jawab. Konsep ini penting karena mengingatkan dalahv bahwa liburan tidak boleh hanya mengejar okupansi hotel, jumlah kunjungan, dan pertumbuhan pendapatan. Ada alam yang harus dijaga, warga dala yang harus ikut dalahve, dan budaya yang tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai dekorasi wisata.
Namun, bagi traveler muda hari ini, prinsip “jangan merusak” mulai terasa belum cukup. Mereka ingin tahu apakah sebuah destinasi hanya mengurangi dampak dalahv, atau benar-benar ikut memperbaiki kondisi alam dan sosial di sekitarnya. Di sinilah regenerative ecotourism menjadi relevan. Jika sustainable tourism berusaha mengurangi kerusakan, regenerative ecotourism berusaha menciptakan dampak positif yang bisa dirasakan.
Bentuknya bisa sangat konkret. Destinasi pesisir dapat menjalankan restorasi mangrove, rehabilitasi terumbu karang, dan pembatasan jumlah pengunjung di spot snorkeling. Kawasan hutan dapat membangun jalur trekking terkendali, melatih pemandu dala, dan menggunakan dalahv pendapatan tiket untuk dalah konservasi. Desa wisata dapat memperkuat homestay warga, pangan dala, koperasi komunitas, dan pengelolaan sampah yang benar-benar berjalan.
Untuk membedakan level ambisinya, dala berikut menyajikan perbedaan sustainable tourism, ecotourism, dan regenerative ecotourism. Angka dalam dala bersifat benchmark manajerial agar konsep tidak berhenti sebagai slogan.
Tabel 3. Perbedaan Sustainable Tourism, Ecotourism, dan Regenerative Ecotourism
Indikator | Sustainable Tourism | Ecotourism | Regenerative Ecotourism | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Fokus pengurangan dampak negatif | 70–80% | 50–60% | 30–40% | Sustainable tourism kuat pada mitigasi |
Fokus pemulihan ekosistem | 20–30% | 40–50% | 60–80% | Regenerative menempatkan restorasi sebagai inti |
Alokasi pendapatan untuk konservasi | 1–3% | 3–7% | 5–15% | Dana konservasi perlu dipisahkan dan dilaporkan |
Keterlibatan tenaga kerja lokal | 30–50% | 50–70% | 60–80% | Warga dala menjadi bagian utama dari nilai destinasi |
Area dalahve dengan dalah kuota | 20–40% | 40–70% | 70–100% | Kawasan rapuh perlu dikelola berbasis daya dukung |
Pelaporan dampak | 0–1 kali/tahun | 1 kali/tahun | 1–2 kali/tahun | Transparansi menjadi pembeda utama |
Sumber Data: Global Sustainable Tourism Council, United Nations Tourism, The International Ecotourism Society, dan sintesis praktik manajemen destinasi berkelanjutan. Periode rujukan: 2016–2026. Angka dalam dala dalah benchmark manajerial indikatif dan perlu disesuaikan dengan karakter destinasi.
Tabel ini menunjukkan bahwa sustainable tourism tetap penting, tetapi belum tentu cukup untuk menjawab ekspektasi traveler masa kini. Sustainable tourism membantu destinasi mengurangi kerusakan. Ecotourism menambahkan unsur alam, edukasi, dan manfaat lokal. Regenerative ecotourism membawa semuanya satu langkah lebih jauh: destinasi harus punya agenda pemulihan yang bisa dijelaskan dengan data.
Semakin tinggi standar pariwisata berbasis alam, semakin besar kebutuhan untuk mengukur dampak. Klaim tidak lagi bisa berdiri sendiri. Jika sebuah destinasi mengatakan dirinya regenerative, maka harus ada angka yang mendukung: berapa dana konservasi, berapa warga lokal terlibat, berapa area dipulihkan, berapa sampah dikelola, dan berapa kapasitas kunjungan yang ditetapkan.
Bagi Indonesia, logika ini sangat relevan. Banyak destinasi memiliki kekuatan visual luar biasa, tetapi belum semuanya memiliki sistem dampak yang kuat. Jika Indonesia ingin memenangkan pasar regenerative ecotourism, destinasi tidak cukup hanya dipromosikan. Ia perlu dikelola seperti aset hidup: ada batas kunjungan, pengelolaan limbah, dana konservasi, pelibatan masyarakat, dan laporan dampak yang mudah dipahami.
Chapter 3: Wisata Satwa Naik Kelas dari Atraksi Menjadi Konservasi Etis
Wisata satwa adalah salah satu titik paling sensitif dalam ecotourism modern. Dulu, pengalaman dekat dengan satwa sering dianggap sebagai momen liburan yang spesial. Traveler bisa berfoto dengan hewan eksotis, memberi makan satwa liar, menonton pertunjukan, atau menunggangi satwa besar. Sekarang, cara pandang itu berubah. Kedekatan fisik tidak lagi otomatis dianggap sebagai pengalaman yang baik.
Animal welfare atau kesejahteraan satwa menjadi standar penting. Artinya, satwa harus bisa hidup sehat, bergerak alami, tidak dipaksa tampil, dan tidak dijadikan properti hiburan manusia. Dalam regenerative ecotourism, satwa bukan objek foto. Satwa adalah bagian dari ekosistem hidup yang perlu dihormati. Traveler tetap bisa mengamati, belajar, dan ikut mendukung konservasi, tetapi interaksinya harus dibatasi agar tidak mengganggu perilaku alami satwa.
Perubahan ini sangat penting bagi Indonesia. Orangutan, komodo, penyu, cenderawasih, hiu paus, pari manta, harimau sumatra, badak, dan berbagai satwa endemik lain adalah kekuatan besar dalam wisata alam. Namun, aset ini mudah berubah menjadi risiko reputasi jika dikelola dengan cara lama. Di era media sosial, praktik eksploitasi satwa bisa cepat menjadi sorotan negatif dan menurunkan kepercayaan traveler.
Tabel berikut menyajikan indikator wisata satwa etis yang dapat dipakai sebagai acuan. Angka dalam tabel bukan aturan tunggal untuk semua destinasi, tetapi benchmark agar wisata satwa tidak berhenti di narasi edukasi tanpa perlindungan nyata.
Tabel 4. Indikator Wisata Satwa Etis dalam Regenerative Ecotourism
Indikator | Praktik Lama | Standar Etis | Target Kuantitatif | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Kontak fisik paksa dengan satwa liar | Tinggi | Nol | 0% | Tidak ada menyentuh, memeluk, menunggangi, atau memaksa satwa tampil |
Atraksi non-alami | Sedang–tinggi | Nol | 0% | Satwa tidak dilatih untuk hiburan wisatawan |
Pemandu dengan pelatihan satwa | Rendah–sedang | Wajib | 100% | Pemandu memahami perilaku satwa dan keselamatan pengunjung |
Area sensitif dengan sistem kuota | Rendah | Tinggi | 70–100% | Habitat rapuh perlu dibatasi jumlah kunjungannya |
Pendapatan program untuk konservasi | Tidak jelas | Terukur | 5–10% | Dana konservasi perlu dipisahkan dan dilaporkan |
Tenaga kerja lokal dalam wisata satwa | Bervariasi | Dominan | 50–70% | Warga lokal menjadi pemandu, penjaga, dan mitra konservasi |
Sumber Data: World Animal Protection, Global Sustainable Tourism Council, World Travel & Tourism Council, dan sintesis praktik wisata satwa etis. Periode rujukan: 2016–2026. Angka target bersifat benchmark manajerial dan perlu disesuaikan dengan jenis satwa, habitat, dan aturan konservasi setempat.
Tabel ini mengubah cara kita membaca wisata satwa. Pengalaman terbaik bukan lagi yang membuat traveler paling dekat dengan hewan, tetapi yang membuat satwa tetap paling bebas menjadi dirinya sendiri. Melihat penyu bertelur dari jarak aman, menyaksikan burung endemik di habitat asli, atau mengamati orangutan dari jalur terkendali jauh lebih bernilai daripada foto dekat yang mengorbankan perilaku alami hewan.
Di sisi lain, wisata satwa etis tetap bisa kuat secara emosional. Traveler tidak harus menyentuh satwa untuk merasa terhubung. Justru pengalaman yang dijelaskan dengan baik oleh pemandu lokal, didukung cerita konservasi, dan disertai kontribusi nyata untuk habitat sering terasa lebih dalam. Di sini, edukasi menggantikan eksploitasi.
Bagi destinasi, standar satwa etis bukan hanya isu moral, tetapi juga strategi reputasi. Traveler muda makin cepat membaca praktik yang tidak wajar. Destinasi yang berani meninggalkan atraksi eksploitatif akan terlihat lebih kredibel, sementara destinasi yang bertahan pada cara lama berisiko kehilangan kepercayaan pasar.
Chapter 4: Komunitas Lokal Harus Menjadi Pemilik Nilai
Regenerative ecotourism tidak akan kuat jika masyarakat lokal hanya menjadi pelengkap cerita. Banyak destinasi menjual keramahan warga, makanan tradisional, tarian adat, desa tua, dan cerita leluhur sebagai daya tarik. Tetapi pertanyaan paling penting adalah: berapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di komunitas tersebut?
Community-based tourism atau pariwisata berbasis komunitas berarti model wisata yang dirancang, dikelola, dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat lokal. Warga bukan hanya pekerja layanan, tetapi ikut menentukan harga, kapasitas kunjungan, narasi budaya, aturan interaksi, pengelolaan lingkungan, dan arah pengembangan destinasi. Ini penting karena pariwisata alam sering mengalami economic leakage, yaitu kebocoran ekonomi ketika belanja wisatawan mengalir keluar dari destinasi melalui operator luar, pemasok luar daerah, atau pemilik modal eksternal.
Traveler muda makin peka terhadap isu ini. Mereka tidak hanya mencari tempat yang “autentik”, tetapi juga ingin tahu apakah autentisitas itu memberi manfaat kepada pemilik budayanya. Jika budaya lokal dijual sebagai pengalaman, maka masyarakat lokal harus menjadi penerima manfaat utama. Kalau tidak, ecotourism hanya menjadi versi baru dari pariwisata lama yang memakai wajah lokal, tetapi nilai ekonominya pergi ke luar.
Agar dampaknya lebih terasa, tabel berikut memakai simulasi sederhana. Asumsinya, satu destinasi menerima 10.000 traveler per tahun, rata-rata spending USD 250/traveler, sehingga total belanja wisatawan mencapai USD 2,5 juta/tahun. Dengan kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700, nilainya setara sekitar Rp 41,75 miliar/tahun. Angka ini bukan klaim untuk semua destinasi, tetapi contoh agar pembaca bisa membayangkan arti distribusi nilai lokal dalam bentuk uang.
Tabel 5. Simulasi Distribusi Nilai Lokal dalam Regenerative Ecotourism
Indikator | Model Konvensional | Model Regenerative | Nilai Lokal Model Regenerative | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Belanja wisatawan yang tinggal di lokal | 10–30% | 40–60% | USD 1,0–1,5 juta / Rp 16,70–25,05 miliar | Uang berputar di homestay, pemandu, pangan lokal, transportasi, dan UMKM |
Tenaga kerja lokal | 30–50% | 50–70% | 50–70 orang per 100 pekerja | Warga menjadi bagian utama dari operasi wisata |
Pemandu lokal | 30–50% | 70–90% | 70–90 orang per 100 pemandu | Cerita destinasi lebih autentik dan manfaat lebih merata |
Pengadaan pangan lokal | 20–40% | 40–60% | USD 0,4–0,6 juta / Rp 6,68–10,02 miliar* | Petani, nelayan, dan UMKM lokal masuk rantai pasok |
Unit usaha milik lokal | 10–30% | 30–50% | 30–50 unit per 100 usaha | Homestay, koperasi, BUMDes, dan usaha warga menjadi pemain utama |
Pendapatan untuk dana komunitas/konservasi | 0–3% | 5–10% | USD 125–250 ribu / Rp 2,09–4,18 miliar | Dana dipisahkan agar manfaatnya mudah dilacak |
Pelatihan warga | 0–1 kali/tahun | 2–4 kali/tahun | 2–4 program/tahun | Kapasitas lokal diperkuat secara rutin |
Sumber Data: United Nations Tourism, Global Sustainable Tourism Council, United Nations Environment Programme, dan sintesis praktik community-based tourism. Periode rujukan: 2016–2026. Simulasi memakai asumsi 10.000 traveler/tahun, spending USD 250/traveler, total spending USD 2,5 juta/tahun, dan kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700. Tanda * pada pengadaan pangan lokal memakai asumsi bahwa sekitar 40% total spending wisatawan terkait konsumsi, kuliner, dan pasokan lokal.
Tabel ini menunjukkan bahwa kata “lokal” harus diterjemahkan menjadi angka. Jika total belanja wisatawan mencapai USD 2,5 juta atau sekitar Rp 41,75 miliar per tahun, maka perbedaan model bisnis menjadi sangat terasa. Pada model regenerative, ketika 40–60% belanja tinggal di lokal, nilai yang berputar di masyarakat bisa mencapai Rp 16,70–25,05 miliar per tahun. Ini bukan sekadar angka ekonomi; ini bisa menjadi pendapatan homestay, pemandu, warung, nelayan, petani, pengrajin, dan operator lokal.
Lebih jauh, komunitas lokal tidak boleh hanya hadir sebagai dekorasi budaya. Jika desa, adat, bahasa, makanan, dan lanskap sosial menjadi daya tarik, maka warga harus ikut menentukan cara semuanya ditampilkan. Regenerative ecotourism menuntut relasi yang lebih adil antara traveler, operator, pemerintah, dan komunitas tuan rumah.
Agar model ini berjalan, komunitas tetap perlu ditopang dengan profesionalisme. Warga perlu diperkuat dalam standar layanan, keselamatan, kebersihan, bahasa asing, pemasaran digital, pencatatan keuangan, dan pengelolaan konflik. Di titik ini, pemerintah, kampus, koperasi, Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes, operator tur, dan lembaga konservasi dapat masuk sebagai mitra. Perannya bukan mengambil alih, tetapi memperkuat kapasitas lokal agar destinasi bisa tumbuh tanpa kehilangan pemilik aslinya.
Chapter 5: Harga, Greenwashing, dan Tantangan Membuat Ecotourism Tetap Inklusif
Minat terhadap ecotourism memang naik, tetapi tidak semua traveler mampu membayar harga premium. Banyak anak muda ingin memilih perjalanan yang lebih bertanggung jawab, tetapi tetap mempertimbangkan harga, akses, waktu, kenyamanan, dan kemudahan pemesanan. Di sinilah muncul value-action gap, yaitu jarak antara nilai yang diyakini dengan keputusan nyata yang akhirnya diambil.
Value-action gap membuat pasar ecotourism harus realistis. Traveler bisa peduli lingkungan, tetapi tetap memilih opsi lebih murah jika pilihan eco-friendly terlalu mahal, informasinya tidak jelas, atau proses booking-nya merepotkan. Jadi, tantangannya bukan hanya membuat produk yang baik untuk alam, tetapi juga membuatnya mudah dipahami, mudah dibeli, dan terasa worth it.
Tantangan berikutnya adalah greenwashing. Dalam tourism, greenwashing terjadi ketika hotel, destinasi, atau operator memakai kata “eco”, “green”, “natural”, atau “sustainable” tanpa bukti operasional yang kuat. Traveler generasi baru cukup cepat membaca klaim seperti ini. Mereka bisa membandingkan ulasan, mencari informasi, melihat praktik di lapangan, lalu membagikan pengalaman buruk jika merasa tertipu.
Tabel berikut merangkum tantangan pasar regenerative ecotourism dan indikator solusi yang bisa dipakai. Tabel ini penting karena ecotourism harus tetap inklusif. Jika hanya tersedia sebagai produk mahal, dampaknya akan terbatas dan citranya bisa menjadi elitis.
Tabel 6. Tantangan Pasar dan Solusi Regenerative Ecotourism
Indikator | Kondisi Risiko | Target Solusi | Ukuran Kuantitatif | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
Premium harga eco-accommodation | 10–30% | Bertingkat | 3 kelas harga | Pilihan harga membuat ecotourism lebih inklusif |
Informasi dana konservasi | Tidak jelas | Transparan | 100% terbuka | Traveler perlu tahu uang tambahan digunakan untuk apa |
Indikator dampak yang dipublikasikan | 0–2 indikator | Terukur | Minimal 5 indikator | Sampah, tenaga lokal, dana konservasi, energi, dan kuota kunjungan |
Area sensitif dengan kuota | Rendah | Wajib | 70–100% | Kuota melindungi habitat dan kualitas pengalaman |
Laporan dampak | Tidak rutin | Berkala | 1–2 kali/tahun | Transparansi menjaga kepercayaan pasar |
Pelatihan layanan lokal | Sporadis | Rutin | 2–4 kali/tahun | Kualitas pengalaman perlu konsisten |
Kontribusi konservasi sukarela | Terbatas | Mudah diakses | 1–5% dari nilai transaksi | Traveler bisa ikut berkontribusi sesuai kemampuan |
Sumber Data: Booking.com Sustainable Travel Research, Global Sustainable Tourism Council, United Nations Tourism, dan sintesis praktik pengelolaan destinasi. Periode rujukan: 2016–2026. Angka bersifat benchmark manajerial indikatif dan perlu disesuaikan dengan kelas destinasi, daya beli pasar, serta karakter wilayah.
Tabel ini menunjukkan bahwa regenerative ecotourism harus dirancang seperti produk yang benar-benar hidup di pasar. Niat baik saja tidak cukup. Traveler perlu harga yang masuk akal, informasi yang jelas, proses yang mudah, dan bukti dampak yang sederhana. Jika semua itu tidak tersedia, mereka bisa kembali ke pilihan konvensional meskipun sebenarnya peduli lingkungan.
Hal penting berikutnya, transparansi harus menjadi bagian dari pengalaman wisata. Menjelaskan bahwa 10% tiket masuk digunakan untuk konservasi mangrove, 60% pemandu berasal dari warga lokal, atau 80% sampah organik diolah menjadi kompos akan membuat klaim lebih mudah dipercaya. Angka seperti ini tidak membuat cerita menjadi kaku; justru memberi traveler alasan untuk merasa bahwa pilihannya berarti.
Pada akhirnya, masa depan ecotourism harus tetap terbuka bagi lebih banyak orang. Tidak semua traveler bisa membayar paket premium, tetapi banyak yang ingin berkontribusi. Karena itu, destinasi perlu menyediakan pilihan bertingkat: eco-resort, homestay lokal, tur komunitas, trekking edukatif, paket konservasi singkat, kontribusi sukarela, dan pengalaman alam yang tetap terjangkau. Dengan cara ini, regenerative ecotourism tidak hanya menjadi gaya hidup kelas atas, tetapi gerakan perjalanan yang lebih luas.
Case Study 1: Bhutan — Saat Negara Memilih Wisata Berkualitas, Bukan Wisata Seramai Mungkin
Bhutan adalah contoh menarik karena sejak awal tidak memandang pariwisata sebagai permainan volume. Ketika negara ini mulai membuka diri untuk wisatawan internasional pada 1974, tantangannya bukan sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak orang. Tantangannya adalah bagaimana menjaga pegunungan, biara, hutan, desa tradisional, dan budaya spiritual agar tidak berubah menjadi komoditas massal.
Dari sini lahir pendekatan high value, low volume, yang kemudian berkembang menjadi high value, low impact. Artinya, Bhutan lebih memilih wisatawan yang datang dengan kesadaran, tinggal dengan tertib, dan ikut membayar biaya perlindungan destinasi. Setelah pandemi, pendekatan ini diperkuat melalui Sustainable Development Fee (SDF), yaitu biaya pembangunan berkelanjutan yang dibayar wisatawan untuk mendukung lingkungan, budaya, infrastruktur, dan kesejahteraan sosial.
Pada 2022, Bhutan menaikkan SDF menjadi USD 200/orang/malam, lalu pada 2023 menyesuaikannya menjadi USD 100/orang/malam agar tetap menjaga prinsip keberlanjutan tetapi lebih realistis bagi pasar. Dengan kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700, angka itu setara sekitar Rp 1,67 juta/orang/malam. Bagi sebagian traveler, ini terasa mahal. Tetapi bagi Bhutan, angka tersebut adalah cara untuk mengatakan bahwa alam dan budaya tidak boleh dinikmati tanpa ikut dibiayai perlindungannya.
Tabel berikut disajikan untuk menunjukkan inti pembelajaran Bhutan: bukan berapa ramai destinasinya, tetapi bagaimana negara mengubah biaya wisata menjadi alat menjaga kualitas destinasi.
Tabel 7. Bhutan: Mengelola Wisata dengan Prinsip High Value, Low Impact
| No. | Indikator | Data / Kebijakan | Arti Strategis |
|---|---|---|---|
| 1 | Tahun pembukaan pariwisata internasional | 1974 | Bhutan sejak awal memilih pariwisata terkendali |
| 2 | Jumlah pengunjung sebelum pandemi | 315.599 arrivals pada 2019 | Menunjukkan pasar sudah tumbuh sebelum kebijakan pascapandemi diperkuat |
| 3 | Jumlah pengunjung pascapandemi | ±210.000 arrivals pada 2025 | Pemulihan berjalan bertahap, tidak langsung mengejar volume maksimal |
| 4 | Sustainable Development Fee | USD 100/orang/malam | Wisatawan ikut membayar biaya keberlanjutan destinasi |
| 5 | Konversi SDF ke rupiah | ±Rp 1,67 juta/orang/malam | Memberi gambaran skala kontribusi bagi pembaca Indonesia |
| 6 | Diskon anak 6–12 tahun | 50% | Kebijakan tetap memberi ruang bagi wisata keluarga |
| 7 | Anak usia 0–5 tahun | Bebas SDF | Prinsip keberlanjutan dibuat lebih proporsional |
Sumber Data: Department of Tourism Bhutan, Visit Bhutan, Bhutan Tourism Monitor, BBS Bhutan, dan publikasi industri pariwisata Bhutan. Periode rujukan: 1974–2026. Konversi rupiah memakai kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Dari tabel ini, terlihat bahwa keberhasilan Bhutan tidak terletak pada jumlah wisatawan yang paling besar. Justru kekuatannya ada pada kemampuan menahan diri. Negara ini tidak menjadikan jumlah kunjungan sebagai satu-satunya ukuran sukses. Kualitas pengalaman, perlindungan budaya, dan pembiayaan keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari model bisnis pariwisata.
Insight untuk Indonesia cukup jelas. Tidak semua destinasi cocok dikelola dengan logika ramai. Taman nasional, pulau kecil, kawasan adat, desa konservasi, dan jalur trekking sensitif lebih cocok memakai pendekatan kuota, reservasi, tarif konservasi, dan pembatasan kapasitas. Jika destinasi terlalu rapuh, membatasi jumlah wisatawan bukan tanda gagal. Itu justru tanda pengelolaan yang dewasa.
Case Study 2: Soneva Fushi — Saat Resort Mewah Mengubah Sampah Menjadi Nilai
Soneva Fushi berbeda dari Bhutan karena masalahnya bukan pada kebijakan negara, tetapi pada operasi resort. Resort ini mulai beroperasi pada 1995 di Maladewa, negara kepulauan yang sangat rentan terhadap limbah, air terbatas, energi, dan pencemaran laut. Dalam resort pulau kecil, sampah tidak bisa dianggap urusan belakang. Jika tidak dikelola sejak awal, limbah makanan, botol, kemasan, dan material operasional dapat menjadi beban langsung bagi ekosistem.
Soneva memilih pendekatan yang sederhana tetapi kuat: sampah tidak dilihat sebagai sisa, melainkan sebagai bahan baku baru. Dari sini berkembang konsep Eco Centro dan waste to wealth. Eco Centro dalah pusat pengolahan limbah internal, sedangkan waste to wealth berarti mengubah limbah menjadi nilai ekonomi atau ekologis. Limbah dalah bisa menjadi kompos. Kayu dan material tertentu bisa diolah ulang. Sampah yang biasanya keluar dari pulau ditekan agar lebih banyak dalah ke dalah operasi.
Untuk Soneva Fushi, data jumlah tamu, spending per tamu, dan lama tinggal tidak tersedia dalah secara konsisten karena dalaho ini dalah private resort. Karena itu, pembelajaran paling kuat bukan pada angka kunjungan, melainkan pada dalahor operasional yang tersedia: seberapa besar limbah dikonversi, apa output-nya, dan bagaimana limbah berubah dari biaya menjadi nilai. Soneva menyatakan program waste-to-wealth menghasilkan sekitar USD 3,5 juta, atau sekitar Rp 58,45 miliar dengan kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Tabel berikut disusun untuk memperlihatkan logika perubahan Soneva: dari resort yang berisiko menciptakan limbah menjadi resort yang memasukkan pengelolaan limbah ke dalam desain bisnisnya.
Tabel 8. Soneva Fushi: Mengubah Limbah Resort menjadi Nilai Operasional
No. | Indikator | Data / Praktik | Arti Strategis |
|---|---|---|---|
1 | Tahun mulai beroperasi | 1995 | Risiko limbah muncul sejak resort pulau kecil mulai berjalan |
2 | Sistem utama | Eco Centro | Limbah dikelola di dalam ekosistem resort |
3 | Pendekatan operasional | Waste to wealth | Sampah diperlakukan sebagai input produktif |
4 | Output pengolahan | Kompos, biochar, arang, mulsa, soil conditioner | Limbah dikembalikan menjadi nilai ekologis |
5 | Limbah yang dikonversi | Hampir 80% | Indikator bahwa pengelolaan dilakukan secara sistematis |
6 | Nilai ekonomi program | USD 3,5 juta | Pengelolaan lingkungan dapat menciptakan nilai bisnis |
7 | Konversi nilai ekonomi | ±Rp 58,45 miliar | Menunjukkan skala manfaat dalam konteks pembaca Indonesia |
Sumber Data: Soneva sustainability communication, One Planet Network, Biovision Foundation, Sustainable Hospitality Alliance, dan publikasi terkait Eco Centro. Periode rujukan: 1995–2025. Mata uang nasional Maladewa dalah Maldivian Rufiyaa, tetapi nilai program yang dipublikasikan menggunakan USD. Konversi rupiah memakai kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Tabel ini memperlihatkan bahwa sustainability tidak harus tampil sebagai slogan. Di Soneva Fushi, sustainability bekerja di belakang layar: di dapur, gudang, kebun, ruang pengolahan limbah, dan rantai pasok. Traveler mungkin datang untuk luxury, tetapi yang menjaga reputasi jangka panjang adalah sistem operasional yang lebih bersih.
Insight untuk Indonesia sangat praktis. Resort pulau kecil, homestay, desa wisata, dan kawasan konservasi tidak perlu meniru mahalnya Soneva. Yang perlu ditiru adalah disiplin sistemnya. Pemilahan sampah, kompos organik, pengurangan plastik sekali pakai, refill water, pembelian pangan lokal, dan laporan dampak bisa dimulai dalam skala kecil. Regenerative ecotourism tidak harus selalu mewah; yang penting adalah serius, konsisten, dan bisa dibuktikan.
Case Study 3: Costa Rica — Saat Konservasi Menjadi Identitas Ekonomi Nasional
Costa Rica memberi pelajaran berbeda. Masalah utamanya bukan tarif masuk seperti Bhutan atau operasi resort seperti Soneva, tetapi bagaimana sebuah negara memberi nilai ekonomi pada alam yang dijaga. Pada dekade 1980-an, Costa Rica menghadapi tekanan deforestasi yang serius. Hutan lebih mudah menghasilkan uang ketika dikonversi, sementara hutan yang dijaga sering dianggap tidak produktif secara ekonomi.
Costa Rica kemudian membangun pendekatan Payment for Ecosystem Services (PES) atau pembayaran jasa lingkungan. Program ini mulai berjalan setelah Forestry Law 1996 dan diterapkan pada 1997. Prinsipnya sederhana: pemilik lahan dan komunitas diberi insentif untuk menjaga fungsi ekosistem, seperti air, karbon, biodiversitas, dan keindahan lanskap. Dengan begitu, alam tidak hanya bernilai ketika ditebang atau dikonversi, tetapi juga ketika dilindungi.
Hasilnya terlihat dalam jangka panjang. Tutupan hutan Costa Rica pulih dari sekitar 21% pada 1987 menjadi sekitar 57% pada 2017. Dari sisi pariwisata, Costa Rica menerima sekitar 2,5 juta wisatawan internasional pada 2023, dengan spending sekitar USD 1.590/turis/trip dan lama tinggal rata-rata sekitar 13,5 malam. Angka-angka ini menunjukkan bahwa konservasi bukan beban pembangunan. Jika dirancang dengan benar, konservasi bisa menjadi identitas ekonomi.
Tabel berikut menampilkan data yang paling relevan untuk membaca transformasi Costa Rica: pemulihan hutan, jumlah wisatawan, spending, dan lama tinggal. Data yang tidak sebanding antarperiode tidak dipaksakan masuk tabel.
Tabel 9. Costa Rica: Dari Deforestasi menuju Identitas Ecotourism Nasional
No. | Indikator | Titik Awal / Sebelum Model Matang | Sesudah Model Matang | Arti Strategis |
|---|---|---|---|---|
1 | Periode masalah | Deforestasi tinggi pada 1980-an | PES berjalan sejak 1997 | Konservasi diberi mekanisme ekonomi |
2 | Tutupan hutan | ±21% pada 1987 | ±57% pada 2017 | Pemulihan ekologis menjadi fondasi reputasi |
3 | Jumlah wisatawan internasional | Data lama tidak ditampilkan karena basis tidak sebanding | ±2,5 juta arrivals pada 2023 | Reputasi alam memperkuat daya tarik wisata |
4 | Spending per turis | Data lama tidak ditampilkan karena metode tidak sebanding | ±USD 1.590/turis/trip | Quality tourism terlihat dari nilai per kunjungan |
5 | Konversi spending ke rupiah | Tidak digunakan | ±Rp 26,55 juta/turis/trip | Kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700 |
6 | Lama tinggal rata-rata | Data lama tidak ditampilkan karena basis tidak sebanding | ±13,5 malam pada 2023 | Lama tinggal tinggi memperbesar nilai ekonomi |
7 | Identitas destinasi | Alam rentan dikonversi | Ecotourism menjadi reputasi nasional | Konservasi dapat menjadi strategi ekonomi negara |
Sumber Data: OECD Tourism Trends and Policies, World Bank knowledge materials, FAO knowledge materials, Initiative 20×20, Green Growth Knowledge Platform, dan studi PES Costa Rica. Periode rujukan: 1987–2023. Mata uang nasional Costa Rica adalah Costa Rican Colón, tetapi data pariwisata internasional lazim dibaca dalam USD. Konversi rupiah memakai kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Tabel ini menunjukkan bahwa kekuatan Costa Rica bukan hanya pada keindahan alamnya. Banyak negara tropis punya hutan, pantai, gunung, dan satwa liar. Yang membuat Costa Rica menonjol adalah konsistensi: konservasi didukung kebijakan, insentif, kawasan lindung, dan branding destinasi yang saling terhubung.
Insight untuk Indonesia sangat besar. Hutan, mangrove, geopark, taman nasional, desa adat, dan satwa endemik tidak boleh hanya dijual sebagai pemandangan. Semuanya harus diperlakukan sebagai modal hidup. Jika alam diberi nilai ekonomi yang benar, masyarakat lokal punya alasan lebih kuat untuk menjaganya, bukan sekadar mengeksploitasinya.
Kesimpulan
Tiga case study ini menunjukkan bahwa regenerative ecotourism tidak memiliki satu resep tunggal. Bhutan bergerak lewat kebijakan negara. Soneva Fushi bergerak lewat operasi bisnis. Costa Rica bergerak lewat strategi konservasi nasional. Jalannya berbeda, tetapi logikanya sama: pariwisata alam hanya akan bertahan jika punya sistem yang menjaga aset utamanya.
Bhutan mengajarkan bahwa destinasi rapuh tidak harus mengejar keramaian. Soneva Fushi menunjukkan bahwa hotel dan resort bisa membuat sustainability bekerja di level operasional. Costa Rica membuktikan bahwa konservasi dapat menjadi identitas ekonomi jika diberi insentif dan dijalankan konsisten. Ketiganya memperlihatkan bahwa ecotourism tidak cukup dengan narasi indah. Ia perlu angka, tata kelola, dan disiplin implementasi.
Tabel berikut merangkum pembelajaran utama dari tiga model tersebut. Fokusnya bukan mengulang detail case study, tetapi membantu pembaca melihat perbedaan pendekatan dan relevansinya bagi Indonesia.
Tabel 10. Perbandingan Pembelajaran dari Tiga Model Regenerative Ecotourism
No. | Aspek | Bhutan | Soneva Fushi | Costa Rica |
|---|---|---|---|---|
1 | Skala model | Negara | Resort/private island | Negara |
2 | Masalah utama | Risiko wisata massal | Risiko limbah pulau kecil | Deforestasi dan rendahnya nilai hutan yang dijaga |
3 | Instrumen solusi | SDF dan kontrol volume | Eco Centro dan waste-to-wealth | Payment for Ecosystem Services |
4 | Data kunci | SDF USD 100/orang/malam; ±210.000 arrivals pada 2025 | Hampir 80% limbah dikonversi; nilai program USD 3,5 juta | Tutupan hutan ±57%; arrivals 2023 ±2,5 juta |
5 | Perubahan utama | Dari volume menuju kualitas dampak | Dari limbah menjadi input produktif | Dari konservasi pasif menjadi strategi ekonomi |
6 | Pelajaran untuk Indonesia | Cocok untuk pulau kecil, taman nasional, kawasan adat | Cocok untuk resort, homestay, desa wisata | Cocok untuk hutan desa, mangrove, geopark, taman nasional |
7 | Risiko jika tidak diadaptasi | Overtourism dan biaya konservasi tidak tertutup | Sampah menjadi beban destinasi | Alam hanya menjadi komoditas visual |
Sumber Data: Department of Tourism Bhutan, Visit Bhutan, Bhutan Tourism Monitor, BBS Bhutan, Soneva sustainability communication, One Planet Network, Biovision Foundation, OECD Tourism Trends and Policies, World Bank knowledge materials, Initiative 20×20, Green Growth Knowledge Platform, dan studi PES Costa Rica. Periode rujukan: 1974–2026. Konversi rupiah untuk nilai USD memakai kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Dari perbandingan ini, pelajaran untuk Indonesia tidak harus ditelan mentah-mentah. Tidak semua taman nasional perlu meniru Bhutan secara penuh. Tidak semua desa wisata harus menjadi Soneva. Tidak semua kawasan konservasi bisa langsung menjadi Costa Rica. Namun, prinsipnya dapat diadaptasi: destinasi sensitif perlu batas kunjungan, bisnis wisata perlu sistem limbah, dan kawasan alam perlu mekanisme ekonomi agar konservasi tidak kalah oleh eksploitasi.
Dengan cara itu, ecotourism Indonesia bisa keluar dari jebakan “alam indah untuk dipotret” menuju “alam hidup yang dikelola”. Inilah pergeseran pentingnya. Traveler tetap datang untuk pengalaman, tetapi sistem di belakang pengalaman itulah yang menentukan apakah destinasi akan bertahan dalam jangka panjang.
Penutup
Liburan yang baik tidak harus kehilangan rasa senangnya. Traveler tetap boleh mencari pantai yang cantik, gunung yang tenang, hutan yang segar, desa yang hangat, atau resort yang nyaman. Tetapi cara menikmatinya mulai berubah. Generasi baru traveler tidak hanya ingin membawa pulang foto, tetapi juga cerita yang terasa benar: bahwa tempat yang mereka datangi tetap terjaga, warga lokal ikut mendapat manfaat, dan alam tidak diperlakukan sebagai latar sekali pakai.
Untuk Indonesia, arah ini datang pada waktu yang tepat. BPS mencatat rata-rata belanja wisatawan mancanegara pada 2025 sekitar USD 1.267 per kunjungan, atau sekitar Rp 21,16 juta dengan kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700. Lama tinggal rata-rata tercatat sekitar 10,36 malam. Pada kuartal I 2026, belanja rata-rata wisatawan mancanegara dilaporkan meningkat menjadi sekitar USD 1.345,61 per kunjungan, atau sekitar Rp 22,47 juta, dengan lama tinggal sekitar 10,84 malam. Artinya, peluang Indonesia bukan hanya menambah jumlah wisatawan, tetapi meningkatkan nilai per kunjungan.
Untuk memberi gambaran arah ke depan, tabel berikut menyajikan prediksi indikatif pariwisata Indonesia menuju 2030. Angka ini bukan target resmi tunggal, tetapi skenario berbasis tren pemulihan 2025–2026, pertumbuhan kunjungan internasional, belanja per kunjungan, dan potensi kenaikan lama tinggal jika Indonesia memperkuat quality tourism, ecotourism, wellness tourism, cultural tourism, dan regenerative travel.
Tabel 11. Prediksi Indikatif Pariwisata Indonesia 2030
No. | Aspek | Basis 2025 | Skenario 2030 Moderat | Skenario 2030 Optimistis | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
1 | Wisatawan mancanegara, juta kunjungan | 14,6–16,0 | 20–22 | 24–26 | Bergantung konektivitas, visa, promosi, dan kualitas destinasi |
2 | Spending per wisman, USD/kunjungan | 1.267 | 1.450–1.600 | 1.650–1.850 | Naik jika experience-based travel menguat |
3 | Spending per wisman, Rp juta/kunjungan | 21,16 | 24,22–26,72 | 27,56–30,90 | Kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700 |
4 | Total spending wisman, USD miliar | 18,5–20,3 | 29–35 | 39,6–48,1 | Perkalian jumlah wisman dan spending per kunjungan |
5 | Total spending wisman, Rp triliun | 309–339 | 484–585 | 661–803 | Konversi dari USD ke rupiah |
6 | Lama tinggal rata-rata, malam | 10,36 | 10,8–11,5 | 11,5–12,5 | Naik jika destinasi luar Bali lebih siap dan itinerary lebih beragam |
7 | Spending domestik, Rp juta/trip | 2,44 | 2,9–3,2 | 3,2–3,6 | Belanja wisatawan nusantara per perjalanan |
8 | Domestic trips, miliar perjalanan | ±1,1 | 1,3–1,5 | 1,5–1,7 | Wisata nusantara tetap menjadi penopang utama |
9 | Total spending domestik, Rp triliun | ±2.684 | 3.770–4.800 | 4.800–6.120 | Potensi terbesar ada pada pemerataan destinasi domestik |
Sumber Data: BPS, Kementerian Pariwisata, UN Tourism, dan sintesis proyeksi berbasis tren 2025–2026. Periode rujukan: 2025–2030. Angka 2030 bersifat prediksi indikatif, bukan target resmi pemerintah. Konversi rupiah memakai kurs ilustratif 1 USD = Rp 16.700.
Tabel ini menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak cukup dibaca dari jumlah kunjungan. Jika pada 2030 Indonesia mampu menarik 20–22 juta wisatawan mancanegara dengan spending USD 1.450–1.600 per kunjungan, potensi spending wisman dapat mencapai USD 29–35 miliar. Dalam skenario optimistis, jika jumlah kunjungan mencapai 24–26 juta dan spending naik ke USD 1.650–1.850, nilai belanja wisman bisa bergerak ke USD 39,6–48,1 miliar.
Namun, angka besar itu hanya sehat jika tidak dibangun dengan cara yang membuat destinasi lelah. Karena itu, masa depan pariwisata Indonesia sebaiknya tidak hanya mengejar volume. Kuncinya adalah memperpanjang lama tinggal, memperbesar belanja per kunjungan, menyebarkan wisatawan ke lebih banyak destinasi berkualitas, dan memastikan manfaatnya tinggal lebih lama di ekonomi lokal.
Masa depan ecotourism Indonesia sebaiknya dibangun di atas empat fondasi: alam yang dipulihkan, satwa yang dihormati, warga lokal yang menjadi pemilik nilai, dan traveler yang diajak ikut menjaga. Di titik itu, liburan tidak lagi cuma modal estetik. Ia menjadi cara baru menikmati dunia, sambil ikut merawat bumi yang membuat perjalanan itu mungkin terjadi.
Referensi
- What Is Ecotourism, The International Ecotourism Society, The International Ecotourism Society, 2015.
- Sustainable Travel in 2016, Booking.com, Booking.com Newsroom, 2016.
- Tourism and the Sustainable Development Goals: Journey to 2030, Zoritsa Urosevic, Martin Ross, Cláudia Lisboa, Massimiliano Riva, dan Luisa Bernal, World Tourism Organization dan United Nations Development Programme, 2018.
- GSTC Destination Criteria v2.0, Global Sustainable Tourism Council, Global Sustainable Tourism Council, 2019.
- The Economic Impact of Global Wildlife Tourism, World Travel & Tourism Council dan Oxford Economics, World Travel & Tourism Council, 2019.
- Sustainable Travel Report 2020, Booking.com, Booking.com Newsroom, 2020.
- Ecotourism Market by Traveler Type, Age Group and Sales Channel: Global Opportunity Analysis and Industry Forecast 2021–2027, Allied Market Research, Allied Market Research, 2021.
- Payment for Ecosystem Services in Costa Rica: Evaluation of a Country-Wide Program, Juan Murguia, Inter-American Development Bank, 2022.
- Case Study from Soneva: Waste to Wealth, Reducing and Diverting Food Waste, One Planet Network, One Planet Network, 2023.
- OECD Tourism Trends and Policies 2024, Organisation for Economic Co-operation and Development, OECD Publishing, 2024.
- Booking.com’s 2025 Sustainable Travel Research, Booking.com, Booking.com Newsroom, 2025.
- Soneva Fushi Eco Resort, Biovision Foundation, Biovision Foundation, 2025.
- International Visitors Expenditure Statistics 2025, BPS-Statistics Indonesia, BPS-Statistics Indonesia, 2026.
- Domestic Tourism Statistics 2025, BPS-Statistics Indonesia, BPS-Statistics Indonesia, 2026.
- Sustainable Development Fee, Department of Tourism Bhutan, Visit Bhutan, 2026.
- What Locals Want: Booking.com’s Guide to More Sustainable Travel Habits Informed by Residents, Booking.com, Booking.com Newsroom, 2026.
- Ecotourism Market Size, Share & Industry Analysis 2026–2034, Fortune Business Insights, Fortune Business Insights, 2026.