Sebuah Refleksi tentang Etos Belajar, Keseimbangan Tradisi dan Modernitas, serta Pencarian Jati Diri dari Lembah Toba ke Jantung Dunia.
Di Antara Tarutung dan Siborongborong, Di Mana Cahaya Belajar Tak Pernah Padam
Di pagi yang dingin di Tarutung, kabut seperti tirai yang menggantung rendah di atas lembah. Matahari muncul perlahan dari balik bukit-bukit kecil yang memagari daerah itu, menyingkap rumah-rumah kayu yang dipenuhi uap embun. Dari kejauhan, lonceng gereja membelah udara, memanggil orang-orang untuk memulai hari. Jalanan lengang, hanya beberapa pedagang yang melapisi dagangan mereka dengan kain agar tak basah. Di deretan warung lama, bau kopi dari biji lokal menyeruak, hangat dan pekat, seolah menegaskan bahwa pagi di Tarutung selalu dimulai dengan kesederhanaan yang anggun.
Tak jauh dari situ, jalan menuju Siborongborong memanjang bagai untaian cerita. Jalan itu bagaikan syair lama: tikungan-tikungan halus, lembah yang membuka diri, serta hamparan sawah yang dijaga barisan bukit. Udara semakin hangat, namun tetap menyimpan dingin khas Pegunungan Bukit Barisan. Di sinilah banyak anak-anak Batak berangkat ke sekolah mereka, sebagian berjalan kaki, sebagian dibonceng sepeda motor yang masih baru, sebagian menumpang truk yang melintas menuju pasar. Setiap pagi adalah upacara kecil tentang harapan.
Di banyak rumah di antara Tarutung dan Siborongborong, terutama rumah kayu yang berdiri tenang di pinggir sawah atau di tepi bukit, selalu ada satu sudut kecil yang menjadi pusat perhatian keluarga: dinding tempat ijazah digantungkan. Bagi banyak keluarga Batak, terutama di Siborongborong, ijazah bukan sekadar sertifikat sekolah. Ia adalah lambang martabat, bukti bahwa perjalanan panjang keluarga menuju pengetahuan sedang bertumbuh. Ijazah-ijazah itu sering dipasang berjejer: SD, SMP, SMA, kadang diploma, sarjana, bahkan beberapa rumah memasang toga wisuda dalam bingkai.
Di sinilah cerita pendidikan Batak selalu bermula: pada rumah-rumah sederhana yang menyalakan cahaya belajar dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sinilah saya—Martin Nababan, seorang anak dari Siborongborong—membaca kembali akar cerita yang membentuk banyak dari kita: keyakinan bahwa ilmu adalah pencerahan, bahwa sekolah adalah jalan terang, bahwa anak-anak harus diberi kesempatan lebih baik daripada orang tuanya.
Dan dari Tarutung hingga Siborongborong, dari sekolah kecil hingga universitas besar, dari lembah kecil hingga kota-kota jauh, pendidikan telah menjadi urat nadi yang menyatukan Bangso Batak (Bangso Batak = Komunitas/Suku Bangsa Batak), menjadikan mereka salah satu etnis dengan tingkat pendidikan tertinggi di Indonesia.
Cerita ini bukan hanya milik saya; ini adalah cerita sebuah peradaban kecil di utara Sumatera yang mengukir martabatnya di atas ilmu.
BAGIAN I | Zending, Huruf Latin, dan Pencerahan Awal (1860–1930)

Sebuah revolusi sunyi yang lahir dari kitab, kapur tulis, dan keyakinan
Tak ada yang benar-benar dapat menjelaskan mengapa masyarakat Batak menerima huruf Latin dengan begitu cepat pada abad ke-19. Sebelum kedatangan misionaris Jerman dari Rheinische Missionsgesellschaft, masyarakat Batak telah memiliki aksara sendiri yang dipakai untuk ritual dan surat-surat adat: surat Batak. Namun ketika alfabet Latin diperkenalkan, ia seolah-olah menemukan ruang kosong dalam budaya Batak—ruang yang siap diisi dengan bentuk baru pengetahuan.
Sekolah-sekolah zending yang pertama dibuka di Tarutung, kemudian di Humbang dan sekitar Siborongborong, tidak hanya mengajarkan Alkitab. Mereka mengajarkan membaca, menulis, berhitung, dan mengenalkan dunia yang lebih luas. Anak-anak desa yang sebelumnya hanya mengenal hutan, sawah, atau ladang kopi mulai mengenal angka-angka, peta dunia, dan cerita-cerita dari bangsa jauh.
Lingkungan batin masyarakat berubah. Literasi menjadi jendela dunia baru.
DR. SAE Nababan menulis dalam Pelayanan Berteologi di Tengah Pergumulan (2008):
“Zending tidak datang membawa agama saja, tetapi membawa keaksaraan—yang kelak menjadi pintu perubahan sosial.”
Pernyataan itu mengandung kebenaran mendalam. Di banyak desa sekitar Siborongborong, orang tua mulai belajar membaca dari anaknya sendiri. Setiap Sabtu malam, keluarga-keluarga berkumpul mengulang bacaan minggu, mempersiapkan pelayanan gereja esok hari. Belajar menjadi ibadah, bukan sekadar aktivitas duniawi.
Dengan cepat, kualitas literasi meningkat. Sensus dan catatan misi pada 1930 menunjukkan bahwa wilayah Tapanuli menjadi salah satu daerah dengan tingkat melek huruf tertinggi di luar Jawa.
Tabel 1. Awal Literasi Tanah Batak (Perkiraan 1880–1930)
| Indikator | 1880 | 1905 | 1930 |
| Melek huruf | ±20% | ±38% | ±60% |
| Sekolah aktif | 32 | 87 | >150 |
| Guru lokal | ±120 | ±430 | ±1.000 |
| Siswa aktif | ±2.000 | ±5.500 | ±14.000 |
Pertumbuhan literasi di Tanah Batak berlangsung cepat karena pendidikan diintegrasikan ke dalam kehidupan gereja dan masyarakat. Guru lokal menjadi agen perubahan utama, jauh lebih cepat daripada daerah lain. Fondasi ini menciptakan kelas intelektual Batak yang kelak menjadi modal besar republik.
BAGIAN II | Republik, Guru, dan Martabat Anak Desa (1945–1965)
Pendidikan sebagai tugas moral keluarga dan negara
Setelah Indonesia merdeka, sekolah-sekolah di Tarutung, Siborongborong, dan seluruh Tapanuli menjadi pusat aktivitas sosial. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memimpin masyarakat membaca teks proklamasi, menyusun program desa, dan menjalankan administrasi pemerintahan.
Tradisi Batak mengajarkan satu prinsip yang sangat kuat: “Anakkon hi do hamoraon di au.” Anak adalah kekayaanku.
Pada masa ini, makna semboyan itu meluas. Anak bukan hanya kebanggaan keluarga—mereka adalah perpanjangan dari martabat marga. Maka banyak keluarga rela menjual hasil kebun atau tanah kecil agar anak-anak bisa melanjutkan sekolah.
Pendidikan menjadi jembatan ke masa depan, jembatan yang dibangun di atas pengorbanan.
BAGIAN III | Migrasi, Kampus, dan Revolusi Sunyi (1966–1998)
Ketika jalan ke kampus menjadi jalan keluar dari kemiskinan
Era Orde Baru membuka banyak perguruan tinggi negeri dan swasta. Migrasi pendidikan dari Siborongborong, Tarutung, Balige, Siantar, dan sekitarnya meningkat drastis. Anak-anak muda pergi ke Medan, Bandung, Jogja, Jakarta, dan Surabaya, membawa harapan penuh.
Panda Nababan menulis dalam Lahir Sebagai Petarung (2015):
“Orang Batak itu dibesarkan dengan ide bahwa hidup harus diperjuangkan.”
Kampus menjadi ruang perjuangan baru. Di sana, mahasiswa Batak terkenal vokal, kritis, dan gigih. Mereka mengisi fakultas kedokteran, hukum, teknik, ekonomi, hingga sekolah teologi. Revolusi pendidikan ini berlangsung senyap, tetapi dampaknya luar biasa.
Tabel 2. Lulusan Perguruan Tinggi Suku Batak (1970–1998)

| Tahun | Diploma | S1 | S2–S3 |
| 1970 | ±20.000 | ±35.000 | ±800 |
| 1985 | ±50.000 | ±120.000 | ±4.500 |
| 1998 | ±112.000 | ±420.000 | ±12.500 |
Kenaikan jumlah lulusan perguruan tinggi mencerminkan proses mobilitas sosial besar-besaran dalam masyarakat Batak. Kampus menjadi arena transformasi sosial, ekonomi, dan budaya. Pada 1998, kelas menengah Batak terbentuk kuat melalui jalur meritokrasi pendidikan.
BAGIAN IV | Diaspora, Kota, dan Anak Ulos dalam Dunia Digital (1998–2025)
Ilmu yang menghubungkan lembah Toba dengan dunia
Reformasi membuka pintu bagi diaspora. Ribuan orang Batak merantau ke Malaysia, Singapura, Australia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Sebagian bekerja sebagai profesional kesehatan, teknisi, konsultan, dosen, insinyur, dan peneliti.
Asmara Nababan menulis dalam artikelnya untuk Kompas (1997):
“Martabat manusia adalah dasar dari semua perjuangan.”
Pernyataan itu menjadi gambaran diaspora Batak: bekerja keras untuk mempertahankan martabat, meniti profesi dengan ilmu, dan membawa nama keluarga serta marga ke tempat-tempat jauh.
Di kota-kota Indonesia sendiri, anak-anak ulos memasuki dunia digital: data analyst, software developer, UI/UX designer, content strategist, hingga founder startup. Generasi muda Batak tidak lagi menapaki jalan tradisional semata, tetapi merambah ke ruang-ruang baru ekonomi modern.
Tabel 3. Sebaran Profesi Batak (2024)
| Profesi | Persentase | Est. Jumlah |
| Pendidikan & Akademik | 12% | 588.000 |
| Hukum & Pemerintahan | 11% | 539.000 |
| Teknik & Infrastruktur | 14% | 686.000 |
| Kesehatan | 9% | 441.000 |
| Digital & Startup | 11% | 539.000 |
| UMKM & Perdagangan | 16% | 784.000 |
| Seni, Agama, Budaya | 6% | 294.000 |
Komposisi profesi menunjukkan kombinasi antara profesi tradisional dan profesi baru. Dunia digital yang berkembang cepat menunjukkan kemampuan adaptasi masyarakat Batak dalam kompetisi global. Sebaran yang merata di berbagai bidang menandakan elastisitas budaya dan pendidikan.
BAGIAN V | Mengapa Orang Batak Selalu Ingin Sekolah Tinggi?
Etos spiritual, tanggung jawab moral, dan strategi bertahan hidup
Apakah alasan terdalam yang membuat masyarakat Batak selalu menempatkan pendidikan sebagai pilar utama?
Ada beberapa lapisan jawaban.
Pertama, faktor budaya. Hagabeon, hamoraon, hasangapon: tiga nilai inti masyarakat Batak. Namun dalam dunia modern, ketiga hal itu diterjemahkan ulang. Keturunan (hagabeon) tidak lagi diukur dari jumlah, tetapi dari keberhasilan pendidikan. Kekayaan (hamoraon) bukan hanya uang, tetapi ilmu. Kehormatan (hasangapon) bukan hanya garis keturunan, tetapi kontribusi bagi masyarakat.
Kedua, faktor geografis. Tanah Tapanuli yang keras, kurang subur, dan berbukit mendorong orang Batak mencari alternatif mata pencaharian. Otak menjadi “lahan” paling stabil, one way ticket keluar dari keterbatasan.
Ketiga, faktor agama. Pendidikan diletakkan dalam kerangka moral kristiani: membaca, belajar, renungan, pelayanan.
Keempat, faktor pengalaman historis: generasi awal yang berhasil kuliah telah membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan hidup yang efektif.
Pendidikan bagi orang Batak adalah pengalaman batin. Ia lahir dari percakapan malam di rumah kayu, dari doa ibu yang lembut, dari nasihat ayah yang sederhana namun penuh makna. Pendidikan menjadi bahasa cinta, cara keluarga menjaga martabat, dan jembatan menuju masa depan.
Di titik inilah kutipan penulis menemukan tempatnya—sebuah ringkasan dari apa yang dirasakan banyak keluarga Batak tanpa harus mengucapkannya.
“Pendidikan bagi orang Batak adalah warisan berharga yang dibawa oleh iman. Ia adalah tonggak martabat keluarga. Setiap ilmu yang kita raih bukan sekadar bekal mencari kerja, melainkan sebuah mandat suci untuk membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna, terhormat, dan diberkati.” — Martin Nababan
Kutipan ini merangkum esensi pendidikan Batak: bahwa ilmu bukan sekadar alat ekonomi, tetapi jalan spiritual menuju martabat.
Tidak mengherankan jika data BPS menunjukkan bahwa masyarakat Batak memiliki proporsi lulusan pendidikan tinggi tertinggi di Indonesia.
Tabel 4. Perbandingan Pendidikan Etnis Indonesia (2024)
| Etnis | S1 | S2–S3 | Lama Sekolah |
| Batak | 18,02% | 2,3% | 10,6 tahun |
| Minang | 15,6% | 1,8% | 9,8 tahun |
| Jawa | 9,56% | 1,1% | 8,4 tahun |
| Sunda | 7,59% | 0,8% | 8,1 tahun |
| Nasional | 11,4% | 1,3% | 8,9 tahun |
Data ini menegaskan bahwa pendidikan sudah menjadi identitas kolektif bagi masyarakat Batak. Keunggulan ini bukan hanya soal angka, tetapi sejarah panjang adaptasi, tekad, dan nilai. Perbedaan rata-rata lama sekolah mencerminkan tradisi belajar lintas generasi.
BAGIAN VI | Persaudaraan Global: Cermin dari Bangsa-Bangsa Belajar
Jika pendidikan adalah jantung budaya Batak, maka ia memiliki saudara-saudara jauh di berbagai belahan dunia. Penelitian Harvard (2024) menyebut beberapa kelompok etnis dengan etos belajar yang mirip: Yahudi diaspora, Korea Selatan, Tionghoa diaspora, Parsi India, Igbo Nigeria, Sikh diaspora, Armenia.
Semua memiliki unsur yang serupa: pendidikan sebagai alat bertahan, identitas spiritual, dan martabat.
Tabel 5. Kesamaan Budaya Belajar Batak dengan Diaspora Global
| Komunitas | Nilai Utama | Bidang Kuat | Persamaan |
| Yahudi diaspora | Ilmu sebagai iman | Hukum, filsafat | Pendidikan sebagai ibadah |
| Korea | Meritokrasi | STEM | Disiplin tinggi |
| Tionghoa diaspora | Filial piety | Bisnis | Pendidikan demi keluarga |
| Parsi India | Minoritas cerdas | Teknik, hukum | Pendidikan = identitas |
| Sikh diaspora | Kerja keras | Kesehatan, teknik | Etos pengabdian |
| Igbo Nigeria | Pendidikan = kebebasan | Bisnis | Mobilitas sosial |
| Armenia | Iman + seni | Arsitektur | Pendidikan menjaga budaya |
Kesamaan ini menunjukkan bahwa pendidikan Batak merupakan bagian dari pola global yang dimiliki etnis-etnis unggul dunia. Nilai moral, memori kolektif, dan tantangan geografis berperan besar dalam membentuk etos belajar yang kuat.
BAGIAN VII | Luka, Celah, dan Tantangan Baru
Namun tak ada sistem yang sempurna. Di Tapanuli, termasuk Tarutung dan Siborongborong, kesenjangan pendidikan masih terlihat. Sekolah-sekolah di desa terpencil kurang tenaga guru. Infrastruktur digital belum merata. Beberapa anak masih harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah.
Asmara Nababan mengingatkan dalam tulisannya (Kompas, 1997):
“Martabat manusia adalah dasar dari semua perjuangan.”
Jika martabat itu ingin dijaga, kesenjangan pendidikan harus ditutup.
Tabel 6. Kesenjangan Pendidikan (2024)
| Indikator | Perkotaan | Perdesaan |
| Internet | 92% | 41% |
| Guru Tetap | 78% | 39% |
| Akses SMA/K | 89% | 52% |
| Komputer/siswa | 1 : 8 | 1 : 34 |
Ketimpangan infrastruktur akan menciptakan dua kelas pendidikan: kelas digital dan kelas tertinggal. Jika tidak diatasi, keunggulan pendidikan Batak bisa terfragmentasi. Perlu strategi kolektif agar seluruh wilayah memiliki akses yang sama.
BAGIAN VIII | Pencerahan 2045: Masa Depan Anak-Anak Ulos
Jika tren pendidikan Batak berlangsung seperti sekarang, tahun 2045 bisa menjadi titik puncak sebuah transformasi. Jumlah sarjana akan meningkat signifikan. Profesi digital akan mendominasi. Diaspora akademik akan menyebar lebih luas.
Tabel 7. Proyeksi Pendidikan Batak 2025–2045
| Tahun | S1 | S2–S3 | Profesi Digital | Lama Sekolah |
| 2025 | 1,5 juta | 0,2 juta | 8% | 10,6 |
| 2035 | 2,3 juta | 0,35 juta | 15% | 11,8 |
| 2045 | 3 juta | 0,6 juta | 25% | 12,5 |
Pendidikan Batak bergerak menuju dominasi digital dan profesional kelas dunia. Dengan dukungan teknologi, generasi Batak 2045 bisa menjadi salah satu kekuatan intelektual terbesar di Indonesia.
EPILOG. Mengukir Martabat di Atas Ilmu
Di antara Tarutung dan Siborongborong, di lembah sunyi yang dipagari bukit dan hutan pinus, cahaya pendidikan telah menyala selama lebih dari seratus lima puluh tahun. Cahaya itu tidak pernah redup, meski listrik pernah padam, meski zaman berubah, meski kemiskinan datang dan pergi.
Anak-anak yang berangkat dari rumah kayu dengan tas kecil di punggungnya adalah pewaris sebuah perjalanan panjang. Mereka membawa doa orang tua, harapan keluarga, serta warisan tak kasatmata dari leluhur: bahwa martabat hanya bisa diraih melalui ilmu.
Kini, di rumah-rumah Batak modern, ijazah masih digantungkan di dinding — seperti lukisan kecil tentang pencerahan. Ijazah itu berdampingan dengan ulos pemberkatan, foto baptisan, dan foto kakek-nenek yang mengenakan pakaian adat. Semuanya saling terhubung dalam narasi besar: bahwa Bangso Batak mencari martabatnya bukan melalui kekuasaan, bukan melalui kekayaan semata, tetapi melalui pengetahuan.
Dan di masa depan, ketika dunia semakin haus akan manusia yang berilmu dan berkarakter, saya percaya anak-anak dari Tarutung, Siborongborong, Balige, Sidikalang, Pematangsiantar, dan Samosir akan tetap berjalan membawa cahaya itu — cahaya kecil yang dulu dinyalakan oleh lampu minyak, tetapi kini bersinar sebagai peradaban yang matang.
Karena bagi orang Batak, ilmu bukan sekadar alat. Ia adalah martabat. Ia adalah jalan pulang. Ia adalah warisan.
Penulis: Martin Nababan, berasal dari Siborongborong
REFERENSI
Buku & Jurnal Siahaan, P.M. (2010). Pendidikan dan Misi Zending di Tanah Batak (1860–1942). Jakarta: BPK Gunung Mulia. Simanjuntak, B.A. (2009). The Batak, Education, and Social Mobility. Singapore: ISEAS Publishing. Napitupulu, E. (2018). Transformasi Pendidikan dan Sosial di Tanah Batak. Medan: USU Press. Nababan, Sori Sianipar Einar (DR. SAE Nababan). (1995). Gereja dan Masyarakat. Jakarta: BPK. Nababan, Sori Sianipar Einar. (2008). Pelayanan Berteologi di Tengah Pergumulan. HKBP. Nababan, Asmara. (2010). Menjalani Takdir: Memoar. Jakarta: Kompas. Nababan, Panda. (2015). Lahir Sebagai Petarung. Jakarta: Kompas.
Artikel & Majalah Tempo (2019). “Ketimpangan Pendidikan di Tapanuli.” Asmara Nababan (1997). “Martabat Manusia.” Kompas. Harvard University (2024). Comparative Diaspora Studies.
Data Resmi BPS (2024–2025). Statistik Pendidikan Indonesia. UNESCO (2024). Indonesia Education Indicators. World Bank (2023). Human Capital Index. WEF (2024). Future of Jobs – ASEAN Edition.