Strategi Besar Tidak Pernah Menjadi Masalah Utama
Di hampir semua perusahaan besar, strategi bukanlah masalah. Visi dirumuskan dengan cermat, target ditetapkan agresif, dan rencana jangka panjang disusun rapi. Masalahnya justru muncul setelah strategi disepakati: bagaimana strategi itu tetap hidup ketika organisasi kembali ke rutinitas, tekanan jangka pendek, dan perubahan eksternal yang cepat.
Di titik inilah The Execution Premium menemukan relevansinya. Buku ini tidak lahir dari kegagalan merumuskan strategi, tetapi dari pengamatan bahwa strategi sering mati pelan-pelan di tengah operasi. Kaplan dan Norton melihat bahwa perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar alat ukur; mereka membutuhkan sistem manajemen yang mampu menjaga kesinambungan antara strategi, operasi, dan pembelajaran organisasi.
Artikel ini tidak membaca The Execution Premium sebagai buku masa lalu. Sebaliknya, artikel ini menunjukkan bagaimana gagasan inti buku tersebut terbukti lintas era—mulai dari manufaktur tradisional hingga perusahaan teknologi digital—dan bagaimana dampaknya masih terasa hingga hari ini.
Strategi sebagai Hipotesis, Bukan Kebenaran Final
Fondasi pemikiran Kaplan dan Norton sangat mendasar namun sering diabaikan. Strategi diperlakukan bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai hipotesis tentang bagaimana nilai diciptakan. Jika strategi adalah hipotesis, maka eksekusi adalah eksperimen, dan kinerja adalah bukti empirisnya.
Dengan cara pandang ini, strategi tidak boleh berhenti di tahap perencanaan. Ia harus diterjemahkan ke dalam logika sebab–akibat, diuji melalui operasi, dipelajari melalui data, dan disesuaikan secara sadar sebelum menjadi usang. Inilah yang disebut sebagai closed-loop management system, sebuah sistem manajemen tertutup yang memastikan organisasi belajar lebih cepat daripada perubahan lingkungan.
Dari Strategi ke Mesin Organisasi
Di perusahaan yang berhasil menerapkan semangat The Execution Premium, perubahan tidak dimulai dari teknologi atau sistem informasi, melainkan dari arsitektur manajemen. Strategi diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam Strategy Map, yaitu peta visual yang menjelaskan bagaimana kapabilitas sumber daya manusia, proses internal, dan nilai pelanggan saling berkontribusi terhadap hasil keuangan jangka panjang.
Logika ini kemudian dikunci melalui Balanced Scorecard atau BSC (Balanced Scorecard adalah sistem pengukuran kinerja yang menyeimbangkan perspektif keuangan dan non-keuangan). Dalam konteks The Execution Premium, BSC bukan alat pelaporan, melainkan kerangka integrasi strategi dengan operasi. Indikator kinerja utama atau Key Performance Indicators (KPI) dipilih karena relevan secara strategis, bukan sekadar karena mudah diukur.
Perbedaan paling krusial muncul ketika strategi benar-benar memaksa perubahan pada operasi dan anggaran. Strategi menentukan proses mana yang diprioritaskan, kapabilitas apa yang harus diperkuat, dan inisiatif mana yang layak dibiayai. Anggaran berhenti menjadi cermin masa lalu dan berubah menjadi instrumen masa depan.
Rapat manajemen pun ikut berevolusi. Fokusnya bergeser dari sekadar target tercapai atau tidak menjadi diskusi tentang akar masalah, validitas asumsi, dan tindakan korektif. Di sinilah siklus Plan–Do–Check–Act (Plan–Do–Check–Act adalah siklus perbaikan berkelanjutan untuk merencanakan, menjalankan, mengevaluasi, dan memperbaiki kinerja) benar-benar hidup.
Case Study 1 – Dunia Produk: Ricoh, Disiplin Eksekusi, dan Evolusi Jangka Panjang
Fase Transformasi Awal
Pada periode 2002–2006, perusahaan teknologi dan manufaktur asal Jepang Ricoh menghadapi tekanan struktural berupa penurunan margin produk hardware, meningkatnya kompetisi global, dan kompleksitas organisasi. Transformasi manajemen berlangsung di bawah kepemimpinan Yasuo Inada, dilanjutkan oleh Masamitsu Sakurai sebagai President dan Chief Executive Officer.
Masalah utama Ricoh bukan kekurangan inisiatif, melainkan fragmentasi eksekusi. Banyak program perbaikan berjalan paralel tanpa keterhubungan strategis. Balanced Scorecard digunakan sebagai bahasa bersama untuk menyelaraskan unit bisnis global. Setiap penyimpangan kinerja diwajibkan disertai analisis akar masalah dan rencana tindakan korektif berbasis PDCA. Strategi diuji secara terbuka, bukan dipertahankan secara dogmatis.
Perkembangan Ricoh Saat Ini (2015–2025)
Yang membuat Ricoh relevan hingga hari ini adalah kesinambungan transformasinya. Memasuki periode 2015–2025, Ricoh secara sadar menggeser identitasnya dari perusahaan hardware menjadi digital services company. Transformasi ini dipimpin oleh Jake Yamashita, Chief Executive Officer sejak 2017.
Fondasi eksekusi yang dibangun sejak era Balanced Scorecard menjadi enabler utama transformasi digital. Strategy Map diperbarui untuk mencerminkan fokus pada digital workflow, workplace experience, dan data-driven services. Balanced Scorecard tetap digunakan, tetapi indikatornya bergeser dari volume produk ke nilai layanan, recurring revenue, dan kapabilitas digital. PDCA tetap menjadi mekanisme inti, memungkinkan Ricoh beradaptasi secara terukur di tengah penurunan pasar printer global.
Case Study 2 – Era Kini (2018–2025): Microsoft dan Eksekusi di Dunia Digital
Transformasi Microsoft di era 2014–2025 adalah contoh modern paling relevan dari semangat The Execution Premium. Ketika Satya Nadella mengambil alih sebagai Chief Executive Officer, Microsoft menghadapi krisis strategis khas perusahaan besar: silo organisasi, inovasi terfragmentasi, dan kehilangan relevansi di ekosistem teknologi.
Masalah Microsoft bukan kekurangan visi, melainkan ketidakmampuan menghubungkan strategi dengan perilaku organisasi. Nadella memulai transformasi dari sistem manajemen dan budaya belajar. Strategi cloud-first diterjemahkan ke dalam Strategy Map yang jelas, mengaitkan engineering excellence, platform reliability, developer ecosystem, dan nilai pelanggan enterprise.
Balanced Scorecard digunakan sebagai alat penyelarasan lintas unit seperti Azure, Office, dan LinkedIn. Rapat eksekutif berubah menjadi forum pembelajaran berkelanjutan. Asumsi strategi diuji secara berkala, bahkan lebih cepat dari siklus perencanaan formal. Hasilnya adalah pertumbuhan signifikan kapitalisasi pasar, reposisi bisnis ke cloud dan artificial intelligence, serta budaya organisasi yang adaptif.
Mengapa Kerangka Ini Bertahan Lintas Zaman
Tabel 1. Penerapan The Execution Premium Lintas Era dan Industri
| Dimensi Strategis | Ricoh | Microsoft |
| Periode Utama | 2002–2006; berlanjut 2015–2025 | 2018–2025 |
| Tantangan Inti | Disrupsi hardware & digital | Fragmentasi organisasi |
| Leader Kunci | Yasuo Inada, Masamitsu Sakurai, Jake Yamashita | Satya Nadella |
| Evolusi Strategi | Hardware → Digital Services | Software → Cloud & AI |
| Mekanisme Eksekusi | PDCA dan BSC adaptif | Test–Learn–Adapt |
| Dampak Jangka Panjang | Resiliensi dan relevansi | Agility dan pertumbuhan |
Tabel ini menegaskan bahwa kekuatan The Execution Premium tidak terletak pada industrinya, melainkan pada logika manajemennya. Strategi diterjemahkan, dieksekusi, dipelajari, dan disesuaikan secara disiplin.
Insight untuk Pimpinan Perusahaan
Pelajaran terbesar dari The Execution Premium di era 2020-an adalah bahwa keunggulan kompetitif tidak datang dari strategi yang paling visioner, tetapi dari sistem yang membuat organisasi terus belajar.
Ricoh menunjukkan daya tahan jangka panjang melalui disiplin eksekusi, sementara Microsoft menunjukkan bagaimana logika yang sama melahirkan agility di dunia digital.
Bagi pimpinan perusahaan hari ini, tantangannya bukan lagi membuat strategi baru, melainkan membangun mesin eksekusi yang membuat strategi apa pun tetap relevan di tengah perubahan.
Referensi
- The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, Harvard Business School Press, 1996.
- Strategy-Focused Organization, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, Harvard Business School Press, 2001.
- Strategy Maps: Converting Intangible Assets into Tangible Outcomes, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, Harvard Business School Press, 2004.
- The Execution Premium: Linking Strategy to Operations for Competitive Advantage, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, Harvard Business School Press, 2008.
- Hit Refresh, Satya Nadella, Harper Business, 2017.
- Leading Digital: Turning Technology into Business Transformation, George Westerman, Didier Bonnet, dan Andrew McAfee, Harvard Business Review Press, 2018.
- Human + Machine: Reimagining Work in the Age of AI, Paul R. Daugherty dan H. James Wilson, Harvard Business Review Press, 2018.
- Competing in the Age of AI, Marco Iansiti dan Karim R. Lakhani, Harvard Business Review Press, 2020.
- Power and Prediction: The Disruptive Economics of Artificial Intelligence, Ajay Agrawal, Joshua Gans, dan Avi Goldfarb, Harvard Business Review Press, 2022.
- Rewired: The McKinsey Guide to Outcompeting in the Age of Digital and AI, Eric Lamarre et al., Wiley / McKinsey & Company, 2023.
- Winning with AI, Tom Davenport dan Nitin Mittal, Harvard Business Review Press, 2024.