Martin Nababan – Saya mulai bekerja di Jakarta pada pertengahan 1990-an, ketika kota ini sudah sibuk, macet, kompetitif, dan penuh orang yang sedang mengejar masa depan. Namun batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi waktu itu masih relatif mudah dikenali; ketika seseorang meninggalkan kantor, sebagian besar pekerjaan benar-benar tertinggal di meja kerjanya.
Tiga dekade kemudian, batas itu nyaris menghilang. Laptop menjadi ringan, telepon berubah menjadi smartphone, rapat pindah ke layar, dan sekarang Artificial Intelligence atau AI dapat membantu menyelesaikan pekerjaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam.
Anehnya, manusia tidak terlihat mempunyai lebih banyak waktu.
Di Jakarta, Tokyo, Seoul, Singapore, London, New York, Shanghai, atau Hong Kong, pemandangannya semakin mirip. Orang meninggalkan gedung kantor sambil membaca pesan, bekerja di kereta, menjawab e-mail di mobil, lalu sesampainya di rumah membuka kembali laptop yang tadi ditutup di kantor.
Kota menjadi semakin pintar, tetapi manusianya seperti terus bernegosiasi dengan waktu.
United Nations Department of Economic and Social Affairs atau UN DESA mencatat bahwa pada 2025 sekitar 45% dari 8,2 miliar penduduk dunia tinggal di kota. Jumlah megacity—kawasan urban berpenduduk sedikitnya 10 juta orang—juga meningkat dari 8 pada 1975 menjadi 33 pada 2025, dan 19 di antaranya berada di Asia.
Artinya, kehidupan urban bukan lagi cerita beberapa kota besar. Ia sudah menjadi salah satu bentuk utama bagaimana manusia modern bekerja, membesarkan keluarga, membangun identitas, mencari penghasilan, bersosialisasi, dan perlahan-lahan menua.
Persoalannya adalah: ketika kota semakin efisien, apakah hidup kita juga semakin baik?
Dulu Kita Mengejar Karier, dan Itu Terasa Sangat Masuk Akal
Ketika masih muda, saya berpikir seperti kebanyakan profesional muda. Kita ingin berprestasi, mendapatkan kepercayaan yang lebih besar, naik jabatan, mempunyai compensation and benefit yang lebih baik, dan pada akhirnya memberikan kehidupan yang lebih nyaman bagi keluarga.
Tidak ada yang keliru dengan ambisi seperti itu. Karier membuka banyak pintu: kemampuan berkembang, pengalaman bertambah, penghasilan meningkat, lingkungan pergaulan profesional meluas, dan suatu hari kita mungkin diberi kesempatan memimpin orang lain.
Namun setiap kenaikan karier membawa harga yang tidak selalu tercantum dalam surat pengangkatan. Semakin besar tanggung jawab, semakin banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang ikut berpindah kepemilikan dari kehidupan pribadi menuju pekerjaan.
Rapat bertambah, keputusan semakin berat, perjalanan dinas muncul, masalah bawahan ikut dipikirkan, dan persoalan perusahaan kadang dibawa sampai meja makan. Kita masih berada di rumah, tetapi pikiran belum tentu sudah pulang.
Pada titik tertentu, pekerjaan tidak lagi sekadar sesuatu yang kita lakukan selama delapan jam.
Pekerjaan mulai ikut menentukan bagaimana kita menjalani hidup.
Delapan Jam Kerja Bisa Menjadi Dua Belas Jam Kehidupan

Di atas kertas, hari kerja terlihat sederhana. Ada jam masuk, jam pulang, dan standar waktu kerja yang membuat semuanya tampak mudah dihitung.
Kenyataan masyarakat metropolitan jauh lebih rumit. Seseorang di Jabodetabek dapat bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan diri, menempuh perjalanan panjang menuju kantor, bekerja sepanjang hari, lalu menghadapi perjalanan kembali sebelum akhirnya sampai di rumah.
Badan Pusat Statistik atau BPS melalui Statistik Komuter Jabodetabek 2023 menunjukkan betapa terhubungnya tempat tinggal, lokasi kerja, sekolah, transportasi, dan mobilitas antarwilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi. Kehidupan metropolitan pada akhirnya bukan hanya soal jam kerja, tetapi juga waktu yang terserap untuk mencapai pekerjaan itu sendiri.
Gambaran serupa terlihat di banyak kota Asia. International Labour Organization atau ILO mencatat pekerja Asia-Pasifik bekerja rata-rata hampir 44 jam per minggu pada 2023, tertinggi dibandingkan kawasan dunia lainnya; Asia Timur berada di sekitar 43,9 jam dan Asia Tenggara sekitar 39,9 jam.
Itu pun belum menghitung semua ruang abu-abu kehidupan modern. Lima belas menit membaca pesan kantor ketika baru bangun, 30 menit mengecek laporan setelah makan malam, atau menjawab pertanyaan atasan pada Minggu sore mungkin tidak pernah masuk timesheet, tetapi tetap mengambil bagian dari hidup kita.
Di sinilah angka delapan jam mulai menipu. Pekerjaan delapan jam dapat dengan mudah menguasai sepuluh, sebelas, bahkan dua belas jam kehidupan seseorang.
Karier Naik, Lingkaran Sosial Pelan-Pelan Menyusut
Perubahan ini tidak pernah terjadi secara dramatis. Tidak ada satu pagi ketika seseorang bangun lalu memutuskan bahwa mulai hari itu ia tidak akan lagi dekat dengan keluarga, teman, tetangga, atau komunitasnya.
Yang terjadi justru sangat biasa. Undangan reuni ditolak karena ada rapat, makan malam keluarga terlambat karena pekerjaan belum selesai, acara tetangga dilewatkan karena kelelahan, dan komunitas yang dulu sering dikunjungi perlahan berubah menjadi grup WhatsApp yang jarang dibuka.
Kita biasanya mempunyai jawaban yang sangat masuk akal: minggu depan saja. Bulan depan mungkin lebih longgar, setelah proyek ini selesai saya akan punya waktu, atau setelah promosi berikutnya hidup pasti lebih tenang.
Masalahnya, proyek selesai dan proyek lain datang. Jabatan naik dan tanggung jawab ikut naik, sementara kalender yang tadinya diharapkan lebih longgar justru semakin penuh.
Tanpa terasa, orang yang dahulu kita temui setiap minggu berubah menjadi nama di layar telepon. Tetangga yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah mungkin justru lebih jarang kita ajak bicara dibandingkan kolega yang bekerja ribuan kilometer jauhnya.
Di situlah salah satu ironi kehidupan profesional muncul. Semakin luas jaringan pekerjaan seseorang, semakin besar risiko ia kehilangan waktu untuk merawat jaringan kehidupannya.
Teknologi Semakin Hebat, tetapi Kita Tidak Semakin Santai

Saya mengalami beberapa generasi teknologi sepanjang perjalanan bekerja. Dari telepon kantor dan faks, kemudian electronic mail atau e-mail, BlackBerry, smartphone, WhatsApp, cloud computing, video conference, sampai sekarang AI.
Setiap generasi teknologi membawa janji yang kurang lebih sama: pekerjaan akan menjadi lebih cepat dan manusia akan menjadi lebih produktif. Janji itu memang terbukti, sebab banyak pekerjaan yang dahulu membutuhkan satu hari sekarang dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam.
Yang tidak selalu terjadi adalah kita menggunakan 3 atau 4 jam yang berhasil dihemat untuk pulang lebih cepat. Kapasitas kosong itu biasanya segera diisi laporan lain, presentasi baru, rapat tambahan, target yang lebih tinggi, atau pekerjaan yang sebelumnya dianggap terlalu mahal untuk dilakukan.
AI kemungkinan akan membawa lompatan produktivitas berikutnya. Kita akan membuat analisis lebih cepat, menyusun dokumen lebih cepat, membaca data lebih cepat, dan melakukan banyak pekerjaan rutin dengan bantuan mesin.
Namun ada risiko pola lama kembali berulang. Jika pekerjaan dapat dilakukan dua kali lebih cepat, organisasi belum tentu meminta manusia bekerja setengah waktu; sangat mungkin organisasi berharap manusia menghasilkan dua kali lebih banyak.
Jadi tantangan masa depan bukan hanya kemampuan menggunakan AI.
Tantangannya adalah apakah manusia mampu mempertahankan batas kehidupannya ketika teknologi terus memperbesar kapasitas kerja.
Generasi Anak Kita Ternyata Menghadapi Cerita yang Mirip
Setelah bekerja puluhan tahun, bagian yang paling membuat saya berpikir justru ketika melihat generasi anak-anak kita. Mereka mempunyai teknologi yang tidak pernah kami bayangkan pada 1990-an, tetapi cara waktu mereka terserap pekerjaan terasa mengejutkan karena kemiripannya.
Mereka bisa bekerja hybrid, memesan kendaraan dalam hitungan detik, menggunakan bank digital, membeli makanan tanpa keluar rumah, mengadakan rapat dari mana saja, dan memakai AI sebagai asisten pribadi. Semua itu seharusnya menghemat waktu secara luar biasa.
Namun banyak yang tetap bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang malam, kemudian masih membuka laptop di rumah. Ketika tidak membuka laptop pun, pesan pekerjaan tetap masuk ke perangkat yang sama yang digunakan untuk berbicara dengan keluarga dan teman.
Perbedaannya justru pekerjaan sekarang menjadi lebih sulit terlihat. Dulu orang lembur berarti duduk sampai malam di kantor; sekarang seseorang bisa duduk di sofa rumah sambil memperbaiki presentasi, mengecek angka, atau menjawab puluhan pesan.
Secara fisik ia sudah bersama keluarga.
Secara mental, ia mungkin masih berada di kantor.
Kita Tidak Kekurangan Kontak, tetapi Mulai Kekurangan Kedekatan
Masyarakat modern sebenarnya mempunyai jumlah koneksi yang luar biasa besar. Kita memiliki keluarga, grup sekolah, teman kuliah, teman kantor, alumni, komunitas profesi, LinkedIn, Instagram, WhatsApp, dan berbagai hubungan digital lain yang membuat ribuan orang tetap berada dalam jangkauan beberapa sentuhan layar.
Namun connection digital tidak selalu menghasilkan social support. World Happiness Report 2025 menemukan bahwa pada 2023 sekitar 19% orang dewasa muda di dunia mengatakan tidak memiliki seseorang yang dapat mereka andalkan untuk memperoleh dukungan sosial, meningkat sekitar 39% dibandingkan 2006.
Di Indonesia, Gallup State of the Global Workplace 2026 mencatat 23% pekerja mengalami rasa kesepian yang kuat pada hari sebelumnya. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara sebesar 19% dan global sebesar 22%.
Ini tidak berarti setiap pekerja urban sedang kesepian. Namun datanya memberi peringatan bahwa hidup di tengah jutaan manusia, memiliki ratusan kontak, dan berkomunikasi sepanjang hari tidak otomatis membuat seseorang merasa mempunyai hubungan yang mendalam.
Kita mungkin tidak kekurangan komunikasi.
Yang semakin mahal adalah kehadiran.
Suatu Hari Kalender yang Sangat Sibuk Itu Menjadi Kosong
Ketika masih berada di tengah karier, pensiun terasa sangat jauh. Kita membayangkannya sebagai masa ketika alarm tidak lagi berbunyi terlalu pagi, tidak ada target bulanan, tidak perlu menghadapi kemacetan, dan telepon tidak lagi menentukan jadwal hidup.
Semua itu memang menyenangkan pada awalnya. Namun setelah puluhan tahun mempunyai rutinitas, berhentinya pekerjaan juga menghadirkan keheningan yang tidak selalu mudah dijelaskan kepada orang yang belum mengalaminya.
Selama bertahun-tahun, pekerjaan bukan hanya memberi penghasilan. Pekerjaan juga memberi struktur waktu, identitas, percakapan, komunitas, tempat kita dibutuhkan, dan alasan untuk bangun setiap pagi.
Kemudian suatu hari organisasi tetap berjalan tanpa kita. Rapat tetap berlangsung, posisi yang dahulu terasa sangat penting diisi orang lain, dan telepon yang dahulu tidak berhenti berdering perlahan menjadi jauh lebih tenang.
Pada titik itu muncul pertanyaan sederhana yang ternyata cukup besar: sekarang saya mau melakukan apa?
Pertanyaan tersebut membuat kita melihat kembali sesuatu yang selama puluhan tahun mungkin ditempatkan di urutan kedua. Ada keluarga, saudara, teman sekolah, teman kuliah, alumni, tetangga, komunitas, dan orang-orang lama yang dahulu dekat sebelum kehidupan berubah menjadi rangkaian pekerjaan.
Waktu ternyata tidak berjalan pelan seperti yang kita rasakan pada usia tiga puluh.
Ia lewat sangat cepat.
Mungkin Selama Ini Kita Salah Menghitung Kekayaan
Dunia profesional mengajari kita menghitung banyak hal. Pendapatan, aset, margin, produktivitas, return on investment, pangsa pasar, dan pertumbuhan dapat ditaruh di dalam tabel lalu dibandingkan dari tahun ke tahun.
Namun kehidupan mempunyai aset yang sulit masuk ke spreadsheet. Berapa orang yang masih nyaman datang ke rumah kita, berapa teman yang bisa diajak minum kopi tanpa agenda, seberapa dekat hubungan dengan anak, apakah kita mengenal tetangga, dan apakah ada komunitas yang tetap menerima kita ketika jabatan sudah hilang?
Kita bisa menyebutnya social wealth atau kekayaan sosial. Nilainya tersimpan dalam hubungan, kepercayaan, pengalaman bersama, dan rasa memiliki yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun.
Riset kesehatan bahkan menunjukkan hubungan sosial bukan isu sentimental semata. Meta-analisis Julianne Holt-Lunstad dan koleganya terhadap 148 studi dengan lebih dari 300.000 peserta menemukan hubungan sosial yang lebih kuat berkaitan dengan kemungkinan kelangsungan hidup yang lebih tinggi.
Kekayaan sosial mempunyai sifat yang hampir sama dengan investasi jangka panjang. Hubungan membutuhkan perhatian, repetisi, waktu, dan pengalaman bersama agar nilainya bertumbuh.
Ia juga membutuhkan compounding.
Kota Bukan Hanya Membutuhkan Smart City, tetapi Social City

Kita biasanya mengagumi kota yang efisien. Keretanya tepat waktu, pembayaran digital, layanan pemerintah tersedia melalui aplikasi, sensor bekerja di berbagai tempat, dan informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Semua itu penting, tetapi kota yang hebat tidak cukup hanya menjadi smart city. Ia juga perlu menjadi Social City—kota yang memberi ruang agar manusia tidak hanya bergerak secara efisien, tetapi juga mempunyai alasan untuk berhenti, bertemu, berbicara, dan membangun hubungan.
Konsep Third Place atau ruang ketiga menjadi penting di sini. Ia adalah ruang di luar rumah dan pekerjaan—taman, perpustakaan, kedai, lapangan, warung, klub olahraga, ruang komunitas, atau tempat sederhana lainnya—di mana manusia bisa hadir tanpa selalu membawa jabatan dan agenda profesional.
Kita dapat melihat bentuknya dalam kehidupan sehari-hari. Ada taman lingkungan di Singapore, kedai kecil di Amsterdam, lapangan basket di New York, izakaya di Tokyo, warung kopi di Medan, sampai area terbuka di Gelora Bung Karno yang pada malam tertentu dipenuhi orang berlari, bermain, berbicara, atau sekadar duduk bersama.
Tempat-tempat semacam itu menghasilkan social infrastructure atau infrastruktur sosial. Nilainya bukan hanya pada bangunan atau fasilitasnya, tetapi pada kemampuannya menciptakan kemungkinan bagi manusia untuk saling mengenal.
Mungkin kota masa depan membutuhkan lebih banyak ruang seperti itu.
Bukan karena kita anti-teknologi, tetapi justru karena teknologi semakin memungkinkan kita menjalani hidup tanpa harus bertemu siapa pun.
Generasi Muda Tidak Perlu Menunggu Sampai Pensiun
Pelajaran dari perjalanan panjang bekerja bukan berarti generasi muda harus berhenti mengejar karier. Bekerjalah keras, bangun kompetensi, ambil tanggung jawab besar, kejar kesempatan, nikmati keberhasilan, dan berikan kehidupan terbaik bagi keluarga.
Tetapi jangan berikan seluruh waktu produktif kehidupan kepada pekerjaan. Sisakan bagian yang konsisten untuk keluarga, teman lama, orang tua, alumni, tetangga, komunitas, kesehatan, hobi, dan aktivitas yang tidak memberikan bonus atau promosi apa pun.
Tidak perlu sesuatu yang spektakuler. Makan malam bersama tanpa telepon di meja, menemui teman sebulan sekali, ikut komunitas, mengenal tetangga, berolahraga bersama, atau mempunyai satu hari ketika percakapan tidak didominasi pekerjaan sudah merupakan awal yang baik.
Karena hubungan manusia jarang rusak dalam satu kejadian besar.
Biasanya ia hanya terlalu lama tidak dirawat.
Renungan — Jangan Menunggu Kantor Menjadi Sunyi

Ketika muda, kita merasa waktu masih panjang. Kita berkata nanti kepada keluarga, nanti kepada teman, nanti kepada komunitas, sementara pekerjaan hampir selalu mendapat jawaban sekarang karena ada tenggat, target, atasan, pelanggan, atau tanggung jawab yang terasa lebih mendesak.
Masalahnya, kehidupan tidak berhenti menunggu kalender kita kosong. Orang tua menua, anak bertumbuh, teman berpindah kota, tetangga berganti, tubuh berubah, dan tanpa banyak suara usia kita sendiri terus berjalan.
Ke depan situasinya mungkin semakin menarik. AI, otomatisasi, remote working, layanan digital, dan sistem yang semakin cerdas akan membuat manusia mampu menghasilkan jauh lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun teknologi tidak akan otomatis memberi kita keseimbangan. Jika sejarah dunia kerja memberi pelajaran, setiap peningkatan kapasitas hampir selalu diikuti peningkatan ekspektasi.
Karena itu, masyarakat masa depan membutuhkan definisi kesuksesan yang lebih luas. Karier, pendapatan, prestasi, dan jabatan tetap penting, tetapi hubungan keluarga yang sehat, teman yang tetap dekat, tubuh yang terawat, komunitas yang menerima kita, serta kemampuan menikmati hidup tanpa kartu nama juga layak dianggap sebagai keberhasilan.
Perusahaan mempunyai tanggung jawab untuk menjaga batas itu melalui budaya kerja yang sehat. Pemerintah kota dapat membantu melalui ruang publik, transportasi yang manusiawi, taman, jalur berjalan kaki, fasilitas olahraga, perpustakaan, dan lingkungan yang memungkinkan orang bertemu secara natural.
Namun bagian terbesarnya tetap berada pada diri kita sendiri. Society juga membutuhkan maintenance, hanya saja keluarga, teman, dan tetangga biasanya tidak mengirim reminder ketika hubungan mulai menjauh.
Mungkin karena itu kita perlu sengaja menyediakan ruang di kalender bagi orang-orang yang tidak memberikan Key Performance Indicator, kontrak, bonus, atau promosi. Pada akhirnya merekalah yang kemungkinan besar masih ada ketika meja kantor telah ditempati orang lain dan telepon tidak lagi berdering seperti dahulu.
Setelah puluhan tahun hidup bersama ritme kota, saya mulai melihat bahwa pertanyaan mengenai kesuksesan mungkin tidak berhenti pada, “Seberapa tinggi saya pernah mencapai karier?” Ada pertanyaan lain yang jauh lebih sederhana, tetapi mungkin justru lebih penting: ketika seluruh kesibukan itu selesai, dengan siapa saya masih bisa berbagi hidup?
Kita boleh membangun karier setinggi mungkin dan menikmati semua hal baik yang datang bersamanya. Namun jangan sampai ketika akhirnya berdiri di atas, kita baru menyadari bahwa terlalu banyak waktu, percakapan, dan orang yang kita sayangi tertinggal sepanjang perjalanan.
Mungkin hidup yang sehat dan bahagia bukan hidup tanpa ambisi.
Ia adalah hidup ketika keberhasilan profesional tidak membuat kita kehilangan masyarakat kecil yang membuat keberhasilan itu layak dinikmati.
Referensi
- Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-analytic Review — Julianne Holt-Lunstad, Timothy B. Smith, dan J. Bradley Layton — PLOS Medicine — 2010.
- Our Epidemic of Loneliness and Isolation: The U.S. Surgeon General’s Advisory on the Healing Effects of Social Connection and Community — Office of the U.S. Surgeon General — U.S. Department of Health and Human Services — 2023.
- Statistik Komuter Jabodetabek Hasil Survei Komuter Jabodetabek 2023 — Badan Pusat Statistik — BPS-Statistics Indonesia — 2024.
- Asia-Pacific Employment and Social Outlook 2024: Promoting Decent Work and Social Justice to Manage Ageing Societies — International Labour Organization — International Labour Organization — 2024.
- World Happiness Report 2025 — Connecting with Others: How Social Connections Improve the Happiness of Young Adults — Rui Pei dan Jamil Zaki — Wellbeing Research Centre, University of Oxford — 2025.
- World Urbanization Prospects 2025: Summary of Results — United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division — United Nations — 2025.
- State of the Global Workplace 2026 — Indonesia Country-Level Data — Gallup — Gallup Inc. — 2026.
Leave feedback about this