Setelah Puluhan Tahun Mengejar Waktu, Kini Belajar Menikmati Hidup
Martin Nababan – Pagi di Yogyakarta selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi seseorang yang terlalu lama mengikuti ritme Jakarta. Kendaraan tetap memenuhi beberapa ruas jalan, wisatawan terus berdatangan, dan roda ekonomi berputar seperti biasa. Namun di tengah kesibukan itu, kota ini seperti mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan terburu-buru.
Pengingat itu datang kepada saya dalam bentuk yang tidak terduga: sebuah percakapan di kursi belakang taksi daring.
01 Percakapan di Kursi Belakang

Pengemudinya ramah. Obrolan ringan tentang lalu lintas perlahan berkembang menjadi cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan pilihan hidup. Tidak ada yang istimewa pada awalnya, sampai ia menceritakan alasannya meninggalkan Jakarta.
Beberapa tahun sebelumnya, ia bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota. Hidupnya berjalan seperti jutaan pekerja urban lainnya: berangkat pagi, pulang malam, menerima gaji tetap, dan berharap kehidupan keluarga terus membaik. Kemudian gelombang pemutusan hubungan kerja datang dan mengubah semua rencana itu.
Ia bersama keluarganya pindah ke Yogyakarta dan membangun usaha transportasi berskala kecil. Satu kendaraan ia kemudikan sendiri sebagai taksi daring; kendaraan lainnya dijalankan melalui kerja sama dengan mitra. Penghasilannya tidak selalu sebesar dahulu, tetapi ia mengaku jauh lebih menikmati keseharian bersama keluarga.
Ia menyebut hidupnya sekarang dengan dua kata yang belakangan sering kita dengar: slow living.
Saya tidak ingat seluruh kalimatnya. Yang masih saya ingat adalah ketenangannya ketika bercerita. Tidak ada nada menyesal karena kehilangan pekerjaan, seolah pengalaman itu justru membantunya menemukan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Tanpa ia sadari, ia sedang menceritakan perjalanan saya juga.
02 Paradoks yang Jarang Dibicarakan

Lebih dari dua setengah dekade saya berkecimpung di dunia korporasi, melewati berbagai industri dan fungsi: pemasaran, operasi, pengembangan bisnis, sumber daya manusia, hingga manajemen strategi. Hari-hari dipenuhi rapat, perjalanan dinas, keputusan operasional, dan persoalan organisasi yang kadang harus diselesaikan sampai larut malam.
Kini saya memasuki babak yang berbeda. Rutinitas eksekutif berganti dengan pekerjaan konsultasi, menulis di blog ini, dan sesekali terlibat dalam investasi berskala kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya mempunyai keleluasaan menentukan sendiri isi hari-hari saya.
Yang mengejutkan, keleluasaan itu tidak otomatis terasa menenangkan. Kebiasaan lama masih melekat, termasuk perasaan bahwa setiap hari harus menghasilkan sesuatu dan setiap kesempatan sebaiknya diambil.
Di sinilah saya menemukan paradoks *slow living. Ketika masih sibuk bekerja, kita berharap suatu hari punya waktu untuk menikmati hidup. Namun ketika waktu itu akhirnya tersedia, kita justru harus belajar kembali bagaimana menggunakannya tanpa merasa bersalah
Melambat ternyata bukan hadiah yang datang dengan sendirinya. Ia adalah keterampilan yang harus dipelajari.
03 Ketika Kesibukan Menjadi Identitas
Mengapa melambat terasa begitu sulit? Sebagian jawabannya ada pada cara dunia profesional mengukur nilai seseorang.
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa menilai orang dari seberapa sibuk ia terlihat. Kalender yang penuh, pesan yang dibalas dalam hitungan detik, dan kehadiran di setiap rapat menjadi tanda bahwa seseorang penting dan dibutuhkan. Cal Newport dalam Slow Productivity (2024) menyebut pola ini pseudo-productivity: kebiasaan menjadikan aktivitas yang tampak sibuk sebagai pengganti ukuran kerja yang benar-benar bernilai. Tanpa sadar, kalender penuh berubah dari konsekuensi pekerjaan menjadi bagian dari identitas pribadi.
Media sosial memperkuat kecenderungan itu. Kita melihat kolega memperoleh jabatan baru, teman mengembangkan bisnis, atau mantan rekan kerja tampil di konferensi internasional. Yang terlihat hanyalah potongan terbaik hidup mereka, tetapi kita membandingkannya dengan keseluruhan perjalanan kita sendiri. Dari sinilah Fear of Missing Out tumbuh: rasa takut kehilangan relevansi, tertinggal dalam karier, atau tidak lagi berada di lingkaran pengambil keputusan.
Arthur C. Brooks, ilmuwan sosial dan penulis From Strength to Strength (2022), menjelaskan mengapa perasaan ini begitu kuat pada para pekerja keras yang terbiasa berprestasi. Banyak dari mereka diam-diam berduka ketika puncak keberhasilan terasa sudah tertinggal di belakang. Namun Brooks juga menawarkan kabar baik. Kecerdasan yang membuat kita unggul di usia muda, yaitu kecepatan memecahkan masalah dan berinovasi, memang memuncak di usia 20-an hingga 30-an lalu perlahan menurun. Sebaliknya, kecerdasan yang tumbuh dari pengetahuan dan pengalaman justru terus bertambah sejak usia 40-an dan bertahan tinggi sesudahnya: kemampuan menghubungkan gagasan, membaca pola, dan membimbing orang lain.
Bagi saya, gagasan itu terasa sangat pribadi. Selama bertahun-tahun, sebagian identitas saya melekat pada jabatan, organisasi yang dipimpin, dan keputusan yang menjadi tanggung jawab saya. Ketika atribut formal itu tidak lagi menyertai keseharian, saya mendapat kesempatan langka untuk memahami bahwa nilai seseorang tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada posisinya dalam struktur perusahaan.
04 Dua Jalan, Satu Pelajaran
Pengemudi di Yogyakarta itu menghadapi persoalan serupa melalui jalan yang berbeda.
Kebiasaan lama dari berbagai meja korporasi membuat saya refleks membaca ceritanya seperti membaca sebuah model bisnis. Ia tidak sekadar pindah kota. Ia mengubah posisinya dalam rantai nilai: dari menjual waktu kepada satu pemberi kerja, menjadi pemilik aset yang sebagian pekerjaannya dibagi bersama mitra. Mobil yang ia kemudikan memberinya penghasilan dari jam kerjanya; mobil yang dijalankan mitranya memberinya penghasilan tanpa harus menambah jam di belakang kemudi.
Saya sendiri menjalani perubahan melalui konsultasi, menulis, dan investasi kecil. Latar belakang kami sangat berbeda, tetapi kami sama-sama sedang menata ulang hubungan antara pekerjaan, penghasilan, dan kebebasan pribadi.
Dari situ saya mulai memahami bahwa slow living bukan berarti berhenti produktif. Slow living adalah kemampuan menentukan seberapa besar bagian hidup yang ingin kita berikan kepada pekerjaan. Dan bagi banyak orang, keputusan itu tidak dimulai dari gaya hidup, melainkan dari cara menyusun sumber penghasilan agar waktu tidak sepenuhnya dimiliki orang lain.
05 Tempo yang Tepat

Gerakan slow modern lahir dari sebuah protes kecil. Pada 1986, jurnalis Italia Carlo Petrini menolak pembukaan restoran cepat saji di dekat Spanish Steps, Roma. Dari situ lahir gerakan Slow Food, yang kemudian menginspirasi cara pandang baru tentang bekerja, mendidik anak, hingga membangun kota.
Carl Honoré merangkum gerakan itu melalui bukunya In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed (2004), lalu memperkenalkannya kepada khalayak dunia lewat ceramah TED pada 2005. Gagasan terpentingnya sering disalahpahami. Honoré tidak meminta kita melakukan segala sesuatu dengan lambat. Ia mengajak kita menemukan tempo giusto, istilah musik Italia yang berarti tempo yang tepat.
Seperti sebuah komposisi musik, kehidupan mempunyai bagian yang perlu dimainkan cepat dan bagian lain yang lebih indah ketika dijalani perlahan. Di dunia korporasi, ada saatnya kita harus memutuskan dalam hitungan menit atau bergerak cepat ketika peluang datang. Namun ritme itu tidak seharusnya terbawa ke meja makan, percakapan dengan pasangan, atau waktu bersama keluarga.
Persoalannya bukan karena kita bekerja terlalu cepat, melainkan karena kecepatan kerja kita pakai untuk menjalani hampir seluruh bagian kehidupan.
06 Jebakan Efisiensi dan Empat Ribu Minggu
Teknologi seharusnya memberi kita lebih banyak waktu. Telepon genggam, konferensi video, dan aplikasi produktivitas memungkinkan pekerjaan diselesaikan dari mana saja. Tetapi teknologi yang sama membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin mudah ditembus. Kita menjadi lebih efisien, tetapi tidak merasa lebih lapang.
Oliver Burkeman melalui bukunya Four Thousand Weeks: Time Management for Mortals (2021) menyebut fenomena ini efficiency trap: semakin efisien kita bekerja, semakin banyak pekerjaan yang datang mengisi ruang yang berhasil dihemat. Saya mengenal pola itu dari dunia korporasi. Target yang tercapai menjadi dasar target berikutnya, dan efisiensi yang berhasil diwujudkan segera berubah menjadi ekspektasi baru.
Bagi perusahaan, logika itu sehat; organisasi memang harus tumbuh untuk bertahan. Namun ada satu perbedaan mendasar. Perusahaan dapat menambah kapasitas, sedangkan manusia tidak. Perusahaan bisa membangun pabrik baru dan membuka cabang. Manusia tidak bisa menambah jam dalam sehari atau membeli kembali waktu yang telah berlalu.
Burkeman lalu mengajukan hitungan yang membuat saya memandang waktu secara berbeda. Jika seseorang hidup sampai usia 80 tahun, seluruh perjalanannya hanya sekitar empat ribu minggu. Angka itu bukan ramalan umur, melainkan pengingat bahwa kesempatan menjalani hidup tidak tersedia tanpa batas.
Ketika masih muda, puluhan tahun terasa seperti perjalanan yang sangat panjang, sehingga banyak rencana mudah ditunda. Setelah melewati sebagian besar kehidupan profesional, perspektif itu berubah. Orang tua semakin menua, anak-anak tumbuh dewasa, dan kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu dapat diulang.
Sejak itu saya mulai memperlakukan waktu bukan sekadar sumber daya yang harus dikelola, tetapi kesempatan yang perlu dipilih. Setiap kali menerima satu tanggung jawab baru, saya sebenarnya sedang mengurangi waktu untuk hal lain.
07 Belajar Mengenali Kata Cukup
Kesadaran tentang waktu yang terbatas membawa saya pada pertanyaan yang lebih mendasar: kapan seseorang dapat mengatakan bahwa apa yang dimilikinya sudah cukup?
Di dunia bisnis, pertumbuhan hampir selalu bermakna positif. Perusahaan berusaha meningkatkan pendapatan, memperluas pasar, dan menghasilkan keuntungan lebih besar. Namun kehidupan pribadi tidak harus mengikuti pola pertumbuhan tanpa akhir.
Uang tetap penting, dan saya tidak akan berpura-pura sebaliknya. Keamanan finansial memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhan keluarga, mengurangi ketidakpastian, dan memiliki lebih banyak pilihan. Tetapi setiap tambahan penghasilan selalu dibayar dengan sesuatu: waktu, kesehatan, atau kesempatan hadir bagi orang-orang terdekat.
Bagi saya, kata cukup kini mempunyai arti yang berbeda. Cukup bukan berarti berhenti bekerja atau kehilangan keinginan berkembang. Cukup adalah kemampuan memahami kapan tambahan pencapaian tidak lagi sepadan dengan apa yang harus dikorbankan untuk meraihnya. Pada titik tertentu, satu sore bersama keluarga bisa lebih berharga daripada satu proyek tambahan.
Saya juga perlu jujur: slow living mudah berubah menjadi nasihat romantis yang mengabaikan kenyataan ekonomi. Seorang profesional muda yang masih membayar cicilan rumah, membiayai pendidikan anak, atau membantu orang tua tidak memiliki keleluasaan yang sama dengan seseorang yang sebagian besar kewajiban finansialnya telah terpenuhi. Yogyakarta pun bukan kota tanpa persoalan; biaya hidup, kemacetan, dan persaingan usaha tetap menjadi tantangan warganya.
Karena itu, pilihan pengemudi tadi tidak bisa dijadikan resep untuk semua orang. Pelajarannya bukan bahwa semua orang harus meninggalkan Jakarta, melainkan bahwa setiap orang perlu menemukan keseimbangan yang sesuai dengan keadaan hidupnya. Bagi sebagian orang, langkah pertamanya mungkin sesederhana tidak membalas pesan kantor setelah jam tertentu.
08 Hadir Sepenuhnya

Dalam pengalaman saya, perubahan paling nyata justru hadir melalui kebiasaan yang sangat sederhana: duduk bersama istri menikmati secangkir kopi pada pagi atau sore hari, tanpa dibayangi agenda berikutnya. Kami berbincang tentang keluarga, rencana kecil, atau sekadar menikmati suasana tanpa merasa harus segera menyelesaikan sesuatu.
Dahulu, momen seperti ini hanya mendapat sisa waktu setelah pekerjaan selesai. Sekarang saya belajar bahwa kebersamaan keluarga tidak seharusnya menunggu kalender kosong. Kehadiran yang utuh sering lebih berarti daripada lamanya waktu yang dihabiskan bersama.
Robert Waldinger, direktur Harvard Study of Adult Development, memaparkan temuan penelitian itu dalam salah satu ceramah TED yang paling banyak ditonton. Penelitian ini mengikuti kehidupan ratusan pria sejak 1938, dan kemudian keluarga mereka. Kesimpulan terkuatnya sederhana tetapi mendalam: yang paling baik memprediksi kesehatan mereka di usia 80 bukanlah kadar kolesterol di usia 50, melainkan seberapa puas mereka dengan hubungan-hubungan terdekatnya. Temuan ini kemudian dibukukan Waldinger bersama Marc Schulz dalam The Good Life (2023).
Temuan itu membuat saya melihat kembali tujuan bekerja selama puluhan tahun. Sebagian besar pekerjaan itu dilakukan agar keluarga dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Ironisnya, ketika kesempatan menikmati kebersamaan akhirnya tersedia, kita harus memastikan bahwa pikiran dan perhatian benar-benar hadir pada momen tersebut.
Saya masih belajar melakukannya. Ada hari ketika pikiran kembali sibuk memikirkan perkembangan bisnis, tulisan yang belum selesai, atau kesempatan profesional yang menarik. Namun perlahan saya memahami bahwa waktu untuk beristirahat dan bersama keluarga tidak otomatis menjadi waktu yang terbuang hanya karena hasilnya tidak bisa diukur.
09 Jika Suatu Hari Kembali Memimpin
Ada satu pertanyaan yang sesekali muncul: bagaimana jika suatu hari saya kembali mendapat kesempatan memimpin perusahaan sebagai eksekutif? Apakah kebiasaan hidup yang lebih tenang ini akan bertahan ketika tanggung jawab organisasi kembali membesar?
Saya tidak menutup kemungkinan itu, karena dunia manajemen masih menjadi bidang yang saya nikmati. Namun jika kesempatan itu datang, saya ingin menjalaninya dengan cara yang berbeda. Ketika pekerjaan membutuhkan perhatian penuh, saya akan bekerja dengan disiplin penuh. Tetapi kehidupan keluarga harus tetap mempunyai ruang yang jelas.
Cal Newport memberi kerangka yang berguna untuk niat itu. Dalam Slow Productivity, ia mengajukan tiga prinsip bekerja tanpa kelelahan: lakukan lebih sedikit hal, bekerja dengan ritme yang alami, dan obsesif pada kualitas. Prinsip ini tidak meminta seorang pemimpin bekerja setengah hati. Ia meminta pemimpin berhenti mengukur diri dari banyaknya rapat dan cepatnya membalas pesan, lalu memusatkan energi pada sedikit hal yang benar-benar menentukan.
Tantangannya tentu tidak sederhana. Batas waktu, kemampuan mendelegasikan, dan keberanian menentukan prioritas harus dijaga melalui kebiasaan yang konsisten. Tanpa itu, jebakan efisiensi akan bekerja seperti biasa, dan ritme lama perlahan kembali menguasai hidup, betapa pun kuatnya tekad sebelumnya.
Mungkin inilah bentuk slow living yang paling realistis bagi saya: bukan hidup tanpa tanggung jawab, melainkan kemampuan memilih kecepatan yang tepat tanpa kehilangan kendali atas prioritas pribadi. Pekerjaan tetap penting, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya sumber identitas dan kepuasan.
10 Penutup: Setelah Berhasil Mengejar Banyak Hal, Kini Belajar Menikmatinya
Dunia profesional akan terus bergerak cepat, mungkin semakin cepat dengan kecerdasan buatan dan otomatisasi. Pekerjaan yang dahulu memakan waktu berhari-hari kini bisa selesai dalam hitungan jam. Namun peningkatan produktivitas tidak otomatis memberi manusia lebih banyak kesempatan menikmati hidupnya.
Bagi profesional muda, slow living bukan alasan mengurangi ambisi ketika karier sedang dibangun. Kesempatan belajar, tanggung jawab, dan keamanan finansial tetap perlu dikejar dengan serius. Hanya saja, jangan menunda seluruh kebahagiaan sampai suatu hari ketika semua target dianggap tercapai.
Bagi pemimpin organisasi, tantangannya adalah membangun budaya kerja yang menghargai hasil, bukan merayakan kesibukan. Loyalitas tidak semestinya diukur dari panjangnya jam kerja atau cepatnya membalas pesan di malam hari. Pemimpin yang menghormati kehidupan pribadi timnya sedang membangun organisasi yang lebih sehat dan bertahan lama.
Bagi mereka yang meninggalkan jabatan eksekutif atau memasuki masa pensiun, babak ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenali kembali diri sendiri. Pengalaman tidak hilang hanya karena seseorang tidak lagi berada dalam struktur organisasi; seperti kata Brooks, ia justru bisa menjadi sumber manfaat terbesar di paruh kedua kehidupan.
Saya sendiri tidak memandang perjalanan panjang di korporasi sebagai sesuatu yang telah mencuri terlalu banyak waktu. Perjalanan itu memberi pengalaman, pelajaran, relasi, dan kesempatan membangun masa depan keluarga. Tanpa fase itu, saya mungkin tidak memiliki keleluasaan yang sedang saya nikmati sekarang.
Namun setiap tahap kehidupan membawa pertanyaan yang berbeda. Ketika muda, kita ingin tahu seberapa tinggi pencapaian bisa diraih. Setelah menempuh perjalanan panjang, pertanyaannya perlahan berubah: bagaimana seluruh hasil kerja keras itu dapat memberi makna bagi kehidupan yang masih tersedia?
Pengemudi di Yogyakarta itu tidak sedang memberi saya kuliah tentang kebahagiaan. Ia hanya bercerita bagaimana kehilangan pekerjaan yang semula terasa sebagai kemunduran akhirnya membantunya menemukan cara hidup yang lebih sesuai bagi keluarganya. Kami menempuh jalan yang berbeda, tetapi sampai pada pelajaran yang hampir sama: pada titik tertentu, keberanian memperlambat langkah sama pentingnya dengan keberanian mengejar peluang.
Saya masih ingin berkarya, membaca, menulis, berdiskusi, dan mungkin suatu hari kembali memikul tanggung jawab kepemimpinan. Tetapi saya berharap satu hal tetap bertahan: pekerjaan boleh menjadi bagian besar dari kehidupan, asal tidak mengambil seluruh ruang yang membuat kehidupan itu bermakna.
Suatu hari, kita mungkin tidak lagi mengingat angka pertumbuhan perusahaan atau banyaknya rapat yang pernah dipimpin. Tetapi kita mungkin masih mengingat secangkir kopi di teras pada suatu sore, percakapan yang tidak terburu-buru, dan orang-orang yang tetap hadir ketika hidup sedang berjalan begitu cepat.
Setelah puluhan tahun belajar bagaimana caranya berhasil dalam pekerjaan, kini saya sedang belajar bagaimana caranya menikmati kehidupan.
Dan untuk pelajaran yang satu ini, saya tidak lagi merasa harus menjadi orang yang paling cepat sampai.
11 Referensi
1. Carl Honoré — “In Praise of Slowness” — TED Talk, TEDGlobal — 2005. Gagasan lengkapnya ada dalam buku In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed (2004). ted.com/talks/carl_honore_in_praise_of_slowness
2. Robert Waldinger — “What Makes a Good Life? Lessons from the Longest Study on Happiness” — TED Talk, TEDxBeaconStreet — 2015. ted.com/talks/robert_waldinger_what_makes_a_good_life…
3. Arthur C. Brooks — “How to Crack the Code to Happiness in the Second Half of Life” — wawancara NPR tentang buku From Strength to Strength — 2022. mprnews.org/story/2022/02/16/…
4. Oliver Burkeman — “Oliver Burkeman on Using Time Well: Four Thousand Weeks” — wawancara Thought Economics oleh Vikas Shah, tentang buku Four Thousand Weeks: Time Management for Mortals (2021) — 2023. thoughteconomics.com
5. Vivian Song — “Cal Newport’s Slow Productivity: Redefining Success in a Hustle Culture” — Welcome to the Jungle, tentang buku Cal Newport Slow Productivity (2024) — 2024. welcometothejungle.com/en/articles/…