Ketika Wageningen Berhenti Sejenak
Martin Nababan – November 1960, Wageningen sedang mengantar salah satu warganya pergi. Di kota universitas kecil di Belanda itu, mahasiswa, profesor, ilmuwan, sahabat, kolega, dan masyarakat berjalan bersama dalam sebuah prosesi pemakaman yang membentang hampir dua kilometer.
Orang yang mereka antar bernama Prof. Dr. Ir. Thung Tjeng Hiang. Empat hari sebelumnya, pada 18 November 1960, ilmuwan berusia 63 tahun itu meninggal mendadak karena masalah jantung, meninggalkan keluarga dan jaringan pertemanan ilmiah yang tersebar di banyak negara.
Kalau kita hanya melihat adegan terakhir itu, mudah sekali mengira Thung memang sejak awal ditakdirkan menjadi seseorang yang besar. Padahal puluhan tahun sebelumnya ia datang ke Wageningen hanya sebagai seorang pemuda dari Jawa yang ingin belajar, tanpa tahu ke mana ilmu akan membawanya.
Belum ada gelar profesor, laboratorium yang dipimpinnya, atau komunitas ilmiah internasional yang mengenal namanya. Yang ia punya jauh lebih sederhana: rasa ingin tahu, keberanian meninggalkan rumah, dan kemauan untuk masuk ke dunia yang belum dikenalnya.
Dan mungkin sebagian perjalanan penting memang dimulai seperti itu.
Pergi Jauh untuk Melihat Dunia
Thung lahir pada 1897 dari keluarga Tionghoa yang telah hidup beberapa generasi di Jawa. Pada 1916, ketika usianya masih muda, ia berangkat ke Belanda untuk mempelajari pertanian di Wageningen.
Hari ini, belajar di luar negeri terasa jauh lebih dekat. Pesawat, internet, video call, dan pesan instan membuat jarak ribuan kilometer masih terasa terhubung dengan rumah.
Pada masa Thung, pergi ke Eropa benar-benar berarti pergi. Ia harus menyeberangi lautan, meninggalkan lingkungan yang dikenal, lalu menyesuaikan diri dengan bahasa, cuaca, kehidupan sosial, dan tradisi akademik yang berbeda.
Wageningen ternyata memberinya lebih daripada pendidikan pertanian. Ia tertarik pada filsafat, kebudayaan Tiongkok, dan Sinologi; pikirannya bergerak ke banyak arah, seolah satu bidang saja tidak cukup untuk menjawab rasa ingin tahunya.
Pengalaman itu membuat dunia Thung perlahan melebar. Ia datang membawa pengalaman tumbuh di Jawa dan akar budaya Tionghoa, lalu bertemu cara berpikir akademik Eropa yang memberi perspektif lain tentang ilmu dan penelitian.
Di masa itulah ia mengenal Fernanda Louise Willekes MacDonald. Fernanda memiliki kehidupan yang sudah berjalan sebelum mereka bertemu, sehingga hubungan keduanya tumbuh dalam situasi personal dan sosial yang tidak sederhana.
Setelah melalui proses yang kompleks, mereka menikah pada 1923. Keputusan itu membawa dua manusia dengan latar sangat berbeda memasuki perjalanan yang kelak berpindah dari Eropa ke Jawa, melewati perang, perubahan negara, dan kembali lagi ke Belanda.
Kisah mereka memang punya unsur romantika yang kuat. Namun mungkin bagian paling menarik justru bukan soal perbedaan budaya, melainkan keberanian untuk menerima bahwa kehidupan bersama tidak selalu datang dalam paket yang paling mudah.
Beberapa tahun kemudian, arah perjalanan mereka kembali menghadap Timur.
Ketika Ilmu Turun ke Tanah
Pada 1928, Thung menyelesaikan pendidikan doktoralnya melalui penelitian mengenai virus leafroll pada tanaman kentang. Bidang virus tanaman ketika itu masih terus berkembang, dan justru ruang yang belum banyak dipahami itulah yang kemudian menjadi rumah intelektualnya.
Tak lama setelah itu, Thung dan Fernanda kembali menuju Hindia Belanda. Bagi Thung, perjalanan tersebut menjadi kesempatan menguji ilmu yang diperolehnya di Eropa pada persoalan yang benar-benar terjadi di lapangan.
Ia bekerja di pusat penelitian tembakau di Klaten, Jawa Tengah. Hari-harinya lebih banyak dipenuhi tanaman sakit, pengamatan berulang, eksperimen yang tidak selalu berhasil, dan catatan yang harus terus diperiksa.
Kelihatannya sangat teknis.
Namun persoalan yang ia hadapi sebenarnya dekat dengan kehidupan manusia. Dalam masyarakat yang banyak bergantung pada pertanian, penyakit tanaman bisa berarti produksi turun, usaha terganggu, dan pendapatan pekerja ikut tertekan.
Pada 1931 dan 1938, Thung mempublikasikan penelitian mengenai epidemiologi penyakit tembakau, termasuk black shank. Beberapa dekade kemudian, penelitian itu kembali mendapat perhatian karena dianggap ikut membangun fondasi awal epidemiologi penyakit tanaman.
Di sinilah inovasi terasa lebih sederhana dan mungkin justru lebih relevan. Ia tidak lahir dari teknologi yang membuat orang terkesima, tetapi dari seseorang yang mau melihat masalah lebih lama, mengumpulkan bukti, mencoba, salah, belajar, lalu menguji lagi.
Tidak spektakuler.
Tapi berguna.
Thung bekerja seperti itu selama bertahun-tahun. Ia menghubungkan apa yang ditemukannya di Jawa dengan pengetahuan yang berkembang di tempat lain, sampai sebuah laboratorium di kawasan tropis perlahan membawanya ke percakapan ilmiah internasional.
Ketika Sejarah Masuk ke Rumah

Menjelang akhir 1930-an, perjalanan Thung berlanjut ke Bogor, yang saat itu masih dikenal sebagai Buitenzorg. Ia terus bekerja di bidang penyakit tanaman ketika dunia justru bergerak menuju salah satu masa paling tidak pasti.
Perang Dunia II pecah, Hindia Belanda mengalami pendudukan Jepang, lalu Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945. Beberapa tahun berikutnya membawa perubahan politik dan sosial yang besar bagi hampir setiap orang yang hidup di dalamnya.
Bagi Thung dan Fernanda, sejarah bukan lagi tanggal dalam buku. Ia hadir langsung dalam kehidupan, memengaruhi pekerjaan, keluarga, mobilitas, rasa aman, dan keputusan sehari-hari.
Tetapi hidup tetap meminta manusia bergerak. Orang membutuhkan makanan dan pekerjaan, mahasiswa membutuhkan pendidikan, dan anak-anak masih harus mempunyai tempat untuk belajar.
Setelah perang, Thung berada dalam lingkungan perkembangan pendidikan tinggi pertanian di Bogor. Perannya sebagai ilmuwan mulai bersentuhan lebih dekat dengan pertanyaan lain: bagaimana ilmu dapat diteruskan kepada generasi berikutnya?
Pada 1949, persoalan itu datang dalam bentuk yang sangat konkret. Sejumlah keluarga di Bogor membutuhkan sekolah bagi anak-anak mereka, dan Thung bersama orang tua, pendidik, serta tokoh masyarakat ikut mencari jalan keluar.
Pada 22 Agustus 1949, berdirilah sekolah yang pada awalnya menggunakan nama Sekolah Rakyat Prof. Dr. Ir. Thung. Dalam perkembangannya, institusi itu kemudian dikenal sebagai Sekolah Kesatuan dan terus melanjutkan perjalanan pendidikannya.
Menariknya, tidak ada cerita besar tentang visi mengubah dunia di balik episode ini. Ada kebutuhan nyata, beberapa orang bersedia bergerak, lalu sesuatu mulai dibangun.
Mungkin justru begitu banyak karya penting dimulai.
Bukan dari slogan besar, tetapi dari keberanian mengatakan bahwa sebuah masalah tidak perlu dibiarkan terus terjadi.
Thung tentu tidak membangun sekolah itu sendirian. Kekuatan cerita ini justru terletak pada kerja bersama, karena sebuah institusi hanya bisa bertahan ketika orang lain merasa cukup percaya untuk ikut menjaga dan mengembangkannya.
Tidak lama kemudian, Thung kembali menuju Wageningen.
Namun kali ini ceritanya sudah berbeda.
Kembali dengan Posisi yang Berbeda

Pada 1950, Thung memperoleh posisi profesor di bidang virologi di Wageningen dan menyampaikan pidato pengukuhan berjudul The Evolution of Plant Virology. Ia kemudian dikenal sebagai profesor pertama di dunia yang secara khusus memegang kursi Virologi.
Ada sesuatu yang hampir sinematik dalam perjalanan itu. Pemuda dari Jawa yang dulu datang untuk belajar kini kembali ke tempat yang sama untuk ikut memperluas batas ilmu pengetahuan.
Tetapi pencapaian Thung menjadi lebih menarik ketika tidak dibaca sebagai kemenangan satu budaya atas budaya lain. Justru sebaliknya, hidupnya memperlihatkan bagaimana beberapa dunia bisa saling memperkaya.
Wageningen membuka banyak pintu: ilmu, lingkungan akademik, kolega, dan kesempatan untuk berkembang. Jawa memberinya persoalan nyata yang membuat pengetahuan itu bekerja, sementara akar Tionghoa ikut memberi warna pada cara pandangnya tentang ketekunan, nilai, dan hubungan antarmanusia.
Lalu dunia internasional memperluas cakrawalanya. Semua pengalaman itu perlahan bertemu menjadi satu kebiasaan hidup: menyerap banyak hal, memikirkan ulang, lalu mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang berguna.
Pada tahun-tahun berikutnya, Thung semakin aktif membangun jaringan ilmiah lintas negara. Ia bepergian, bertemu peneliti, mengembangkan kerja sama, serta membantu Wageningen semakin terhubung dengan perkembangan virologi dunia.
Kolega ternyata tidak hanya mengenangnya sebagai ilmuwan yang serius. Thung juga dikenal hangat, suka humor, mudah bergaul, dan cukup perhatian pada orang-orang di sekelilingnya.
Ada cerita kecil tentang seorang ilmuwan Amerika yang pernah bekerja dengannya. Ketika orang itu bepergian ke beberapa kota di Eropa, kartu pos dari Thung ternyata sudah menunggunya di sejumlah hotel yang ia kunjungi.
Detail tersebut mungkin tidak pernah masuk daftar prestasi akademik. Tapi justru hal kecil seperti itulah yang membuat kita melihat seorang profesor sebagai manusia biasa yang tahu cara membuat orang lain merasa diingat.
Ketika Perang Dingin membelah dunia ke dalam blok-blok politik, Thung tetap membangun relasi dengan ilmuwan dari banyak negara. Ilmu pengetahuan memberinya ruang untuk berbicara dengan orang-orang yang secara politik mungkin hidup di sisi berbeda.
Politik membangun batas.
Ilmu memberi alasan untuk tetap berjumpa.
Fernanda dan Rumah yang Selalu Bergerak
Sementara karier Thung tumbuh, Fernanda tetap berada di dalam perjalanan itu. Ia ikut melewati perpindahan dari Eropa ke Jawa, kehidupan kolonial, perang, perubahan negara, keluarga, lalu kembali ke Belanda.
Fernanda juga tidak tepat dipandang hanya sebagai “istri seorang profesor”. Ia membuat keputusan personal yang berani pada zamannya dan menjalani kehidupan yang berkali-kali meminta dirinya beradaptasi.
Yang menarik dari hubungan mereka mungkin justru bukan romansa besar yang dramatis. Daya tahannya terasa lebih kuat: hampir empat dekade hidup bersama di tengah tempat, budaya, dan keadaan yang terus berubah.
Mereka tidak hidup dalam satu dunia yang stabil.
Mereka belajar membangun rumah di tengah perubahan.
Ketika Kualitas Membawa Nama Lebih Jauh
Ada satu bagian dari cerita Thung yang terasa sangat relevan bagi generasi Indonesia hari ini. Kita sering membicarakan bagaimana membuat bangsa dikenal dunia, seolah jawabannya selalu ada pada panggung besar, kekuatan ekonomi, atau politik internasional.
Padahal sebuah negeri juga dikenal melalui kualitas manusia yang lahir dan tumbuh darinya. Ilmuwan membawa nama lewat penelitian, guru lewat murid, engineer melalui karya yang aman dan tahan lama, sementara profesional lain membawanya lewat standar kerja yang membuat orang percaya.
Thung tidak perlu terus mengatakan dari mana ia berasal. Pekerjaan yang dikerjakannya dengan baik sudah membawa cerita itu sendiri.
Di sinilah kebanggaan terasa lebih dewasa. Kita tidak perlu membuktikan diri dengan mengecilkan bangsa lain; cukup menghasilkan sesuatu yang pantas dihargai.
Kualitas tidak selalu berbicara keras.
Tetapi ia sulit diabaikan.
Yang Tidak Ikut Pergi
Pada 18 November 1960, perjalanan Thung berhenti mendadak. Empat hari kemudian, Wageningen mengantarnya menuju peristirahatan terakhir dalam prosesi yang membawa kita kembali ke adegan awal cerita ini.
Mahasiswa memanggul petinya, kolega dan sahabat berjalan bersama, sementara Fernanda menerima ungkapan belasungkawa dari berbagai negara. Hampir dua kilometer manusia mengiringi seseorang yang dahulu datang ke kota itu sebagai mahasiswa muda.
Panjang iring-iringan tentu bukan ukuran ilmiah mengenai keberhasilan. Namun kadang sebuah angka mampu menceritakan sesuatu yang tidak bisa dicatat oleh daftar publikasi, jabatan, atau penghargaan.
Saat masih bekerja, kita punya banyak ukuran tentang sukses. Gelar, posisi, pendapatan, organisasi yang dipimpin, prestasi, bahkan hari ini jumlah pengikut di media sosial.
Waktu kemudian menyederhanakan semuanya.
Jabatan pindah, ruangan ditempati orang lain, dan nama perlahan keluar dari percakapan sehari-hari. Setelah itu, yang diuji bukan lagi reputasi, melainkan apa yang benar-benar mampu bertahan.
Puluhan tahun setelah Thung meninggal, arsip pribadinya kembali dibuka dan kisah hidupnya mulai dibicarakan lagi. Biografi diterbitkan, penelitian lama dibaca kembali, dan posisinya dalam perkembangan virologi mendapat perhatian baru.
Di Bogor, jejak lain berjalan jauh lebih sunyi. Institusi pendidikan yang pernah memakai namanya tetap menerima generasi baru, sementara guru mengajar dan anak-anak datang ke kelas seperti biasa.
Sebagian dari mereka mungkin tidak pernah mengetahui keseluruhan cerita Thung.
Dan itu tidak masalah.
Karya yang matang tidak selalu membutuhkan penciptanya terus disebut. Ia cukup terus melakukan apa yang sejak awal dimaksudkan: memberi manfaat.
Dunia hari ini sudah jauh berubah. Mahasiswa Indonesia belajar di berbagai negara, peneliti dapat berkolaborasi lewat layar, dan satu ide bisa berpindah dari Bogor ke Wageningen dalam hitungan detik.
Namun beberapa pertanyaan lama tetap terasa relevan.
Untuk apa kita belajar? Apa yang akan kita lakukan dengan kesempatan yang kita punya, dan ketika suatu hari perjalanan selesai, adakah sesuatu yang masih berjalan tanpa kehadiran kita?
Thung tidak meninggalkan jawaban berbentuk teori. Ia menjalaninya melalui serangkaian keputusan yang sederhana tetapi konsisten: belajar, bekerja, meneliti, membantu membangun pendidikan, lalu mempertemukan manusia melalui ilmu.
Fernanda menyertai banyak bagian dari perjalanan tersebut. Jawa, Wageningen, keluarga, penelitian, perang, dan pergaulan internasional kemudian bertemu membentuk kehidupan yang terlalu kaya untuk dimasukkan ke satu identitas saja.
Mungkin justru di situlah daya tarik kisah Thung.

Ia tidak harus memilih antara menjadi bagian dari Jawa, akar Tionghoa, dunia akademik Belanda, atau komunitas ilmiah internasional. Ia membawa semuanya sebagai pengalaman yang berbeda, lalu membiarkan pekerjaan menyatukannya.
Pada November 1960, hampir 2 kilometer manusia mengantarnya pergi. Lebih dari enam dekade kemudian, orang masih menemukan alasan untuk membaca kembali hidupnya.
Tidak semua orang perlu menjadi terkenal.
Tetapi setiap orang punya kesempatan membuat sesuatu menjadi sedikit lebih baik karena pernah berada di sana.
Tanah kelahiran menentukan tempat perjalanan dimulai. Dunia memberi ruang untuk melangkah lebih jauh.
Namun karyalah yang menentukan apa yang masih tersisa setelah perjalanan selesai.
Insight Penutup
Ada sebuah kalimat Konfusius yang sangat dekat dengan cara Thung memandang dunia:
“Between the four seas, all men are brothers.”
“Di antara empat lautan, semua manusia adalah saudara.”
Thung bukan pencipta kalimat itu. Namun perjalanan hidupnya membuat gagasan tersebut terasa relevan: seorang manusia dapat belajar dari budaya lain, bekerja dengan banyak bangsa, tetap mengenali asal-usulnya, lalu menggunakan ilmu untuk mempertemukan lebih banyak orang.
Pesannya untuk pembaca hari ini mungkin tidak perlu dibuat rumit. Belajarlah sejauh mungkin, hormati perbedaan, kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan pastikan kehadiran kita meninggalkan manfaat.
Karena nama sebuah bangsa tidak selalu berjalan paling jauh lewat suara yang paling keras.
Kadang ia berjalan melalui kualitas karya anak-anaknya.
Referensi
1. De Epidemiologie van Tabaksziekten — T.H. Thung, Proefstation voor Vorstenlandsche Tabak, 1931.
Tulisan ini membahas epidemiologi penyakit tembakau dan memperlihatkan pendekatan Thung dalam memahami penyebaran penyakit tanaman. Karya tersebut penting untuk melihat bagaimana penelitian ilmiahnya berangkat dari persoalan nyata di sektor pertanian.
2. The Evolution of Plant Virology — T.H. Thung, Landbouwhogeschool Wageningen, 1950.
Pidato pengukuhan Thung ketika memperoleh posisi profesor khusus dalam bidang virologi di Wageningen. Materinya menggambarkan perkembangan awal virologi tanaman dan menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan akademiknya.
3. Black Shank of Tobacco in the Former Dutch East Indies, Caused by Phytophthora nicotianae — Jan C. Zadoks, Sidestone Press, 2014.
Buku ini membahas kembali penelitian awal mengenai penyakit black shank tembakau, termasuk karya Thung dari 1931 dan 1938. Publikasi ini membantu menempatkan kontribusinya dalam perkembangan awal epidemiologi penyakit tanaman.
4. Een Onverschrokken Leven: De vele hartstochten van Fernanda Willekes MacDonald — Lidy Nicolasen, Uitgeverij Balans, 2021.
Biografi ini membahas kehidupan Fernanda, keputusan personalnya, perjalanan bersama Thung, serta pengalaman mereka di Jawa dan Belanda. Buku ini memperlihatkan Fernanda sebagai pribadi dengan keberanian dan kisah hidupnya sendiri.
5. Tussen de Vier Zeeën: Het Leven van Thung Tjeng Hiang (1897–1960) — Frans Glissenaar, Uitgeverij Verloren, 2023.
Biografi ini menyajikan perjalanan hidup Thung berdasarkan arsip keluarga, surat-menyurat, dan berbagai dokumen pribadi. Isinya mencakup pendidikan, penelitian di Jawa, kehidupan keluarga, karier di Wageningen, serta hubungan internasionalnya.
6. The First Professor of Virology — Roelof Kleis, Resource Wageningen University & Research, 2023.
Artikel ini mengulas Thung sebagai profesor virologi pertama di dunia sekaligus menghadirkan sisi personalnya. Cerita mengenai jejaring internasional, karakter sosial, dan prosesi pemakamannya membantu melihat Thung secara lebih utuh.
7. Fascinating Viruses: Prof. T.H. Thung, the First Professor in Virology — Wageningen University & Research Library, Special Collections, 2023–2024.
Pameran arsip ini menyajikan perjalanan akademik dan personal Thung melalui dokumen keluarga, surat, dan koleksi sejarah. Materinya memperlihatkan perannya sebagai ilmuwan, penghubung lintas budaya, dan salah satu pionir perkembangan virologi.