Martin Nababan – Ada pertemuan yang terasa seperti pulang. Ketika teman-teman kuliah kembali berkumpul, perbedaan jabatan, latar belakang, penampilan, dan pencapaian hidup seolah tidak lagi penting. Seorang direktur bisa kembali menjadi bahan candaan teman seangkatannya, sementara obrolan sederhana dan tawa lepas menghidupkan kembali suasana persahabatan yang dulu tumbuh di kampus.
Pertemuan seperti itulah yang membuat saya kembali memikirkan arti menjadi alumni. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak: cukupkah hubungan alumni dirawat lewat nostalgia, atau bisakah ia tumbuh menjadi kekuatan yang membantu kampus dan masyarakat menghadapi masa depan?
Executive Summary

Hubungan antara alumni dan universitas menyimpan paradoks yang menarik. Setelah wisuda, kampus berharap lulusannya tetap terhubung dan ikut membesarkan pendidikan. Alumni ingin menjaga persahabatan, memperluas peluang profesional, dan punya komunitas yang bermanfaat sepanjang hidup. Kedua pihak merasa memiliki hubungan istimewa, tetapi belum tentu memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan satu sama lain.
Padahal, potensi hubungan ini jauh melampaui reuni. Pengalaman Stanford, Oxford, dan Tsinghua memperlihatkan bagaimana jejaring alumni mendukung pembelajaran, inovasi, penelitian, pembiayaan pendidikan, serta jembatan ke industri dan masyarakat. Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar membesarkan organisasi alumni, melainkan mengubah kekuatan persaudaraan menjadi kemitraan yang membuat universitas dan lulusannya tumbuh bersama.
Ketika Kampus Menjadi Kenangan
Ada masa ketika hidup kita hampir seluruhnya berputar di sekitar kampus. Pagi dimulai dengan mengejar jadwal kuliah, siang dihabiskan bersama teman-teman, dan malam sering berakhir dengan percakapan panjang yang sebenarnya tidak pernah direncanakan.
Kemudian datang hari wisuda. Kita berfoto, saling mengucapkan selamat, berjanji akan tetap berhubungan, lalu berangkat mengejar kehidupan masing-masing.
Sebagian membangun karier di perusahaan besar. Yang lain menjadi pengusaha, akademisi, atau memilih jalan yang jauh dari bidang studinya. Hubungan dengan kampus perlahan berubah menjadi kenangan, sesekali muncul kembali lewat undangan reuni atau kabar dari teman lama.
Menariknya, ketika akhirnya bertemu, jarak puluhan tahun sering hilang dalam hitungan menit. Orang yang sehari-hari dipanggil direktur, profesor, atau komisaris tiba-tiba kembali menjadi teman yang dulu sering terlambat masuk kelas.
Dalam pertemuan seperti itulah saya menyadari bahwa kampus bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan. Kampus juga tempat lahirnya hubungan manusia yang bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa kuliah itu sendiri.
Hidup, tentu saja, terus bergerak dan menghadirkan kebutuhan baru. Persahabatan tetap berharga, tetapi pengalaman, pengetahuan, dan relasi yang terkumpul selama puluhan tahun sebenarnya menyimpan manfaat yang jauh lebih luas.
Saya kembali merasakan hal itu ketika bertemu teman-teman alumni Teknik Industri USU di Jakarta. Pertemuan yang awalnya hanya untuk melepas rindu ternyata mengingatkan saya betapa beragamnya perjalanan hidup kami setelah meninggalkan kampus.
Kombur-Kombur di Jakarta

Pada pertengahan Oktober 2026, alumni Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU) dari berbagai angkatan berkumpul di Omah Pawon, kawasan Ampera, Jakarta Selatan. Pertemuan keluarga besar Himpunan Alumni Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (HATI USU) itu menghadirkan tradisi kombur-kombur, istilah yang akrab dalam pergaulan masyarakat Medan untuk obrolan santai, hangat, dan penuh humor.
Tidak perlu protokol formal untuk mencairkan suasana antara alumni senior dan generasi muda. Panggilan Abang, Kakak, dan Adik terasa jauh lebih dekat daripada jabatan yang sehari-hari melekat pada kehidupan profesional masing-masing.
Di balik percakapan tentang pekerjaan, keluarga, dan pengalaman hidup, ada sesuatu yang sering luput diperhatikan. Orang-orang yang duduk semeja membawa pengalaman berharga dari perjalanan hidup yang berbeda, baik sebagai profesional, pengusaha, pengajar, pekerja sosial, maupun ibu rumah tangga yang menjalankan usaha kecil secara mandiri, mendukung suami meniti karier, dan mendampingi anak-anak membangun pendidikan, pola pikir, serta karakter yang baik untuk menghadapi masa depan. Setiap pengalaman memiliki nilai dan pelajaran yang tidak selalu dapat diukur dari jabatan atau pencapaian materi.
Bayangkan bila pengalaman itu membantu mahasiswa memperoleh pekerjaan pertama, dosen menemukan persoalan penelitian, atau perusahaan mendapatkan gagasan untuk meningkatkan produktivitas. Pertemuan sederhana bisa menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang manfaatnya jauh lebih luas.
Meski begitu, tidak setiap pertemuan harus menghasilkan peluang bisnis atau program organisasi. Ada nilai yang tidak kalah penting ketika seseorang merasa diterima, didengarkan, dan tetap punya tempat untuk kembali.
Di sinilah keunikan hubungan alumni. Persaudaraan membuat orang ingin kembali bertemu, sedangkan kesempatan untuk saling membantu membuat hubungan itu terus bermakna.
Paradoks Dua Harapan
Kehangatan pertemuan alumni membuat saya melihat persoalan lain yang tidak selalu muncul dalam percakapan santai. Kampus mengharapkan dukungan pendidikan, masukan kurikulum, dan kontribusi kelembagaan. Sementara itu, alumni membutuhkan jejaring, kesempatan belajar, dan dukungan ketika menghadapi perubahan hidup.
Perbedaan inilah yang saya sebut Alumni Paradox: kedua pihak sama-sama menginginkan hubungan yang kuat, tetapi belum memiliki cara efektif untuk menciptakan manfaat bersama. Masalahnya jarang karena kurang peduli. Lebih sering karena hubungan itu masih dipahami sebatas reuni atau penggalangan sumbangan.
Maria Gallo, peneliti hubungan alumni dari Irlandia, dalam artikelnya pada 2012 menegaskan bahwa nilai alumni bagi perguruan tinggi perlu dipahami jauh lebih luas daripada sumbangan finansial. Ia menggambarkan hubungan alumni dan almamater sebagai sebuah siklus: dimulai dari afiliasi, tumbuh menjadi afinitas, berlanjut ke keterlibatan, dan baru kemudian menghasilkan dukungan.

Gambar 1. Siklus hubungan alumni dan almamater. Diolah dari Gallo (2012).
Urutan itu penting. Banyak kampus langsung meminta dukungan, padahal tahapan sebelumnya belum dirawat. Dukungan yang bertahan lama justru lahir dari hubungan yang dipelihara, bukan sebaliknya.
Dalam ilmu sosial, jaringan hubungan yang menghasilkan kepercayaan, dukungan, dan kesempatan dikenal sebagai social capital atau modal sosial. Modal ini tumbuh ketika persahabatan seangkatan berkembang menjadi hubungan lintas generasi, profesi, dan industri.
Manfaatnya terasa pada berbagai tahap kehidupan. Lulusan baru memperoleh mentor, profesional berpengalaman menemukan mitra, dan alumni senior mendapat kesempatan membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Universitas pun membutuhkan pengalaman yang tidak selalu tersedia di buku ajar. Para lulusannya dapat mempertemukan persoalan industri dengan kemampuan akademik kampus melalui pembelajaran, penelitian, dan inovasi bersama.
Ketika Alumni Kembali Mengajar

Salah satu kontribusi alumni yang paling dekat dengan kebutuhan kampus adalah membantu memperbarui kurikulum, yaitu rancangan pembelajaran yang menentukan pengetahuan dan kemampuan yang perlu dikuasai mahasiswa.
Seorang lulusan Teknik Industri yang dulu mempelajari perencanaan produksi secara manual mungkin kini memimpin perusahaan yang memakai otomatisasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pengalaman seperti itu membantu dosen memahami perubahan dunia kerja tanpa mengorbankan pentingnya dasar ilmu pengetahuan.
Alumni dapat memberi masukan melalui forum penasihat industri, kuliah tamu, pendampingan proyek, dan evaluasi kebutuhan kompetensi. Keputusan akademik tetap berada di tangan universitas, tetapi diperkaya perspektif orang-orang yang berhadapan langsung dengan tantangan di lapangan.
Hubungan ini juga membuka pembelajaran dua arah. Kampus dapat menyediakan program lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat, agar lulusan terus memperbarui keterampilannya meskipun sudah bekerja puluhan tahun.
Manfaat yang lebih besar muncul ketika alumni mempertemukan kampus dengan persoalan perusahaan. Dosen dan mahasiswa dapat membantu mengkaji penghematan energi, peningkatan keselamatan, perbaikan proses produksi, atau pengembangan teknologi baru.
Kerja sama semacam ini dikenal sebagai penelitian bersama industri. Perusahaan menyediakan persoalan nyata, sedangkan universitas menggunakan kemampuan ilmiahnya untuk mengembangkan dan menguji alternatif penyelesaian.
Agar berjalan sehat, kerja sama ini membutuhkan aturan yang jelas mengenai pembiayaan, penggunaan data, dan kepemilikan hasil penelitian. Tanpa kesepakatan itu, kolaborasi yang semula menjanjikan bisa berubah menjadi sengketa ketika hasilnya mulai bernilai komersial.
Dana Abadi dan Manfaat Sosial
Bentuk kontribusi lainnya adalah university endowment atau dana abadi perguruan tinggi. Dana ini dikelola sebagai sumber pembiayaan jangka panjang: pokoknya dijaga, sementara hasil investasinya digunakan sesuai ketentuan pengelola.
Dana abadi dapat mendukung beasiswa, penelitian, pengembangan dosen, dan fasilitas pembelajaran. Manfaatnya tidak berhenti pada satu angkatan karena dana dirancang untuk menjaga keberlanjutan program pendidikan dari generasi ke generasi.
Meski demikian, sumbangan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kepedulian alumni. Bentuk kontribusi alumni juga dapat dipahami melalui kerangka empat T: time, talent, treasure, dan ties. Mereka yang belum mampu membantu secara finansial tetap dapat berkontribusi melalui waktu, keahlian, atau jejaring.

Gambar 2. Empat bentuk kontribusi alumni. Diolah dari kerangka 4T Maria Gallo.
Kepercayaan terhadap pengelolaan dana juga menentukan. Kampus perlu menyampaikan tujuan penghimpunan, kebijakan investasi, penggunaan hasil, serta laporan pengelolaannya secara terbuka.
Kontribusi alumni bahkan dapat meluas hingga pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan kampus dan pengalaman profesional lulusan dapat dipadukan untuk membantu usaha kecil, meningkatkan layanan publik, mengembangkan teknologi tepat guna, atau menyelesaikan persoalan lingkungan.
Nilai pendidikan tidak hanya terlihat dari keberhasilan seseorang membangun karier, tetapi juga dari manfaat pengetahuan yang akhirnya dirasakan orang lain.
Stanford — Jejaring Sepanjang Karier

Bagaimana hubungan alumni yang terus berkembang itu dijalankan oleh universitas? Pengalaman sejumlah kampus dunia memberikan gambaran tentang cara menghubungkan persahabatan, kebutuhan lulusan, dan kepentingan pendidikan.
Di California, Stanford University memperlihatkan bagaimana hubungan alumni dipelihara melalui kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai generasi. Stanford Alumni Association (SAA) melayani lebih dari 250.000 alumni di seluruh dunia melalui komunitas, pembelajaran, jejaring profesi, dan pengembangan karier.
Salah satu kegiatan utamanya adalah Reunion Homecoming, yang berlangsung 15–18 Oktober 2026, hampir bersamaan dengan kombur-kombur di Ampera. Reunion Homecoming merupakan kegiatan tahunan yang biasanya mendatangkan lebih dari 9.000 alumni dan tamu ke kampus. Selain pertemuan angkatan, ada diskusi akademik, sesi belajar bersama pengajar, dan kunjungan kampus yang membuat alumni bisa mengikuti perkembangan almamaternya.
Hubungan itu berlanjut melalui Alumni Career Connections. Alumni memperoleh akses ke direktori alumni, kelompok alumni, dan grup profesional untuk mencari kerja maupun menjajaki karier. Stanford juga menjalankan program pengembangan karier bagi lulusan hingga lima tahun setelah wisuda, serta program mentoring ketika alumni membimbing mahasiswa yang masih kuliah.
Program seperti ini penting karena kebutuhan seorang lulusan berubah beberapa kali sepanjang kariernya. Ia mungkin membutuhkan pekerjaan pertama setelah wisuda, lalu mencari jalan mengembangkan karier atau memulai usaha. Setelah berpengalaman, orang yang sama dapat kembali sebagai pembimbing, pemberi kerja, atau mitra kegiatan kampus.
Stanford juga tumbuh bersama ekosistem inovasi Silicon Valley, tempat dunia akademik, perusahaan, dan profesional saling terhubung. Perkembangan kawasan teknologi itu tentu tidak bisa dikaitkan hanya dengan organisasi alumni, tetapi ia memperlihatkan apa yang terjadi ketika penelitian dan kebutuhan industri bertemu.
Stanford mengajarkan pentingnya merawat hubungan profesional sepanjang karier. Alumni yang hari ini dibantu bisa menjadi orang yang membuka kesempatan bagi generasi berikutnya.
Oxford — Belajar dan Berbagi

Jika Stanford menonjol dalam pengembangan jejaring karier, Oxford memperlihatkan pendekatan yang berbeda. Hubungan alumni dengan kampus juga dapat dipelihara melalui kesempatan untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan.
Di Inggris, University of Oxford merawat hubungan alumni melalui komunitas akademik, jejaring regional, dan kesempatan belajar setelah kelulusan. Program andalannya adalah Meeting Minds, yang mempertemukan lulusan dengan para akademisi untuk membahas perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai persoalan masyarakat.
Pada 19–21 September 2025, hampir 1.000 alumni kembali ke Oxford untuk Meeting Minds. Selama tiga hari mereka mengikuti diskusi, mengunjungi kolese dan departemen, serta kembali bertukar gagasan dengan dosen maupun sesama lulusan. Tradisi ini berlanjut pada 18–20 September 2026, salah satunya di gedung riset dan pengajaran terbaru Oxford.
Oxford juga memiliki New Oxford Student Events, kegiatan penyambutan calon mahasiswa yang diselenggarakan kelompok-kelompok alumni di berbagai negara, baik daring maupun tatap muka. Calon mahasiswa bisa bertanya langsung kepada mereka yang pernah kuliah di sana, bahkan sebelum menginjakkan kaki di Oxford.
Program ini memperlihatkan pola yang menarik. Alumni tidak hanya menjaga persahabatan dengan generasinya sendiri, tetapi juga membantu mahasiswa yang bahkan belum memulai kuliah.
Dukungan pendidikan Oxford diperkuat pula oleh dana abadi yang dikelola untuk kebutuhan jangka panjang universitas. Namun kekuatan Oxford tidak hanya terletak pada pembiayaan. Tradisi belajar dan berbagi membuat alumni tetap menjadi bagian dari kehidupan intelektual universitas meski telah meninggalkan kampus puluhan tahun.
Warisan universitas tidak hanya terlihat dari sejarah dan reputasinya, tetapi juga dari kesempatan belajar yang terus diberikan kepada generasi berikutnya.
Tsinghua — Dari Forum ke Industri

Selain jejaring karier dan pembelajaran sepanjang hayat, ada bentuk hubungan alumni yang semakin relevan ketika dunia industri menghadapi perubahan teknologi. Pengalaman Tsinghua memperlihatkan bagaimana pertemuan alumni dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi dan praktisi.
Dari Beijing, Tsinghua University memperlihatkan bagaimana komunitas alumni bertemu dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Contoh menarik datang dari Departemen Teknik Elektro.
Pada 22 Juli 2026, di sela IEEE Power and Energy Society (PES) General Meeting di Montreal, Kanada, asosiasi alumni departemen itu di Amerika Utara menyelenggarakan simposium tentang pendidikan, riset, dan pengembangan karier bidang energi di era AI. Pesertanya datang dari banyak negara, mulai dari kampus ternama, operator pasar listrik, hingga perusahaan teknologi.
Dekan departemen, Profesor Kang Chongqing, menyebut acara ini sengaja memperluas temu alumni tradisional menjadi forum profesional yang terbuka bagi kolega internasional. Ia menekankan bahwa penerapan AI di sektor kelistrikan harus tetap berpijak pada dasar ilmu teknik, hukum fisika, dan batasan keselamatan.
Sesi panelnya mempertemukan akademisi dengan praktisi dari operator jaringan listrik dan lembaga pengujian. Mereka sepakat bahwa nilai AI bukan hanya mengotomatisasi pekerjaan rutin, tetapi juga membantu praktisi menemukan persoalan yang benar-benar layak diselesaikan.
Pertemuan semacam ini memperlihatkan hubungan yang lebih luas daripada reuni. Alumni membawa pengalaman industri, dosen memberi perspektif akademik, dan praktisi membuka jendela ke persoalan nyata di lapangan.
Tentu saja, sebuah forum tidak otomatis menghasilkan paten, penelitian bersama, atau keberhasilan bisnis. Tetapi kegiatan yang disusun dari persoalan nyata membuka peluang untuk menemukan kebutuhan yang bisa dikembangkan menjadi kolaborasi.
Tsinghua menunjukkan bahwa komunitas alumni dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan pengalaman industri, terutama ketika keduanya menghadapi perubahan teknologi yang sama.
Apakah Peringkat Ikut Meningkat?
Ketiga pengalaman tersebut memperlihatkan manfaat hubungan alumni dari sudut yang berbeda. Bagi pimpinan universitas, muncul pertanyaan berikutnya: apakah hubungan alumni yang kuat juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan peringkat kampus?
Penelitian Gallo memberi dasar kuat bahwa hubungan jangka panjang dengan alumni menghasilkan manfaat kelembagaan yang melampaui penggalangan dana. Namun fokusnya adalah nilai hubungan alumni, bukan pemeringkatan universitas. Klaim bahwa alumni yang aktif otomatis menaikkan peringkat perlu dilihat lebih hati-hati.
Dalam metodologi QS World University Rankings, reputasi akademik berbobot 30%, sitasi penelitian per dosen 20%, reputasi di mata pemberi kerja 15%, dan hasil ketenagakerjaan lulusan 5%. Tidak ada satu pun indikator yang langsung memberi nilai berdasarkan jumlah reuni, besarnya organisasi alumni, atau total sumbangan yang dihimpun.

Gambar 3. Bobot indikator QS World University Rankings 2026. Sumber: QS Quacquarelli Symonds.
Meski begitu, kontribusi alumni dapat memperkuat beberapa indikator secara tidak langsung. Pendampingan profesional berpotensi meningkatkan kesiapan dan serapan kerja lulusan, sementara penelitian bersama industri dapat memperkuat hasil akademik bila menghasilkan publikasi berkualitas.
Dana abadi juga membantu universitas menyediakan fasilitas, beasiswa, dan pembiayaan riset. Pengaruhnya terhadap peringkat tetap bergantung pada hasil nyata yang dicapai, bukan sekadar besarnya dana yang tersedia.
Karena itu, hubungan alumni dan universitas sebaiknya tidak diarahkan semata-mata untuk mengejar peringkat. Kualitas pendidikan dan penelitian adalah tujuannya; reputasi dan peringkat adalah kemungkinan hasil dari kinerja yang terus membaik.
Bagaimana dengan Indonesia?
Setelah melihat pengalaman Stanford, Oxford, dan Tsinghua, saya kembali memikirkan hubungan alumni dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kita sebenarnya sudah memiliki organisasi dan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada reuni, tetapi juga pendidikan, pendanaan, dan kontribusi profesional.
Di Universitas Indonesia, Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (ILUNI FEB UI) mendukung fakultas melalui beasiswa dan renovasi fasilitas. Pada 25 November 2025, ILUNI FEB UI menggelar Appreciation Night bertema Rekindling Sparks, Igniting Impact di Jakarta. Ketuanya, Ubaidillah Nugraha, menegaskan komitmen agar alumni tidak hanya bermanfaat bagi almamater, tetapi juga bagi kemajuan bangsa.
Komitmen itu berlanjut pada 29 Juli 2026, ketika ILUNI FEB UI bersama BRI Manajemen Investasi meluncurkan reksa dana syariah yang mengadopsi konsep dana abadi. Pokok dananya dijaga, sementara hasil investasinya diarahkan untuk program sosial dan pendidikan. Kontribusi alumni hadir bukan hanya melalui sumbangan, tetapi juga melalui pengetahuan dan jejaring lintas sektor.
Di Institut Teknologi Bandung, pengelolaan Dana Lestari dijalankan oleh Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (BPUDL), unit di bawah koordinasi Rektor yang didukung dewan penasihat dan komite investasi dari kalangan alumni berpengalaman bisnis. Dalam forum evaluasi lima tahun BPUDL pada Februari 2025, Rektor ITB mengungkapkan bahwa pendanaan pemerintah hanya mencapai 26% dari anggaran tahunan ITB.

Gambar 4. Porsi pendanaan pemerintah dalam anggaran tahunan ITB. Sumber: BPUDL ITB (2025).
Angka itu menjelaskan mengapa dana abadi bukan lagi pelengkap, melainkan bagian dari kemandirian finansial kampus. Donasi Dana Lestari ITB kini bisa disalurkan melalui platform daring kampus, dan sejumlah angkatan alumni menyatakan komitmen dukungannya secara terbuka.
Sementara itu, Universitas Gadjah Mada memperkuat kerja sama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA). Dalam Rapat Kerja Nasional KAGAMA pada 13 Desember 2025, Rektor UGM memaparkan kolaborasi dalam beasiswa, bantuan kebencanaan, dan hilirisasi. Pada tahun yang sama, UGM dan KAGAMA juga mewujudkan Lembaga Sertifikasi Profesi dengan 60 skema.
Jika dirangkum, setiap kampus menonjol pada kekuatan yang berbeda:
Tabel 1. Kekuatan hubungan alumni di enam perguruan tinggi
No | Kampus | Kekuatan utama | Bentuk kegiatan alumni | Pelajaran bagi Indonesia |
|---|---|---|---|---|
1 | Stanford | Jejaring sepanjang karier | Reunion Homecoming, Career Connections, mentoring mahasiswa | Rawat kebutuhan alumni di setiap tahap karier |
2 | Oxford | Belajar dan berbagi | Meeting Minds, penyambutan calon mahasiswa oleh kelompok alumni | Jadikan alumni bagian dari kehidupan intelektual kampus |
3 | Tsinghua | Jembatan ke industri | Simposium alumni bidang energi dan AI bersama praktisi | Susun forum alumni dari persoalan nyata industri |
4 | ILUNI FEB UI | Pendanaan berkelanjutan | Beasiswa, renovasi fasilitas, reksa dana berkonsep dana abadi | Gabungkan persaudaraan dengan instrumen keuangan yang transparan |
5 | ITB (BPUDL) | Kemandirian finansial | Dana Lestari, dewan penasihat dari alumni | Libatkan alumni dalam tata kelola, bukan hanya donasi |
6 | UGM (KAGAMA) | Kontribusi profesional | Beasiswa, hilirisasi, sertifikasi profesi | Ubah keahlian alumni menjadi layanan bagi mahasiswa |
Ketiga contoh dalam negeri itu memperlihatkan bahwa perguruan tinggi Indonesia sudah memiliki fondasi hubungan alumni yang menjanjikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan program yang berjalan memberikan hasil terukur dan menjangkau lebih banyak anggota serta mahasiswa.
Mentoring dapat dievaluasi dari perkembangan pesertanya, penelitian bersama dari penerapan hasilnya, dan dana abadi dari manfaat pembiayaan pendidikan yang dirasakan. Ukuran seperti ini membantu organisasi memahami apakah kegiatannya benar-benar menjawab kebutuhan anggota dan universitas.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya kembali teringat pertemuan HATI USU di Jakarta. Kombur-kombur yang berlangsung hangat itu bisa menjadi titik awal yang menarik. Jejaring profesional lintas angkatan berpotensi berkembang selangkah demi selangkah: dari temu rutin, ke pendampingan mahasiswa, masukan kurikulum, penelitian bersama industri, hingga dana abadi untuk beasiswa.

Gambar 5. Peta jalan dari persaudaraan menuju kemitraan bagi HATI USU. Gagasan penulis.
Indonesia memiliki banyak alumni berpengalaman yang tersebar di berbagai perusahaan, daerah, dan negara. Peluang terbesarnya adalah mempertemukan kembali pengalaman itu dengan kebutuhan kampus dan generasi yang sedang menyiapkan masa depan.
Penutup — Sebuah Renungan
Pada akhirnya, saya percaya hubungan alumni yang baik perlu dirawat oleh semua pihak. Setiap generasi memiliki pengalaman dan kesempatan berbeda untuk memberikan kontribusi, sementara kampus mempunyai peran penting untuk membuka ruang bagi keterlibatan tersebut.
Bagi alumni muda, jangan menunggu mapan untuk terlibat. Waktu dan keingintahuan Anda sama berharganya dengan sumbangan. Hadirlah, bertanyalah, dan bangun relasi dengan senior sejak awal karier.
Bagi alumni senior, pengalaman Anda adalah aset yang tidak tercatat di neraca mana pun. Satu jam membimbing mahasiswa atau satu persoalan perusahaan yang dibawa ke kampus bisa mengubah arah hidup seseorang.
Bagi pengurus ikatan alumni, termasuk HATI USU, rawatlah tahap afiliasi dan afinitas sebelum meminta dukungan. Buat program sederhana yang terukur, laporkan hasilnya secara terbuka, dan pastikan setiap generasi merasa punya tempat.
Bagi pimpinan kampus dan program studi, buka pintu lebar-lebar bagi alumni dalam kurikulum, riset, dan tata kelola dana. Alumni bukan sekadar donatur, melainkan mitra yang memahami dunia tempat lulusan Anda akan bekerja.
Di luar semua program dan rencana itu, ada makna persahabatan yang tidak boleh kita lupakan. Setelah puluhan tahun meninggalkan kampus, kita mungkin tidak lagi mengingat seluruh pelajaran yang pernah disampaikan dosen. Sebagian rumus terlupakan, buku-buku lama tersimpan di rak, dan ruang kelas yang dulu begitu akrab mungkin sudah berubah bentuk.
Tetapi ada sesuatu yang sering bertahan lebih lama daripada pengetahuan yang pernah kita hafalkan: orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan kita. Teman yang dulu duduk di sebelah kita mungkin kini memimpin perusahaan, mengajar di universitas, atau menjalani hidup sederhana yang tidak kalah bermakna.
Saya membayangkan kombur-kombur bukan hanya kesempatan mengenang masa lalu. Di balik percakapan sederhana itu mungkin tersimpan pengalaman yang suatu hari dapat membantu seseorang yang bahkan belum kita kenal.
Mungkin seorang mahasiswa memperoleh beasiswa dari dana yang dikumpulkan para alumni. Mungkin penelitian seorang dosen membantu perusahaan memperbaiki proses kerjanya, atau sebuah gagasan dari ruang kuliah membuat hidup masyarakat menjadi lebih baik.
Tidak semua manfaat itu harus diketahui oleh orang yang pertama kali memulainya. Seperti pohon yang dulu ditanam seseorang di halaman kampus, kita mungkin tidak pernah mengenal siapa saja yang kelak menikmati keteduhannya.
Barangkali demikian pula makna menjadi alumni.
Kita pernah datang ke universitas untuk memperoleh ilmu, lalu meninggalkannya untuk membangun kehidupan. Tetapi pada suatu waktu, kita mendapat kesempatan untuk kembali, bukan untuk mengambil sesuatu, melainkan untuk meninggalkan sesuatu yang berharga bagi mereka yang datang setelah kita.
Dan ketika kesempatan itu hadir, mungkin kita akan memahami bahwa hubungan dengan almamater sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir pada hari wisuda.
Referensi
- Maria L. Gallo — “Beyond Philanthropy: Recognising the Value of Alumni to Benefit Higher Education Institutions” — Tertiary Education and Management, 18(1), 41–55, Routledge — 2012. https://doi.org/10.1080/13583883.2011.611892
- Maria L. Gallo — “Alumni Relations at the Heart of Philanthropy: Exploring Volunteering and Volunteer Management Opportunities” — ICARe Alumni Conference — 2019. https://parc.ipp.pt/index.php/ICAR/article/view/3126
- Stanford Alumni Association — “Stanford Reunion Homecoming 2026” — Stanford University — 2026. https://alumni.stanford.edu/reunion
- Stanford Report — “Michelle Landrey Cline Named President of the Stanford Alumni Association” — Stanford University — 2026. https://news.stanford.edu/stories/2026/07/michelle-landrey-cline-president-stanford-alumni-association
- Stanford Alumni Association — “Graduate Students: Alumni Career Connections” — Stanford University — diakses 2026. https://alumni.stanford.edu/students/grad
- Stanford Department of Art & Art History — “Alumni Resources (Stanford PlusFive, Stanford Alumni Mentoring)” — Stanford University — diakses 2026. https://art.stanford.edu/alums/resources
- Stanford Alumni Association — “About the Stanford Alumni Association” — Stanford University — diakses 2026. https://alumni.stanford.edu/about/
- University of Oxford — “Meeting Minds 2025 Recordings” — Oxford Alumni — 2025. https://www.ox.ac.uk/alumni/events/meeting-minds/2025
- Christ Church Connections — “University of Oxford’s Alumni Weekend 2026” — Christ Church, Oxford — 2026. https://chchconnections.org/news/alumni/472/472-UNIVERSITY-OF-OXFORDS-ALUMNI-WEEKEND-
- University of Oxford — “New Oxford Student Events” — Oxford Alumni — diakses 2026. https://www.ox.ac.uk/alumni/events/new-oxford-student
- Department of Electrical Engineering, Tsinghua University — “Symposium on Education, Teaching, and Career Development in Energy and Power in the Age of AI Successfully Held in Montreal” — Tsinghua University — 2026. https://www.eea.tsinghua.edu.cn/en/info/1038/3656.htm
- QS Quacquarelli Symonds — “QS Methodology Handbook” — QS — 2025. https://op.mahidol.ac.th/pl/wp-content/uploads/2025/08/QS-Methodology-Handbook-updated-in-August-2025-Public-version.pdf
- Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman — “Wamen PKP Fahri Hamzah Hadiri Appreciation Night ILUNI FEB UI” — Kementerian PKP — 2025. https://pkp.go.id/berita/detail/wamen-pkp-fahri-hamzah-hadiri-appreciation-night-iluni-feb-ui-dorong-jejaring-dan-kolaborasi-alumni
- IDX Channel — “BRI-MI dan ILUNI FEB UI Hadirkan Reksa Dana Syariah Berbasis Dana Abadi” — IDX Channel — 2026. https://www.idxchannel.com/market-news/bri-mi-dan-iluni-feb-ui-hadirkan-reksa-dana-syariah-berbasis-dana-abadi
- Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari ITB — “Five-Year Evaluation of BPUDL: Synergy for the Future of ITB’s Business and Endowment Fund” — Institut Teknologi Bandung — 2025. https://bpudl.itb.ac.id/2025/02/07/five-year-evaluation-of-bpudl-synergy-for-the-future-of-itbs-business-and-endowment-fund/
- Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari ITB — “About BPUDL” — Institut Teknologi Bandung — diakses 2026. https://bpudl.itb.ac.id/about-us-id/
- Kontan — “BNI Dukung Dana Lestari ITB Lewat wondr ITB Ultra Marathon 2025” — Kontan — 2025. https://industri.kontan.co.id/news/bni-dukung-dana-lestari-itb-lewat-wondr-itb-ultra-marathon-2025
- Direktorat Alumni dan Pengembangan Karier ITB — “ITB Class of ’72 Pledges Support for Dana Lestari” — Institut Teknologi Bandung — 2025. https://alumni.itb.ac.id/en/recent-updates/page/7
- Universitas Gadjah Mada — “Basuki Sampaikan Progres Pembangunan IKN di Rakernas Kagama” — Universitas Gadjah Mada — 2025. https://ugm.ac.id/id/berita/basuki-sampaikan-progres-pembangunan-ikn-di-rakernas-kagama/
14 Lampiran
Tabel A. Daftar Singkatan
No | Singkatan | Kepanjangan |
|---|---|---|
1 | AI | Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) |
2 | BPUDL | Badan Pengelola Usaha dan Dana Lestari (ITB) |
3 | BRI-MI | PT BRI Manajemen Investasi |
4 | FEB UI | Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia |
5 | HATI USU | Himpunan Alumni Teknik Industri Universitas Sumatera Utara |
6 | IEEE PES | Institute of Electrical and Electronics Engineers – Power and Energy Society |
7 | ILUNI | Ikatan Alumni Universitas Indonesia |
8 | ITB | Institut Teknologi Bandung |
9 | KAGAMA | Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada |
10 | LSP | Lembaga Sertifikasi Profesi |
11 | QS | Quacquarelli Symonds |
12 | SAA | Stanford Alumni Association |
13 | UGM | Universitas Gadjah Mada |
14 | USU | Universitas Sumatera Utara |
Tabel B. Daftar Istilah Baru/Asing
No | Istilah | Penjelasan |
|---|---|---|
1 | Afiliasi – Afinitas – Keterlibatan – Dukungan | Siklus hubungan alumni dan almamater menurut Gallo (2012) |
2 | Alumni Paradox | Keadaan ketika kampus dan alumni sama-sama menginginkan hubungan kuat, tetapi belum punya cara efektif menciptakan manfaat bersama |
3 | Endowment / dana abadi / dana lestari | Dana jangka panjang yang pokoknya dijaga, sementara hasil investasinya membiayai program pendidikan |
4 | Homecoming | Acara kembalinya alumni ke kampus, biasanya tahunan |
5 | Kombur-kombur | Istilah pergaulan Medan untuk obrolan santai, hangat, dan penuh humor |
6 | Lifelong learning | Pembelajaran sepanjang hayat setelah lulus kuliah |
7 | Mentoring | Pendampingan oleh orang yang lebih berpengalaman |
8 | Social capital | Modal sosial: jaringan hubungan yang melahirkan kepercayaan, dukungan, dan kesempatan |
9 | Time, Talent, Treasure, Ties (4T) | Empat bentuk kontribusi alumni: waktu, keahlian, dana, dan jejaring |