Horas ma hita sude.
Ada rindu yang tidak bisa diukur dengan kilometer. Ia tidak tinggal di peta, tidak selesai oleh tiket pesawat, dan tidak selalu datang karena kita terlalu lama pergi. Rindu seperti itu hidup di tempat yang lebih dalam: di aroma tanah setelah hujan, di dingin udara pagi, di suara orang menyapa dengan logat yang tidak perlu diterjemahkan, di jalan menuju rumah keluarga, dan di kenangan tentang orang tua yang dulu selalu menunggu anak-cucunya pulang.
Rindu kepada Bona Pasogit datang pelan-pelan. Tetapi begitu kaki kembali menyentuh tanah asal, ia langsung membuka seluruh pintu ingatan.
Silangit, Pintu Pulang dan Jejak Sejarah

Rabu pagi, 27 Mei yang lalu, roda pesawat AirAsia yang kami tumpangi menyentuh landasan Bandara Silangit dengan halus. Tepat pukul 09.15 WIB, kami turun melewati tangga pesawat. Udara dingin langsung menyergap wajah. Segar, bersih, dan jujur. Udara seperti itu tidak perlu memperkenalkan diri. Ia langsung berbisik dalam diam, “Horas. Sudah sampai kau di kampung.”
Bagi orang Batak yang lama merantau, Silangit bukan sekadar bandara. Ia adalah pintu pulang. Ia seperti lorong waktu yang membawa kita dari dunia yang cepat, padat, dan bising menuju tanah yang lebih pelan, lebih sejuk, tetapi justru lebih dalam. Di sini, langit terasa lebih dekat. Bukit-bukit berdiri tenang seperti para penjaga tua. Sawah menghampar hijau. Angin datang tanpa terburu-buru. Dan hati, entah mengapa, lebih mudah menjadi lembut.
Namun mendarat di Silangit kali ini terasa lebih bermakna. Di balik wajahnya yang kini semakin modern, Bandara Silangit menyimpan jejak sejarah yang kuat. Bandara ini pertama kali dibangun pada masa pendudukan militer Jepang, sekitar tahun 1944, sebagai landasan pacu darurat Angkatan Udara Kekaisaran Jepang. Fakta itu membuat momen ketika roda pesawat menyentuh landasan menjadi tidak lagi biasa. Tanah yang kami injak bukan hanya tanah sejuk tempat para perantau pulang. Ia pernah menjadi saksi zaman yang keras, saksi pergolakan Perang Dunia II, sekaligus saksi perjalanan panjang sebuah daerah yang diam-diam menyimpan martabat sejarah.
Siborong-borong karena itu tidak cukup hanya disebut indah. Ia tidak cukup hanya dipuji karena sejuk, subur, dan dekat dengan Danau Toba. Di balik udara dinginnya, ada kisah perjuangan. Di balik hamparan sawahnya, ada cerita keluarga. Di balik rumah-rumah tua dan jalan kampungnya, ada jejak orang-orang yang memilih bertahan, menjaga, membina, dan mengabdi.
Di tanah seperti inilah cerita keluarga kami tumbuh.
Rumah Pusaka dan Warisan Ayah-Ibu


Selama 25 tahun penuh, Ayah dan Ibu tercinta tinggal di Siborong-borong. Mereka menjaga aset keluarga, tetapi lebih dari itu, mereka menjaga kehadiran keluarga besar di tanah asal. Anak-anak merantau ke berbagai kota. Cucu-cucu lahir dan bertumbuh di tempat yang jauh. Tetapi rumah di Siborong-borong tetap menyala. Selalu ada yang menunggu. Selalu ada yang menyambut. Selalu ada kopi panas, percakapan panjang, tawa, doa, dan cerita lama yang diulang berkali-kali, namun tidak pernah kehilangan kehangatannya.
Ayah dan Ibu adalah dua pribadi yang berbeda, tetapi justru karena perbedaan itu rumah menjadi lengkap. Ayah adalah sosok yang lincah, berwibawa, hangat, dan penuh energi. Beliau pernah dipercaya menjadi wakil rakyat selama satu periode untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan petani lokal. Namun di luar ruang politik, perhatian terdalam Ayah ada pada dunia pendidikan. Sebagai volunteer pengawas pendidikan di Tapanuli Utara, Ayah ikut mengawal penyaluran dana pendidikan agar benar-benar sampai ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Setiap pulang ke rumah, Ayah sering bercerita tentang sekolah di pelosok, bangunan yang perlu diperbaiki, kekurangan guru, dan anak-anak yang semangatnya besar tetapi fasilitasnya terbatas. Cara Ayah bercerita tidak pernah terasa seperti laporan administrasi yang dingin. Selalu ada empati di sana. Selalu ada kegelisahan. Selalu ada keyakinan bahwa anak-anak di kampung pun berhak melihat masa depan yang lebih luas.
Kegelisahan itu tidak berhenti di meja makan. Ayah membawanya ke gereja, ke komunitas, ke ruang-ruang kecil tempat anak muda bisa dibina. Beliau aktif membimbing anak-anak muda agar tumbuh menjadi pemimpin yang mandiri: mandiri dalam iman, mandiri dalam membangun keluarga, dan mandiri dalam pekerjaan. Ayah percaya bahwa anak muda tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka perlu dibuka cakrawalanya. Bahkan, visi itu pernah diwujudkan dengan membawa anak-anak muda binaannya belajar langsung ke Jerman, agar mereka melihat dunia lebih luas dan tidak merasa masa depan hanya sebatas kampung halaman.
Namun Ayah bukan tipe aktivis yang kaku. Beliau manusia panggung dalam arti paling menyenangkan. Pandai menyanyi, jago bermain gitar dan harmonika, pintar melawak, dan sangat pandai memasak. Kalau Ayah sudah memegang gitar atau mulai bercerita, suasana rumah berubah. Orang yang datang dengan wajah lelah bisa pulang dengan hati ringan. Orang yang datang hanya untuk bertamu bisa tiba-tiba ikut tertawa, ikut bernyanyi, lalu lupa waktu.
Mungkin itulah salah satu seni hidup orang Batak. Di balik suara yang keras, ada hati yang lembut. Di balik perdebatan panjang, ada kasih yang ingin disampaikan. Di balik tawa dan lagu, ada cara untuk merawat luka dan menjaga harapan.
Di sisi lain, Ibu hadir sebagai keseimbangan yang menenangkan. Kalau Ayah membuat rumah hidup dengan suara, Ibu membuat rumah teduh dengan kehadiran. Ibu bukan orang yang perlu banyak bicara untuk membuat orang merasa diterima. Beliau menjadi tempat curhat yang nyaman bagi tetangga, teman, keluarga muda, dan siapa saja yang membutuhkan telinga yang sabar.
Saat rumah ramai oleh banyolan Ayah, petikan gitar, atau suara harmonika, Ibu bergerak dengan tenang. Menyiapkan minuman hangat. Menghidangkan makanan kecil. Memastikan tamu merasa cukup. Bukan sekadar cukup makan dan minum, tetapi cukup diperhatikan. Dalam budaya keluarga kami, pelayanan Ibu tidak tampil sebagai pidato besar. Ia hadir dalam hal-hal kecil yang konsisten: gelas yang selalu terisi, makanan yang selalu tersedia, senyum yang tidak dibuat-buat, dan tatapan yang mengerti sebelum orang selesai bercerita.
Perpaduan Ayah dan Ibu membuat rumah di Siborong-borong tidak pernah terasa seperti bangunan biasa. Ia menjadi rumah pusaka dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya karena ada tanah dan dinding yang diwariskan, tetapi karena ada nilai yang tinggal di dalamnya. Ada keberanian Ayah. Ada keteduhan Ibu. Ada aktivisme sosial. Ada pendidikan. Ada gereja. Ada tawa. Ada musik. Ada dapur. Ada doa. Ada kasih yang tidak pernah meminta tepuk tangan.
Paniaran, Kebun Kasih dan Pengabdian Ibu

Waktu kemudian membawa babak baru.
Pada tahun 2010, Ayah berpulang ke pangkuan Pencipta. Kepergian beliau meninggalkan ruang hening yang besar. Rumah yang dulu sering ramai oleh suara gitar dan tawa mendadak terasa lebih pelan. Setahun kemudian, pada tahun 2011, Ibu memutuskan pindah dan menetap di Paniaran, sebuah daerah sejuk ke arah Tarutung. Di sanalah Ibu tinggal selama 14 tahun, hingga tahun 2025 yang lalu.
Paniaran menjadi babak kedua pengabdian Ibu. Jika Siborong-borong adalah panggung kebersamaan Ayah dan Ibu, maka Paniaran menjadi ruang sunyi yang perlahan diubah Ibu menjadi taman kehidupan. Beliau tetap aktif dalam kegiatan sosial gereja dan komunitas warga sekitar. Secara khusus, Ibu mendedikasikan waktunya untuk membantu membina keluarga-keluarga muda. Banyak pasangan muda datang dengan masalah rumah tangga, kekhawatiran ekonomi, pergumulan anak, atau sekadar butuh tempat bercerita. Ibu mendengarkan. Ibu menasihati. Ibu menenangkan. Ibu membantu mereka membangun pondasi keluarga yang lebih kuat.
Selain aktif secara sosial, Ibu juga punya tangan dingin untuk tanah. Pekarangan rumah di Paniaran diubahnya menjadi surga kecil yang hijau. Bunga-bunga tumbuh cantik. Buah-buahan hidup subur. Ada nanas, nangka, buah naga, alpukat, dan berbagai tanaman lain yang dirawat dengan sabar. Bagi Ibu, kebun bukan sekadar tempat menanam. Kebun adalah ruang kasih. Tempat beliau mencurahkan perhatian, menunggu hasil, lalu membagikannya dengan bangga kepada anak dan cucu.
Setiap kali kami datang berkunjung, Ibu selalu punya ritual yang sama. Dengan senyum khas dan suara penuh semangat, beliau akan berkata, “Rasakan dulu buah ini, manis-manis dan enak-enak, nggak ada seperti ini di Jakarta.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi kami sangat mahal. Karena yang ditawarkan Ibu sebenarnya bukan hanya buah. Yang beliau sajikan adalah kasih sayang yang tumbuh dari tanah. Anak dan cucu-cucunya biasanya langsung berhamburan ke kebun belakang. Nanas dipotong. Nangka dibuka. Buah yang baru diambil dari pohonnya disantap di bawah udara Paniaran yang sejuk. Rasanya memang manis. Tetapi yang membuatnya tidak terlupakan bukan hanya rasa buahnya. Ada cinta Ibu di dalamnya. Ada kebanggaan seorang ibu yang ingin anak cucunya tahu bahwa kampung halaman selalu punya sesuatu yang tidak bisa dibeli di kota besar.
Sai tong ma tarida di roha. Hal-hal seperti itu tetap terlihat di hati, bahkan setelah orangnya tiada.
Kini, setelah Ayah dan Ibu sudah tiada, tongkat estafet untuk merawat warisan luhur mereka terbagi dengan indah antar-generasi. Rumah utama keluarga besar yang penuh kenangan di Siborong-borong mulai dikelola secara lebih profesional oleh generasi cucu melalui yayasan yang dibentuk bersama. Sementara itu, rumah yang teduh di Paniaran tetap dipegang dan dikelola langsung oleh anak-anaknya.
Bagi kami, ini bukan hanya urusan aset keluarga. Ini adalah urusan amanah. Rumah tidak boleh hanya menjadi bangunan yang sesekali dibuka saat liburan. Kebun tidak boleh hanya menjadi tanah yang dikenang dalam foto lama. Kegiatan sosial peninggalan orang tua tidak boleh berhenti hanya karena generasi berganti. Justru di situlah tantangan keluarga besar masa kini: bagaimana mengubah nostalgia menjadi tanggung jawab, dan mengubah warisan menjadi manfaat.
Dalam kunjungan dua hari kemarin, saya dan istri juga menyempatkan diri berziarah ke makam keluarga yang terletak di belakang rumah kakek dan nenek kami, Op. J.L. Nababan dan Dora Tobing, di Jalan Sisingamangaraja No. 139, Siborong-borong. Rumah inilah yang selama 25 tahun menjadi tempat Ayah dan Ibu saya tinggal, menjaga aset keluarga, merawat hubungan dengan masyarakat sekitar, sekaligus menjadi simpul pulang bagi anak dan cucu-cucunya.
Ziarah itu terasa sangat pribadi. Di depan makam keluarga, waktu seperti melambat. Kita berdiri bukan hanya sebagai anak, cucu, atau keturunan, tetapi sebagai bagian dari mata rantai panjang kehidupan. Ada nama-nama yang mendahului kita. Ada perjuangan yang tidak selalu kita lihat. Ada doa-doa yang mungkin dulu dipanjatkan tanpa pernah kita dengar, tetapi buahnya kita nikmati hari ini.
Di tempat seperti itu, manusia biasanya menjadi lebih jujur. Kita diingatkan bahwa perjalanan hidup tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang-orang sebelum kita yang membuka jalan, menanam nilai, menanggung kesulitan, dan menitipkan nama baik keluarga untuk dijaga. Maka ziarah bukan sekadar menundukkan kepala di depan makam. Ziarah adalah cara untuk mengingat bahwa keberhasilan di rantau tidak boleh membuat kita lupa pada akar.
Kampung yang Berubah, Akar yang Tetap Hidup
Pulang kampung kali ini juga membuka mata kami bahwa Tapanuli Utara sedang berubah. Perubahan itu terasa sejak dari bandara. Silangit kini membuat akses ke Siborong-borong, Balige, Tarutung, dan kawasan Danau Toba menjadi lebih cepat. Dulu, pulang kampung membutuhkan perjalanan panjang yang melelahkan. Kini, dalam beberapa jam saja, perantau bisa kembali menghirup udara tanah asal.
Kemudahan akses itu membawa dampak besar. Pariwisata bergerak. Hotel-hotel baru muncul. Tempat istirahat semakin bagus. Kafe-kafe modern hadir dengan desain yang rapi. Penginapan tumbuh di sekitar kawasan Danau Toba. Namun yang menarik, perubahan itu tidak sepenuhnya menghapus karakter lokal. Masih ada sawah. Masih ada pedagang kecil. Masih ada suara bahasa Batak di warung kopi. Masih ada orang yang menyapa spontan, “Ise do ho? Anak ni ise?” Sebuah pertanyaan klasik yang bagi orang Batak bukan interogasi, tetapi cara menyambungkan kembali garis keluarga.
Anak-anak muda di kampung juga terlihat semakin percaya diri. Mereka tidak lagi hanya melihat kampung sebagai tempat yang harus ditinggalkan. Banyak yang mulai mempromosikan produk lokal lewat dunia digital. Kain tenun ulos tampil lebih segar. Kopi Siborong-borong mulai mendapat ruang baru. Cerita tentang Danau Toba, kebun, kuliner, dan budaya lokal bergerak melalui media sosial. Generasi muda mulai memahami bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar. Justru akar itulah yang membuat mereka berbeda.
Potensi masa depan daerah ini besar. Agrowisata bisa dikembangkan dengan serius. Kebun-kebun produktif seperti yang dulu dirawat Ibu di Paniaran bisa menjadi inspirasi. Jalan-jalan penghubung perlu terus dibenahi. Usaha kecil masyarakat perlu didampingi dengan modal, desain, pemasaran, dan literasi digital. Produk lokal perlu naik kelas tanpa kehilangan jiwa lokalnya. Ulos tidak boleh hanya menjadi cendera mata. Kopi tidak boleh hanya menjadi minuman. Keduanya bisa menjadi identitas ekonomi, budaya, dan kebanggaan daerah.
Namun kemajuan selalu membawa pertanyaan penting: apakah semua orang ikut naik, atau hanya sebagian yang menikmati?
Satu hal yang membuat kami takjub adalah suasana kontras yang kini terlihat semakin rapi. Di satu sisi, hotel dan kafe modern berdiri estetis di pinggir hamparan sawah hijau. Di sisi lain, penginapan mewah tumbuh di tepian Danau Toba yang indah. Tetapi di sela-sela modernitas itu, pedagang kaki lima masih tetap hidup. Mereka masih menjajakan dagangan. Mereka masih menjadi bagian dari denyut ekonomi lokal. Mereka tidak tersingkir sepenuhnya oleh bangunan besar.
Dalam sebuah obrolan hangat dengan seorang sintua gereja setempat, beliau berkata, “Lihatlah kampung kita sudah maju. Tapi hotel besar dan pedagang kecil di pinggir jalan bisa hidup berdampingan dan saling mendukung. Dari sinilah semua orang bisa sama-sama dapat rezeki.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam. Kemajuan yang sehat memang bukan kemajuan yang membuat yang kecil merasa asing di tanahnya sendiri. Kemajuan yang baik adalah kemajuan yang memberi ruang. Hotel boleh tumbuh. Kafe boleh modern. Penginapan boleh indah. Tetapi pedagang kecil, petani, penenun, pemilik warung, sopir, pemuda kampung, dan keluarga-keluarga lokal juga harus ikut mendapat manfaat.
Di sinilah harmoni menjadi kata kunci. Tanah Batak tidak boleh kehilangan rohnya hanya karena ingin terlihat modern. Sawah tidak boleh dikorbankan tanpa arah. Udara bersih tidak boleh rusak oleh pembangunan yang tergesa-gesa. Danau Toba tidak boleh hanya menjadi latar foto, tetapi harus dijaga sebagai sumber kehidupan. Jalan boleh diperlebar, tetapi hati masyarakat jangan dipersempit. Ekonomi boleh tumbuh, tetapi solidaritas sosial harus tetap hidup.
Di Tanah Inilah Hati Menemukan Asalnya

Bagi saya, inilah keindahan Bona Pasogit hari ini. Ia sedang bergerak, tetapi belum kehilangan dirinya. Ia mulai modern, tetapi masih menyimpan suara lama. Ia membuka diri untuk wisatawan, investor, dan perantau, tetapi tetap memeluk orang-orang kecil yang sejak dulu hidup dari tanah itu. Ia mengajarkan bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa duduk semeja, seperti kopi panas dan buah nanas dari kebun Ibu; berbeda rasa, tetapi sama-sama menghangatkan.
Perjalanan pulang kampung kali ini akhirnya bukan hanya perjalanan keluarga. Ia menjadi perjalanan batin. Dari Bandara Silangit yang menyimpan jejak sejarah perang, kami diingatkan bahwa tanah ini pernah melewati zaman keras. Dari rumah pusaka di Siborong-borong, kami diingatkan bahwa keluarga besar hanya bisa bertahan jika ada yang setia menjaga. Dari kebun Paniaran, kami diingatkan bahwa kasih sayang sering kali tumbuh pelan, seperti buah yang matang pada waktunya. Dari makam keluarga di belakang rumah Op. J.L. Nababan dan Dora Tobing, kami diingatkan bahwa hidup ini adalah titipan yang harus dijalani dengan hormat. Dari hotel, kafe, sawah, dan pedagang kecil, kami diingatkan bahwa masa depan daerah harus dibangun dengan keseimbangan.
Mungkin itulah makna pulang yang sesungguhnya. Pulang bukan hanya kembali ke tempat asal. Pulang adalah mengingat siapa yang membentuk kita. Pulang adalah melihat kembali nilai yang pernah ditanamkan orang tua. Pulang adalah bertanya, setelah semua pencapaian di rantau, apa yang bisa kita rawat di tanah asal?
Anak dan cucu boleh tumbuh di kota besar. Mereka boleh bekerja di gedung tinggi, belajar di sekolah modern, berbicara dengan bahasa global, dan hidup dengan teknologi digital. Tetapi mereka tetap perlu punya jangkar. Mereka perlu tahu dari mana nama keluarga berasal. Mereka perlu merasakan dinginnya udara Silangit. Mereka perlu melihat makam leluhur. Mereka perlu mendengar cerita tentang Ompung, tentang Ayah yang bernyanyi dengan gitar dan harmonika, tentang Ibu yang memanggil cucu-cucunya ke kebun untuk mencicipi nanas dan nangka.
Karena tanpa cerita seperti itu, manusia mudah menjadi pintar tetapi tercerabut. Modern tetapi kosong. Sibuk tetapi kehilangan arah.
Di ujung perjalanan, ketika udara kembali dingin dan jalan kampung mulai sepi, saya teringat satu hal: kemajuan terbesar sebuah daerah bukan hanya ketika hotelnya bertambah, jalannya membaik, atau wisatanya ramai. Kemajuan terbesar terjadi ketika anak-anaknya tetap ingin pulang, ketika cucu-cucunya tetap bangga menyebut asal-usulnya, ketika orang kecil tetap punya tempat, ketika alam tetap dijaga, dan ketika nilai orang tua tetap hidup dalam cara generasi berikutnya mengambil keputusan.
Itulah harmoni manis Bona Pasogit.
Siborong-borong telah berubah. Paniaran tetap meneduhkan. Silangit makin terbuka. Danau Toba terus memanggil dari kejauhan. Tetapi di balik semua perubahan itu, satu hal tidak boleh hilang: kasih yang mengikat anak, cucu, orang tua, leluhur, tanah, dan masa depan.
Horas, Bona Pasogit. Sai tubu ma angka na uli sian tano on. Sai marsipature hutanabe hita. Semoga dari tanah ini terus tumbuh kebaikan, keberanian, dan kasih yang membuat siapa pun yang pulang selalu merasa diterima.
Sebab sejauh apa pun langkah membawa kita pergi, ada satu tanah yang selalu tahu cara memanggil pulang.
Ai di tano on do mula ni roha. Di tanah inilah hati menemukan asalnya.